Beranda PERISTIWA Gempa Megathrust Berkekuatan 5,2 Magnitudo Terjadi di Bengkulu

Gempa Megathrust Berkekuatan 5,2 Magnitudo Terjadi di Bengkulu

Megathrust
Gempa mengguncang zona Megathrust laut Pulau Enggano, Bengkulu, berkekuatan 5,2 magnitudo terjadi Kamis, (11/2/2021) malam, sekitar pukul 22.09 WIB.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika atau BMKG kembali mencatat episentrum gempa berlokasi di laut, 68 kilometer arah barat daya Pulau Enggano. Kedalamannya, 15 kilometer.

Namun, gempa tersebut dipastikan tidak memicu tsunami. Sedang dampaknya, berdasarkan peta guncangan dari BMKG, hanya dirasakan lemah atau ringan sebatas di Pulau Enggano.

Gempa  sebelumnya terjadi di kawasan yang sama pada Rabu malam. Kekuatannya sampai 6,3 M. Sekalipun tergolong kuat, gempa itu juga hanya dirasakan lemah di Enggano.

Tercatar sumber gempa berada di segmen zona Megathrust atau gempa besar. BMKG menyebut ada unsur jarak dan karakter batuan Pulau Enggano yang membantu melemahkan getaran gempa itu sebelum sampai ke daratan Bengkulu.

Sebelumnya, satu segmen atau bagian dari zona gempa besar (megathrust) yang memanjang di Samudera Indonesia sebelah barat Sumatera pecah pada Rabu malam 10 Februari 2021 pukul 19.52 WIB.

Kekuatan gempa Segmen Enggano itu terukur bermagnitudo 6,3, namun getarannya tergolong senyap di daratan dan nihil tsunami.

“Lemahnya guncangan karena faktor jarak dan kondisi batuan di zona gempa,” ujar Daryono, Koordinator Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami di Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Kamis 11 Februari 2021.

BMKG mencatat lokasi gempa pada koordinat 5,69 LS dan 101,56 BT tepatnya di laut. Jaraknya sekitar 202 kilometer  arah barat daya Kota Manna, Bengkulu Selatan dari kedalaman 10 kilometer. “Gempa yang terjadi merupakan jenis gempa dangkal akibat aktivitas subduksi lempeng di zona Megathrust Enggano,” ujarnya.

Menurut Daryono, gempa itu tidak berdampak merusak. Getaran gempa dirasakan warga di Enggano sebatas seperti ada truk yang berlalu.

“Jangankan merusak, bahkan di Pulau Enggano yang merupakan lokasi paling dekat pusat gempa hanya merasakan guncangan dalam skala intensitas III MMI,” kata dia.

Sedangkan di Bengkulu dan Kepahiang guncangan dirasakan lebih lemah lagi yaitu hanya dalam skala intensitas II MMI. Getaran dirasakan hanya oleh beberapa orang dan benda-benda ringan yang digantung bergoyang. Laporan dari beberapa warga dan BPBD setempat juga menyatakan gempa tidak terasa di bagian tengah dan utara Bengkulu.

Perhitungan BMKG, jarak pusat sumber atau episentrum gempa ke Pulau Enggano sejauh 84 kilometer. Sedangkan jarak episentrum ke Kota Bengkulu sejauh 221 kilometer. “Wajar jika guncanganya menjadi tidak signifikan,” kata Daryono.

Alasannya, percepatan getaran tanah yang terjadi saat gempa sudah mengalami atenuasi atau perlemahan sesampainya di Pulau Enggano dan daratan Bengkulu. Daryono menyebutkan

Selain faktor jarak itu, pusat gempa yang terjadi di bidang kontak antar lempeng ini menjalar melalui batuan keras di Pulau Enggano. Batuannya tersusun oleh batuan taji atau prisma akresi yang sangat keras sehingga dapat mengalami deamplifikasi atau peredaman.

Sudah lazim selama ini, ujar Daryono, “Gempa kuat yang bersumber di zona megathrust Sumatra relatif mengalami peredaman di Pulau Enggano, Kepulauan Mentawai, Kepulauan Batu, Pulau Nias dan Pulau Simeulue.”

Gempa Enggano berpusat di bidang kontak antar lempeng Indo-Australia dan lempeng Eurasia. Tepatnya di Segmen Megathrust Enggano yang memiliki magnitudo tertarget 8,4. Sebelumnya segmen itu sudah melepaskan energinya pada pada 4 Juni 2000 dengan magnitudo 7,9.

Gempa besar saat itu membuat 94 orang meninggal dan lebih dari 1.000 orang luka-luka. Sedikitnya pula 15.000 rumah rusak berat.

Gempa besar 20 tahun lalu juga dari kedalaman dangkal. Episentrumnya terletak diantara Kota Bengkulu dan Pulau Enggano, sehingga berdampak di Pulau Enggano dan wilayah Provinsi Bengkulu. Meskipun segmen Megathrust Enggano sudah rilis energi dengan gempa besarnya pada 2000, pergerakan di segmen ini harus tetap diwaspadai karena secara umum gempa belum bisa diprediksi.

Source: tempo