Indeks News – Di tengah situasi bencana alam yang masih melanda Kota Padang, Sumatera Barat, masyarakat kembali diguncang oleh peristiwa yang memicu keprihatinan mendalam. Sebuah dugaan perbuatan asusila berupa hubungan sesama jenis di WC Masjid Bungus Teluk Kabung mencuat ke permukaan dan mengundang keresahan luas.
Peristiwa dugaan perbuatan asusila berupa hubungan sesama jenis di WC Masjid Bungus Teluk Kabung terjadi pada Senin siang, 15 Desember 2025, di lingkungan rumah ibadah yang seharusnya dijaga kesucian dan kehormatannya oleh seluruh masyarakat.
Kejadian hubungan sesama jenis di WC Masjid Bungus Teluk Kabung tersebut dinilai sebagai ironi sosial dan moral, terlebih terjadi di saat warga Kota Padang tengah berjuang menghadapi dampak bencana yang melanda sejumlah wilayah.
Dalam peristiwa itu, dua pria diduga melakukan hubungan sesama jenis di kamar mandi WC masjid, sebuah tindakan yang mengejutkan dan menimbulkan keresahan warga sekitar karena dilakukan di ruang publik sekaligus di area rumah ibadah umat Islam.
Kejadian tersebut sontak memicu kemarahan dan kecemasan warga, mengingat masjid memiliki nilai sakral dalam kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat Minangkabau.
Berdasarkan informasi yang dihimpun dari lapangan, dua pria berinisial S (58) dan L (18) diamankan oleh warga setelah gerak-gerik mereka menimbulkan kecurigaan.
S diketahui berstatus sebagai aparatur sipil negara (ASN/PNS) yang berprofesi sebagai guru di Kota Padang, sementara L merupakan warga setempat di Kecamatan Bungus Teluk Kabung.
Keduanya diduga berada cukup lama di area kamar mandi masjid pada saat aktivitas ibadah dan kegiatan warga masih berlangsung.
Kecurigaan warga bermula ketika sejumlah jamaah dan masyarakat sekitar melihat aktivitas yang dianggap tidak wajar di area WC masjid.
Setelah dilakukan pengawasan secara spontan, dugaan perbuatan tidak senonoh tersebut akhirnya terungkap.
Warga kemudian mengamankan kedua pria tersebut guna mencegah pelarian dan menghindari reaksi massa yang tidak terkendali, sekaligus menjaga situasi tetap kondusif.
Guna menghindari aksi main hakim sendiri, masyarakat setempat segera melaporkan kejadian itu kepada Polsek Bungus Teluk Kabung.
Menindaklanjuti laporan tersebut, aparat kepolisian langsung turun ke lokasi kejadian untuk mengamankan situasi, melakukan pemeriksaan awal, serta mengumpulkan keterangan dari para saksi.
Kapolsek Bungus Teluk Kabung, AKP Syamsurijal, S.H., membenarkan adanya peristiwa dugaan hubungan sesama jenis di lingkungan masjid tersebut.
Ia menjelaskan bahwa setelah menerima laporan dari warga, personel kepolisian segera mendatangi lokasi guna mengamankan kedua terduga, mengumpulkan barang bukti, serta memastikan penanganan dilakukan sesuai prosedur hukum yang berlaku.
“Benar, kami menerima laporan dari masyarakat terkait dugaan perbuatan asusila di WC masjid. Personel langsung ke lokasi untuk mengamankan situasi dan membawa kedua terduga guna pemeriksaan lebih lanjut,” ujar AKP Syamsurijal.
Sementara itu, seorang tokoh masyarakat Bungus Teluk Kabung, H. Ahmad Rasyid, mengaku sangat menyayangkan terjadinya peristiwa tersebut.
Menurutnya, tindakan yang diduga dilakukan di lingkungan rumah ibadah itu telah mencederai nilai-nilai agama dan adat yang selama ini dijunjung tinggi oleh masyarakat setempat.
“Kami sangat prihatin dan menyayangkan kejadian ini. Masjid adalah tempat ibadah yang harus dijaga kesuciannya. Perbuatan yang bertentangan dengan norma agama dan adat tentu menimbulkan keresahan di tengah masyarakat,” ujarnya, Selasa (16/12/2025).
Ia menegaskan bahwa masyarakat Bungus Teluk Kabung berpegang teguh pada falsafah adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah, sehingga setiap perilaku di ruang publik, terlebih di rumah ibadah, diharapkan mencerminkan etika, moral, dan tanggung jawab sosial.
Lebih lanjut, H. Ahmad Rasyid mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak terpancing emosi. Ia meminta agar seluruh pihak mempercayakan sepenuhnya penanganan kasus ini kepada aparat penegak hukum dan pemerintah daerah.
“Kejadian ini harus menjadi peringatan bersama. Pengawasan sosial perlu diperkuat, dan peran keluarga, tokoh agama, serta tokoh adat sangat penting dalam memberikan pembinaan moral kepada generasi muda agar peristiwa serupa tidak terulang kembali,” pungkasnya.




