Indeks News – Sejak perjuangan kemerdekaan 1945, Indonesia memegang teguh prinsip bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa. Prinsip ini bukan sekadar kalimat indah dalam pembukaan UUD 1945, tetapi menjadi kompas moral yang mengarahkan sikap bangsa ini terhadap dunia — termasuk pada Palestina.
Bagi Indonesia, membela Palestina bukan sekadar pilihan politik, tetapi amanat sejarah, nurani, dan iman.
1. Luka Penjajahan yang Sama
Indonesia pernah merasakan getirnya hidup di bawah penjajahan. Penderitaan itu membuat bangsa ini paham betapa berharganya kemerdekaan. Itulah sebabnya konstitusi menegaskan: penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.
2. Ikatan Keagamaan yang Tak Terputus
Indonesia adalah negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia. Yerusalem — kota suci tiga agama besar: Islam, Nasrani, dan Yahudi — menyimpan Masjid Al-Aqsa, kiblat pertama umat Islam dan tempat Rasulullah SAW melakukan Isra’ Mi’raj. Bagi banyak Muslim Indonesia, ikatan ini bukan sekadar sejarah, tetapi perasaan yang menembus batas bendera dan jarak.
3. Balas Budi yang Tak Terlupakan
Sedikit yang tahu, Palestina sudah menunjukkan dukungannya pada kemerdekaan Indonesia jauh sebelum proklamasi diakui dunia. Pada 4 September 1944, Palestina menyatakan dukungan atas kemerdekaan Indonesia. Sejak itu, tali solidaritas kedua bangsa semakin kokoh.
Namun, di sisi lain konflik, kehidupan di Israel tengah bergolak. Perang di Gaza bukan hanya memakan korban jiwa, tetapi juga menimbulkan perdebatan tajam di dalam negeri.
4. Gelombang Protes Terbesar di Israel
Akhir pekan lalu, puluhan ribu warga Israel turun ke jalan di berbagai kota menentang kebijakan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu yang memperluas operasi militer ke Jalur Gaza. Mereka khawatir, langkah ini justru membahayakan sekitar 50 sandera Israel yang masih ditahan Hamas.
Kisah keluarga sandera memilukan. Gil Dickmann kehilangan sepupunya, Carmel Gat, yang dieksekusi Hamas setelah pasukan Israel menyerbu Rafah. Naama Shueka, sepupu sandera lain, memohon agar perang dihentikan: “Tolong hentikan pertempuran. Tolong selamatkan orang yang kami cintai.”
5. Dukungan Negosiasi yang Meningkat Drastis
Survei Israel Democracy Institute menunjukkan perubahan besar dalam opini publik. Pada Oktober 2023, hanya 17% warga mendukung negosiasi demi membebaskan sandera meski perang harus dihentikan. Menjelang setahun serangan Hamas, angka itu melonjak menjadi 53%. Juli lalu, survei Channel 12 mencatat 74% warga Israel setuju pemerintah bernegosiasi demi membebaskan seluruh sandera.
6, Empati yang Terbelah
Meski mayoritas ingin sandera diselamatkan, survei IDI mengungkap 79% warga Yahudi Israel mengaku tidak atau kurang terganggu oleh laporan kelaparan dan penderitaan di Gaza. Sebaliknya, 86% warga Arab Israel merasa sangat terganggu. Hanya 6% responden yang menganggap perang harus diakhiri demi mengurangi korban jiwa dan mencapai perdamaian.
7, Harapan Damai yang Memudar
Penelitian Pew Research Center pada Maret 2025 menunjukkan hanya 21% warga Israel percaya negaranya dan Palestina bisa hidup berdampingan damai — terendah sejak 2013. Sebagian akademisi, seperti Tamir Sorek, menilai sikap ekstrem terhadap Palestina kini menjadi arus utama.
Kemanusiaan seharusnya tak berpihak pada satu bendera saja.
Indonesia, dengan sejarah panjang melawan penjajahan, melihat penderitaan Palestina sebagai luka bersama. Di Israel sendiri, meski empati terhadap warga Gaza rendah, gelombang protes demi membebaskan sandera menunjukkan bahwa nurani manusia masih berjuang untuk berbicara di tengah hiruk pikuk perang.




