Beranda DAERAH Jadi Langganan Banjir, Kepala Sekolah SMKN 1 Sutera, Harapkan Perbaikkan Saluran Irigasi...

Jadi Langganan Banjir, Kepala Sekolah SMKN 1 Sutera, Harapkan Perbaikkan Saluran Irigasi Pada Pemerintah

Banjir,SMK,Kepala Sekolah
Kepala Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 1 Sutera, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat (Sumbar) Lili Suryati, berharap kepada pemerintah daerah atau provinsi, untuk memperbaiki saluran irigasi yang berada disekitar sekolah tersebut.

Sebab, katanya, saluran irigasi atau bandar (Selokan air) yang memanjang tepat di depan sekolah tersebut, terlalu kecil dan sering tersumbat. Sehingga, mengakibatkan seringnya terjadi banjir yang merendam seluruh ruangan sekolah, setiap kali curah hujan deras dan berlangsung lama mengguyur kawasan di daerah tersebut.

“Saluran irigasi yang kecil dan tersumbat, masih menjadi salah satu faktor utama penyebab banjir yang sering terjadi di sekolah SMKN 1 Sutera. Karena, bandar kecil dan dangkal itu, tidak mampu menampung debit air kiriman dari Embung Taratak dan persawahan petani, “sebutnya pada Jumat (15/1/2021).

Menurutnya, kondisi sekolah yang sering terendam banjir itu, sangat membutuhkan perbaikan saluran irigasi. Agar sekolah tersebut tidak lagi menjadi langganan banjir.

Kendati demikian, ia cukup berharap kepada pemerintah daerah atau pemerintah provinsi, untuk dapat membantu pihak sekolah dalam mengatasi persoalan banjir ini.

Sebab, dampak banjir menimbulkan kerugian cukup besar bagi sekolah. Karena, terdapat beberapa mobiler sekolah seperti, alat-alat dan mesin praktek siswa, kursi, buku dan arsip sekolah rusak akibat terendam.

Selain merusak beberapa fasilitas dan mobiler sekolah. Banjir juga berdampak bagi siswa. Karena, setiap kali terjadi banjir. Siswa yang berjumlah 812 orang itu, terpaksa harus diliburkan selama 1-2 hari pasca banjir.

“Nah, Jadi tidak hanya sekolah yang rugi akibat banjir. Siswa kita juga rugi, karena proses belajar mengajar mereka terhambat dan tidak bisa dilakukan karena banjir, “kata Kepala Sekolah.

Sebelumnya, disampaikan Lili, ia dari pihak sekolah sudah beberapa kali melakukan beberapa upaya dan meminta bantuan pada pihak terkait.

Baik secara resmi atau tidak resmi, pihaknya telah beberapa kali meminta kepada pihak PSDA kabupaten dan juga ke PUPR provinsi, terkait kondisi ini.

Namun, sampai sekarang dan sekolah kembali direndam banjir, solusi dan bantuan atas permohonan sekolah, belum jua mendapatkan tanggapan dari pemerintah terkait.

“Kita sudah beberapa kali menyampaikan kondisi ini ke pemerintah, mulai dari pemerintah terendah yaitu wali nagari, camat, pemerintah daerah dan provinsi, baik resmi maupun tidak resmi. Tapi belum juga ada tanggapan sampai sekarang, “ucapnya.

Meski demikian, lanjutnya, untuk tahun 2021, pihaknya dari sekolah akan kembali berupayah, dan meminta solusi sembari berharap kepada pemerintah terkait, dalam mengatasi persoalan banjir disekolah ini.

Bahkan, beberapa bulan lalu, ia juga telah meminta dan menyampaikan kondisi ini melalui anggota DPRD kabupaten dan provinsi, agar persoalan ini cepat teratasi.

“Kita berharap pemerintah membantu kita. Karena, kemarin sekitar bulan September 2020, kita dari sekolah berkerjasama dengan komite, dan masyarakat sekitar. Untuk melakukan pengerukan selokan air disekitar sekolah, dengan meminjam alat berat kelompok tani. Tetapi, masih saja terjadi banjir karena selokan itu cukup panjang, “tutupnya.

Diketahui, berdasarkan catatan dan informasi yang diterima wartawan dilapangan, SMKN 1 Sutera di Pesisir Selatan, merupakan satu-satunya sekolah yang cukup sering terendam banjir.

Semenjak, beberapa tahun belakangan ini, banjir dengan ketinggian air diatas lutut orang dewasa merendam hampir seluruh rungan sekolah, sudah terjadi sekitar 3-4 kali.

Bahkan, kemarin pada Senin (11/1/2021) sekitar pukul 19.00 WIB, sekolah tersebut, terendam air dengan ketinggian mencapai pinggang orang dewasa. Dan, banjir kemarin itu, juga menjadi banjir terparah rendam sekolah tersebut.

Kemudian, penyebab banjir yang merendam sekolah SMKN 1 Sutera ini terjadi disebabkan, saluran atau selokan air cukup kecil dan dangkal, tidak mampu menampung luapan debit air dari Embung Taratak, dan areal persawahan petani. Sehingga, air dengan cepat membesar dan meluas menggenangi kawasan sekolah.(Kay)