Indeks News – Kalabahi, ibu kota Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur, diguncang bentrokan berdarah pada Rabu, 17 September 2025. Tujuh orang terluka, termasuk seorang anggota Brigade Mobil (Brimob) yang terkena panah. Suasana mencekam itu lahir dari sebuah undangan “perang” yang viral di media sosial—sesuatu yang awalnya dianggap lelucon, namun berubah menjadi tragedi nyata.
Pagi di Kalabahi semula berjalan biasa. Namun, sekelompok warga dari Kelurahan Welai Barat berkumpul dengan wajah tegang. Mereka menuntut kejelasan kasus pengeroyokan terhadap seorang pemuda mereka pada Sabtu, 13 September 2025. Amarah yang dipendam selama beberapa hari akhirnya meletup.
Kerumunan itu semakin panas ketika beredar surat undangan “perang terbuka” antara pemuda Welai Barat dan pemuda Wetabua. Surat itu menetapkan pertemuan di Lapangan Mini Kalabahi, Rabu pagi. Apa yang seharusnya jadi ruang dialog berubah menjadi panggung ketegangan.
Aparat Berusaha Menjadi Penengah Bentrokan
Aparat gabungan dari Polres Alor, Kodim 1622 Alor, dan Brimob sudah bersiaga sejak pagi. Mereka tak sendiri. Sejumlah tokoh hadir turun tangan langsung: Wakil Gubernur NTT Irjen Pol (Purn) Johni Asadoma, Wakil Bupati Alor Rocky Winaryo, serta Ketua DPRD Alor Paulus Brikmar.
Negosiasi berjalan di beberapa titik. Perwakilan massa bahkan diizinkan melihat tersangka yang diamankan di Polres Alor. Harapan muncul. Massa mulai bubar dengan tertib. Namun, ketenangan itu tak berlangsung lama.
Sebagian kecil massa tetap bertahan. Mereka berhadapan dengan kelompok pemuda Wetabua. Bentrokan pecah. Suara teriakan, kepanikan, dan senjata tradisional membuat suasana berubah jadi medan ketakutan.
Anak panah melesat ke udara, mengenai tubuh seorang anggota Brimob. Enam warga lain ikut terluka. Semua korban segera dilarikan untuk mendapat perawatan medis.
Untuk menghentikan kekerasan, aparat melepaskan tembakan peluru hampa dan gas air mata. Kapolres Alor, AKBP Nur Azhari, menegaskan langkah itu ditempuh untuk mencegah jatuhnya korban jiwa lebih banyak.
Hingga malam hari, 19 orang berhasil diamankan. Sebanyak 36 barang bukti—termasuk senjata tajam dan anak panah—disita untuk proses hukum lebih lanjut. Menjelang pukul 19.00 WITA, suasana kembali terkendali. Warga bisa beraktivitas lagi, meski aparat tetap berjaga di titik rawan.
Meski Kalabahi kembali tenang, bayang-bayang insiden itu belum sepenuhnya hilang. Sebuah surat yang viral di media sosial telah berubah menjadi pemicu nyata pertumpahan darah.
Kini, aparat dan pemerintah daerah menanggung pekerjaan berat. Mereka harus memastikan hukum ditegakkan, ketegangan mereda, dan rasa aman pulih. Sebab, luka akibat panah dan batu mungkin bisa sembuh, tetapi luka sosial di hati warga Kalabahi bisa terus membekas.




