Dressponsible Vol. 2 digelar di Museum Bank Indonesia yang mendadak terasa berbeda. Bukan hanya soal sejarah dan arsitektur klasiknya, tetapi karena siang itu ruangannya dipenuhi energi anak muda yang bicara soal masa depan: sustainable fashion.
Lewat gelaran Dressponsible Vol. 2, mahasiswa menghadirkan sebuah kampanye yang bukan sekadar acara, tapi juga gerakan gaya hidup. Fokusnya jelas—mengajak generasi muda lebih sadar terhadap dampak industri fashion dan mulai beralih ke konsumsi yang lebih bijak.
Kepala Museum Bank Indonesia dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas inisiatif ini. Ia menilai kolaborasi lintas bidang mulai dari mahasiswa, pemerintah, desainer, hingga media menjadi kunci dalam mendorong perubahan nyata di acara Dressponsible Vol. 2 ini.

“Isu sustainable fashion bukan hanya tanggung jawab satu pihak. Semua punya peran, termasuk media sebagai penyebar informasi dan generasi muda sebagai penggerak tren,” ujar Rio Wardhanu di Museum Bank Indonesia, Sabtu (18/4/2026).
Plt Direktur Fesyen Kementerian Ekonomi Kreatif RI, Romi Astuti, juga menegaskan dukungan penuh terhadap inisiatif ini. Ia menyebut bahwa kampanye seperti Dressponsible menjadi bagian penting dalam mendorong transformasi industri fashion ke arah yang lebih berkelanjutan.
“Tren sustainable fashion di Indonesia terus berkembang, mulai dari thrifting, upcycling, hingga rental fashion. Ini bukan lagi sekadar alternatif, tapi sudah menjadi gaya hidup baru, terutama di kalangan generasi muda,” jelas Romi.

Ia juga menambahkan bahwa langkah ini sejalan dengan arah kebijakan pemerintah dalam mendorong ekonomi hijau dan circular economy menuju target pembangunan berkelanjutan Indonesia.
Fenomena meningkatnya kesadaran Gen Z terhadap isu lingkungan pun dinilai menjadi momentum penting. Namun, ia mengingatkan bahwa tantangan tetap ada, terutama dari masifnya brand fast fashion global.
“Di sinilah pentingnya edukasi dan kolaborasi. Kita perlu membangun pola konsumsi yang lebih bijak, dan kampanye seperti ini punya peran besar dalam membentuk kesadaran tersebut,” tambahnya.

Menariknya, Dressponsible Vol. 2 bukan hanya kampanye biasa. Program ini merupakan bagian dari tugas akhir mahasiswa berbasis proyek yang menggabungkan teori komunikasi dengan praktik nyata di lapangan.
Dosen pembimbing, Melvin Bonardo Simanjuntak, menjelaskan bahwa pendekatan ini dirancang agar mahasiswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu menciptakan dampak langsung.
“Kami memberikan ruang bagi mahasiswa untuk memilih output tugas akhir berbasis proyek. Dalam konteks ini, mereka mengangkat isu sustainable fashion melalui pendekatan komunikasi, seperti iklan layanan masyarakat dan fashion show, sebagai tools untuk mengedukasi publik,” ungkap Melvin Dosen Pembimbing LSPR Institute of Communication & Business.

Menurutnya, keterlibatan mahasiswa dalam proyek nyata seperti ini juga melatih kemampuan komunikasi strategis, mulai dari membangun relasi dengan stakeholder hingga menjalankan kampanye secara mandiri.
Hal ini menunjukkan bahwa dunia akademik kini tak lagi hanya soal teori, tetapi juga bagaimana menciptakan dampak langsung di masyarakat.
Dari sisi industri, fashion sendiri menjadi salah satu subsektor ekonomi kreatif yang potensial. Di Jakarta, sektor ini berada di jajaran kontributor utama setelah kuliner dan media. Dengan dukungan ekosistem yang kuat—mulai dari event, komunitas, hingga fasilitas publik—peluangnya terus terbuka lebar, terutama bagi generasi muda.
Namun, tantangannya juga nyata. Maraknya brand fast fashion dengan harga murah masih menjadi godaan besar. Di sinilah edukasi dan kampanye seperti Dressponsible menjadi penting—untuk mengubah mindset bahwa murah tidak selalu berarti baik, terutama bagi lingkungan.
Lebih dari sekadar tren, sustainable fashion kini bergerak menjadi identitas. Sebuah cara baru dalam mengekspresikan diri—bukan hanya lewat gaya, tapi juga lewat pilihan yang lebih bertanggung jawab.
Dan dari Museum Bank Indonesia, pesan itu digaungkan: masa depan fashion ada di tangan mereka yang peduli. (EH).




