Indeks News – Gustika Jusuf Hatta, cucu dari proklamator Bung Hatta, menjadi sorotan tajam dalam peringatan Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia pada 17 Agustus 2025. Bukan hanya karena penampilannya dengan busana penuh simbolisme, tetapi juga lantang menyebut Indonesia kini dipimpin oleh “presiden penculik dan wakil anak haram konstitusi”.
Di tengah riuh perayaan kemerdekaan, Gustika Jusuf Hatta tampil berbeda. Ia memilih kebaya hitam dipadu batik slobog, kain tradisional Jawa yang sarat makna duka. Pilihan itu bukan sekadar estetika, melainkan bentuk protes diam terhadap kondisi bangsa.
“Ini simbol duka, simbol perlawanan,” ungkapnya dalam keterangan publik.
Ia bahkan menegaskan akan mempertahankan busana duka tersebut selama lima tahun ke depan, sebagai tanda keprihatinannya terhadap situasi politik dan demokrasi di Indonesia.
Pendidikan Tinggi Gustika Jusuf Hatta dan Kiprah Internasional
Sosok Gustika bukanlah pribadi biasa. Jejak akademiknya panjang dan mengesankan. Ia pernah menempuh pendidikan di Sciences Po Lyon, Prancis, lalu melanjutkan studi ke King’s College London hingga meraih gelar Bachelor of Arts (Hons) di bidang War Studies.
Ia juga mengikuti kursus singkat di University of Oxford dan Sotheby’s Institute of Art, serta kini tengah menyelesaikan program Master of Advanced Studies di Geneva Academy of International Humanitarian Law and Human Rights.
Kecintaan pada isu global membuat Gustika aktif sejak remaja di forum-forum internasional. Tahun 2012, ia menjadi delegasi muda di Konferensi Perubahan Iklim PBB di Doha. Setahun setelahnya, ia magang di Delegasi Indonesia untuk UNESCO Youth Forum. Kariernya berlanjut dengan keterlibatan di forum pemuda PBB, UNFPA Indonesia, hingga bekerja sebagai peneliti di lembaga HAM Imparsial.
Kritik Pedas untuk Pemerintah
Di balik simbolisme busana, Gustika juga mengeluarkan pernyataan keras. Dalam unggahan di media sosialnya, ia menyebut Indonesia kini dipimpin oleh “presiden penculik” dan “wakil anak haram konstitusi”.
Istilah “presiden penculik” merujuk pada kasus penculikan aktivis pro-demokrasi menjelang tumbangnya Orde Baru, kasus yang hingga kini belum tuntas. Sedangkan frasa “anak haram konstitusi” diarahkan pada Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, yang pencalonannya lahir dari putusan kontroversial Mahkamah Konstitusi.
Reaksi Publik yang Terbelah
Ucapan keras Gustika menuai gelombang reaksi. Sebagian publik menilai keberaniannya patut diapresiasi, melihatnya sebagai suara nurani generasi muda yang peduli pada demokrasi dan HAM. Namun tidak sedikit pula yang menilai kata-katanya terlalu kasar dan berpotensi mencederai wibawa institusi negara.
Meski demikian, Gustika tetap teguh. Ia tidak hanya berbicara, tetapi juga mengekspresikan sikapnya melalui simbol budaya dan sejarah keluarga besarnya. Sebagai cucu Bung Hatta—ikon kejujuran dan demokrasi—kehadirannya membawa dimensi emosional tersendiri di tengah peringatan kemerdekaan bangsa.
Keberanian Gustika Jusuf Hatta menjadi pengingat bahwa kritik bukan monopoli politisi atau aktivis. Dari seorang perempuan muda dengan pendidikan internasional, kritik tajam lahir sebagai wujud kepedulian pada tanah air.
Melalui busana hitam dan kata-kata yang mengguncang, ia mengajak bangsa merenung: apakah Indonesia masih setia pada cita-cita demokrasi, keadilan, dan penghormatan terhadap hak asasi manusia?




