Indeks News – Ketegangan memuncak. Setelah berhari-hari merasa difitnah, CEO Malaka Project sekaligus konten kreator Ferry Irwandi akhirnya buka suara. Nama grafolog sekaligus pengamat perilaku, Gusti Ayu Dewi, menjadi pusat tudingan.
Perseteruan antara Ferry Irwandi dengan Gusti Ayu bukan sekadar saling sindir, tapi sudah menyeret isu besar: fitnah terhadap TNI, manipulasi video, hingga potensi ancaman terhadap stabilitas bangsa.
Ferry Irwandi Balas Fitnah
Ferry Irwandi mengaku difitnah habis-habisan. Melalui akun Instagram pribadinya @irwandiferry pada Minggu (14/9/2025), ia mengunggah video anggota TNI yang diamankan polisi di Palembang. Menurutnya, di dalam video itu jelas terdengar kalimat “bukan cuma saya” dari mulut sang prajurit.
“Berhari-hari saya difitnah oleh @gustiajudewi dan @anakjaksel.ai bahwa saya menambahkan kalimat itu di iNews. Nah, sekarang saatnya saya jawab,” tulis Ferry penuh emosi.
Ia menegaskan, tuduhan Gusti Ayu bahwa dirinya memanipulasi video untuk menjatuhkan TNI adalah tidak benar. Bahkan ia menantang Gusti Ayu untuk meminta maaf sebagaimana dulu mendesak publik figur lain melakukan hal serupa.
Damai dengan TNI, Tapi Bukan dengan Gusti Ayu
Sebelumnya, konflik Ferry dengan TNI sudah mereda. Ia mengaku sudah berkomunikasi langsung dengan Kapuspen TNI Brigjen (Marinir) Freddy Ardianzah. Keduanya saling meminta maaf dan menyebut persoalan dianggap selesai.
“Tidak ada tindak lanjut hukum dari TNI terhadap saya,” jelas Ferry di akun Instagramnya, Sabtu (13/9/2025).
Namun, meski damai dengan TNI, api perseteruan dengan Gusti Ayu justru makin membesar.
Tak berhenti di soal video, Ferry membongkar dugaan percakapan di sebuah grup WhatsApp yang diduga berisi Gusti Ayu bersama pejabat dan komisaris. Ia mengunggah tangkapan layar berisi obrolan mengejutkan, termasuk foto pistol disandingkan dengan bungkus rokok, hingga pernyataan Gusti Ayu yang menyebut “selalu ada versi Ferry Irwandi di negara setengah kacau.”
“Bingung kan lu sekarang? Fitnah sudah, ancaman sudah. Mau ke mana lagi?” tantang Ferry dalam unggahannya.
Ia bahkan menantang Gusti Ayu untuk membuka isi grup secara terbuka, atau dirinya sendiri yang akan melakukannya.
Gusti Ayu Menuding Manipulasi Berbahaya
Di sisi lain, Gusti Ayu tetap pada pendiriannya. Ia menuding Ferry sudah memanipulasi video viral penangkapan TNI oleh Brimob di Palembang yang sempat diputar dalam acara Rakyat Bersuara di iNews TV, 2 September 2025 lalu.
Menurut Gusti, Ferry mengganti kata “Kavaleri” menjadi “Kapolri”, dan menambahkan kalimat palsu “bukan cuma saya.” Bagi Gusti, itu bukan sekadar salah dengar, melainkan disinformasi yang berbahaya.
“Ini bisa bikin chaos negara. Disinformasi itu fitnah, provokasi, dan bisa membenturkan rakyat dengan TNI,” tegasnya di akun Instagram @gustiajudewi.
Ia bahkan mengutip teori psikologi komunikasi Illusory Truth Effect, yaitu fenomena ketika kebohongan yang terus diulang bisa dipercaya sebagai kebenaran.
Saling Tantang di Ruang Publik
Dialog panas berlanjut di kolom komentar Instagram. Ferry menuding Gusti Ayu berusaha membungkamnya dengan relasi kuasa. Sebaliknya, Gusti menegaskan dirinya hanya mengkritik narasi provokatif yang bisa memicu keresahan publik.
“Saya tidak lari. Tapi jangan diplintir seolah saya menyerang pribadi Anda. Yang saya soroti adalah narasi provokatif Anda,” balas Gusti.
Meski Ferry sudah berdamai dengan TNI, perseteruannya dengan Gusti Ayu tampaknya belum menemukan titik terang. Fitnah, tuduhan manipulasi, hingga ancaman membuka isi percakapan grup WhatsApp membuat kasus ini terus menyedot perhatian publik.
Bagi sebagian orang, kisah ini hanyalah pertikaian dua tokoh di media sosial. Namun bagi bangsa, narasi disinformasi yang menyeret nama TNI jelas bukan perkara sepele. Saat ruang publik dipenuhi klaim dan bantahan, masyarakatlah yang akhirnya terombang-ambing di antara fakta dan opini.
Sampai kapan drama ini berlanjut? Publik masih menunggu, apakah akan ada pembuktian hukum, atau sekadar berhenti sebagai perang narasi yang penuh emosi.




