Guru Beban Negara, PGRI Menyayangkan Pernyataan Menkeu Sri Mulyani

Indeks News – Guru beban negara! Itulah pernyataan Menteri Keuangan Sri Mulyani yang cukup viral saat ini, pernyataan itu pun melukai perasaan jutaan guru di Indonesia. Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) menyatakan kekecewaan mendalam atas pernyataan dimaknai publik seolah-olah profesi guru dianggap sebagai “beban negara”.

Bagi para pendidik, ucapan tersebut terasa menyesakkan, terlebih jika melihat realitas di lapangan: ribuan guru honorer masih berjuang dalam keterbatasan, namun tetap setia mengabdi demi masa depan bangsa.

Ketua Badan Khusus Komunikasi dan Digitalisasi Organisasi PGRI, Wijaya, menegaskan bahwa pernyataan tersebut “berlebihan dan menyakitkan”. Menurutnya, justru guru—terutama yang berstatus honorer di pelosok—selama ini menjadi garda terdepan dalam mencerdaskan anak bangsa.

“Kalau mau disebut beban negara, yang patut disebut beban negara adalah mereka yang menghabiskan uang negara tanpa tanggung jawab, seperti para koruptor,” tegas Wijaya, Selasa (19/8).

Fakta Jumlah Guru Honorer

Data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah tahun 2022 mencatat, Indonesia masih memiliki 704.503 guru honorer. Di luar itu, terdapat 141.724 guru tidak tetap (GTT) kabupaten/kota serta 13.328 GTT provinsi.

Untuk menekan kesenjangan, pemerintah telah mengangkat 774.999 guru menjadi ASN PPPK hingga awal 2024. Targetnya, jumlah itu akan menyentuh 1 juta guru PPPK. Bahkan, jabatan guru kini mendominasi ASN PPPK secara nasional dengan sekitar 770 ribu orang.

Namun, persoalan belum selesai. Pemerataan guru di daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T) masih jauh dari ideal. Secara nasional, rasio murid dan guru memang cukup baik di angka 16:1, tetapi distribusinya tidak merata. Banyak guru di pelosok harus mengajar lintas mata pelajaran karena keterbatasan tenaga pendidik.

Potret Pengabdian di Pelosok Negeri

Di balik angka-angka tersebut, terdapat kisah nyata penuh pengorbanan yang menggugah hati.

  • Di Sigi, Sulawesi Tengah, guru SMPN 16 mendaki bukit dan menyambangi rumah-rumah siswa hingga tiga kali seminggu. Semua itu dilakukan karena ketiadaan internet dan listrik di daerah mereka.
  • Di Musi Rawas Utara, Sumatera Selatan, seorang guru honorer bernama Rudi Hartono setiap hari menyeberangi sungai dengan rakit bambu. Ketika arus deras, ia bahkan menggendong muridnya agar tetap bisa sampai ke sekolah.
  • Di Lebak, Banten, Jubaedah selama 30 tahun berjalan kaki menembus hutan. Ia pernah terperosok ke jurang, tetapi tetap melanjutkan tugas mulia: memastikan anak-anak desanya tidak putus sekolah.

Kisah-kisah ini menunjukkan bahwa pengabdian guru jauh lebih kuat dari stigma “beban negara”.

Pemerintah sebenarnya telah menetapkan tunjangan khusus setara satu kali gaji pokok bagi guru di daerah sangat tertinggal. Namun, realisasinya masih terhambat, baik dari sisi distribusi anggaran maupun ketepatan sasaran.

Menurut PGRI, negara seharusnya lebih serius dalam memastikan kesejahteraan guru. Bukan hanya dengan regulasi di atas kertas, tetapi melalui kebijakan yang benar-benar menyentuh kebutuhan riil para pendidik di lapangan.

Guru Adalah Penopang Bangsa Bukan Beban Negara

Wijaya menutup pernyataannya dengan mengingatkan bahwa profesi guru bukan sekadar pekerjaan, melainkan panggilan pengabdian. Para guru mendidik lebih dari 62 juta murid di seluruh Indonesia, meski banyak di antara mereka hidup tanpa bayaran yang layak.

“Guru bukan beban negara. Mereka adalah pilar utama yang menopang masa depan bangsa. Dukungan penuh dari negara adalah kewajiban, bukan pilihan,” ujar Wijaya.

GoogleNews

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses