Istana Presiden Yaman Jadi Sasaran Utama Serangan Militer Israel

Indeks News – Langit ibu kota Yaman, Sana’a, kembali diliputi dentuman keras dan cahaya merah menyala. Pada malam itu, udara berubah mencekam ketika militer Israel mengumumkan serangan besar-besaran dengan target utama Istana Presiden Yaman. Ledakan bertubi-tubi terdengar, membuat warga di sekitar kota berlarian mencari tempat aman.

Serangan ini bukan tanpa sebab. Israel mengaku gagal mencegat rudal balistik kelompok Houthi yang diluncurkan Jumat pekan lalu. Rudal tersebut, menurut penyelidikan militer Israel, membawa hulu ledak klaster dan sebagian menghantam rumah-rumah warga di Tel Aviv. Kegagalan ini menjadi pemicu kemarahan militer, hingga keputusan serangan ke jantung ibu kota Yaman pun diambil.

Istana Presiden Yaman dan Infrastruktur Jadi Target

Media Israel, seperti Channel 14 dan Channel 13, melaporkan bahwa istana presiden di Sana’a menjadi sasaran paling utama. Di dalam kompleks istana, situs militer, depot bahan bakar, hingga dua pembangkit listrik ikut dihantam bom udara. Tak berhenti di situ, angkatan udara Israel juga menargetkan pangkalan rudal di dekat istana.

Koresponden Al Jazeera menambahkan, setidaknya tiga serangan udara menghantam daerah Attan di barat daya Sana’a. Bahkan, media yang berafiliasi dengan Ansar Allah menyebut serangan turut mengenai stasiun perusahaan minyak, fasilitas yang jelas berhubungan langsung dengan kehidupan sipil masyarakat Yaman.

Militer Israel dalam pernyataannya menegaskan bahwa serangan kali ini adalah sebuah pesan.

“Serangan terhadap istana presiden adalah peringatan kepada Houthi bahwa posisi kekuasaan mereka berada dalam jangkauan kami,” bunyi pernyataan resmi yang dirilis.

Namun, nada berbeda datang dari pihak Ansar Allah. Anggota Biro Politiknya, Mohammed al-Farah, mengecam serangan Israel. Ia menegaskan bahwa yang menjadi korban justru warga sipil, serupa dengan tragedi yang terjadi di Gaza.

Netanyahu dan Para Jenderal Memantau dari Markas

Pemerintah Israel menempatkan perhatian penuh pada operasi ini. Dari markas besar Kementerian Pertahanan, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu bersama Menteri Pertahanan Israel Katz dan Kepala Staf Eyal Zamir memantau jalannya serangan. Sorot kamera media setempat memperlihatkan ketiganya duduk serius di ruang kendali, seolah sedang mengatur jalannya pertempuran dari jarak ribuan kilometer.

Ketegangan antara Israel dan kelompok Houthi sebenarnya telah meningkat sejak beberapa bulan terakhir. Hanya beberapa jam sebelum serangan ke Sana’a, tentara Israel berhasil mencegat sebuah pesawat tak berawak yang ditembakkan dari Yaman. Sirene serangan udara bahkan berbunyi di wilayah sekitar Jalur Gaza.

Puncaknya terjadi pada Jumat lalu, ketika rudal balistik dari Yaman lolos dari sistem pertahanan Iron Dome. Serangan itu membuat lalu lintas udara di Bandara Ben Gurion, Tel Aviv, dihentikan sementara. Layanan ambulans Israel juga melaporkan adanya korban luka karena kepanikan warga yang berlarian menuju tempat perlindungan.

Ketegangan ini berakar dari sikap kelompok Houthi yang terang-terangan mendukung perjuangan rakyat Palestina. Pada 27 Juli, Houthi mengumumkan peningkatan operasi angkatan laut terhadap Israel.

Mereka berjanji menargetkan kapal-kapal milik perusahaan yang berhubungan dengan pelabuhan Israel, tanpa memandang kebangsaan pemilik kapal tersebut. Semua ini, menurut Houthi, adalah bentuk solidaritas terhadap Gaza yang mereka sebut “telah menjadi korban perang genosida sejak 7 Oktober 2023.”

Serangan ke Sana’a kali ini meninggalkan pertanyaan besar: apakah ini akan menjadi titik awal eskalasi lebih besar antara Israel dan Yaman? Atau sekadar “pesan” militer yang berisiko menyeret lebih banyak korban sipil? Yang jelas, dentuman bom di langit ibu kota Yaman telah menorehkan luka baru di kawasan Timur Tengah yang belum juga usai dilanda perang.

GoogleNews

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses