Wasiat Epy Kusnandar Minta Dimakamkan di Garut, Sang Anak Ungkap Pesan Ayahnya

Indeks News – Nama Epy Kusnandar sudah lama dikenal publik lewat perannya yang khas di layar kaca. Namun, di balik sosoknya yang sering mengundang tawa, tersimpan kisah hidup penuh perjuangan, rasa syukur, sekaligus kerinduan mendalam pada kampung halamannya di Garut, Jawa Barat.

Beberapa waktu terakhir, aktor berusia 61 tahun ini kerap melontarkan keinginan untuk dimakamkan di tanah kelahirannya. Ucapan itu sempat menimbulkan tanda tanya: apakah kondisi kesehatannya memburuk?

Penjelasan Sang Anak: Kondisi Ayah Baik-Baik Saja

Ditemui di Gedung Teater Luwes IKJ, Jakarta Pusat, Senin (18/8), Damar Rizal Marzuki, putra Epy Kusnandar, memastikan sang ayah sehat.

“Soal kesehatan, dari kemarin-kemarin sebenarnya sehat-sehat aja,” ujarnya.

Epy Kusnandar memang pernah melewati masa sulit ketika menderita sakit pada mata dan juga sempat mengalami gangguan di otak. Namun, menurut Damar, semua itu sudah dilewati dengan baik.

“Selama proses itu, Papa sembuh dan sembuh terus,” jelasnya.

Kini, Epy Kusnandar lebih memilih menjalani hidup dengan tenang, melakukan hal-hal yang ia sukai tanpa memaksakan diri.

Tentang Wasiat Epy Kusnandar Dimakamkan di Garut

Ucapan Epy tentang keinginan dimakamkan di Garut rupanya tak lepas dari profesinya sebagai aktor. Menurut Damar, ayahnya kerap terbawa karakter yang sedang ia perankan.

“Ketika Papa terlibat dalam satu peran, selalu itu yang diolah, biar enggak lepas dari karakter,” tutur Damar.

Belakangan, Epy Kusnandar memerankan tokoh yang sering berbicara soal kematian dan meninggalkan pesan terakhir. Dari situlah kalimat mengenai wasiat pemakaman terlontar.

Meski demikian, Damar tak menampik bahwa keinginan itu juga dipengaruhi rasa rindu ayahnya pada kampung halaman, terutama pada almarhumah ibunya.

“Ya wajar kalau ingin dimakamkan di Garut. Itu bukan permintaan yang aneh, karena mungkin Papa rindu kampung halaman dan ibunya,” ujarnya.

Momen Kelam: Vonis Empat Bulan Hidup

Ucapan Epy tentang kematian seolah mengingatkan kembali pada masa kelam tahun 2011. Kala itu, ia divonis mengidap kanker otak stadium akhir. Dokter bahkan memprediksi usianya hanya tersisa empat bulan.

“Setiap tahun, saya selalu mengingat momen itu. Dari usia 52 ke 53, terus ke 54, saya pikir, ‘Apakah saya masih ada?’ Sekarang sudah 61, dan saya sadar umur itu sebenarnya berkurang, bukan bertambah,” kenang Epy.

Meski sempat murung dan menangis karena vonis tersebut, Epy memilih untuk tegar. Ia menenangkan diri, menghindari pikiran berat, dan perlahan pulih dari penyakit mematikan itu.

“Alhamdulillah, saya bisa sembuh. Kuncinya adalah menenangkan diri dan tidak terlalu banyak berpikir yang berat,” ucapnya penuh syukur.

Syukur di Usia Senja

Kini, setelah melewati masa sulit dan tetap bisa berkarya, Epy memandang hidup dengan lebih sederhana. Ia tak lagi terlalu jauh memikirkan masa depan. Baginya, bisa bangun setiap pagi dalam keadaan sehat adalah anugerah besar.

Meski cerita tentang keinginannya dimakamkan di Garut sempat membuat banyak orang khawatir, sesungguhnya Epy hanya sedang merefleksikan hidupnya, usianya, dan rasa rindunya pada tanah kelahiran.

Kerinduan itu begitu manusiawi. Setelah sekian lama hidup dan berkarier di Jakarta, Garut tetap menjadi rumah tempat ia ingin kembali suatu hari nanti.

GoogleNews

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses