Beranda BUDAYA & PARIWISATA SASTRA Kisah Raja Oedipus, Tragedi Terbesar Sepanjang Masa yang Pernah Ditulis Sophocles

Kisah Raja Oedipus, Tragedi Terbesar Sepanjang Masa yang Pernah Ditulis Sophocles

Raja Oedipus
Oedipus the King - Philip Saville, 1968
Kisah sang Raja Oedipus ditulis oleh seorang penulis drama bernama Sophocles (496-406 SM), dan dikenal sebagai tragedi terbesar yang pernah ditulis sepanjang masa. Ada banyak variasi dari kisahnya. Namun, kisah Oedipus mungkin yang paling terkenal dari semua legenda Yunani kuno.

Menurut mitologi Yunani, Oedipus adalah putra dari Raja Laius dan Ratu Jocasta dari Thebes. Dahulu kala, mereka sangat senang dengan kelahiran anak mereka yang baru lahir. Namun semua itu menjadi berubah ketika Pythia atau Oracle dari Apollo mengabarkan ramalannya.

Pythia, dikenal juga sebagai Oracle Delphi, adalah pendeta wanita dari Kuil Apollo di Delphi. Tempat suci yang didedikasikan untuk dewa Apollo yang dibangun pada abad ke-8 SM. Pythia sangat dihormati, karena diyakini bahwa dia menyampaikan ramalan dari dewa Apollo sendiri. Sambil terpejam dalam keadaan tak sadarkan diri, ia menyampaikan sesuatu yang bisa dijadikan petunjuk saat itu.

Dalam mitos Raja Oedipus, Laius, raja Thebes, berkonsultasi dengan Oracle Delphi untuk mencari tahu mengapa istrinya, Jocasta, tidak bisa hamil. Oracle memperingatkan Laius bahwa siapapun putranya yang terlahir, suatu hari akan membunuhnya lalu menikahi Jocasta. Sang Raja, tentu tidak senang mendengarnya. Ia sangat marah dan bertekad untuk menggagalkan ramalan tersebut.

Ketika seorang bayi lahir, raja Laius menusuk pergelangan kakinya dan mengikatnya dengan tali. Ratu Jocasta, lalu memberikan bayi itu kepada seorang pelayan dan menyuruhnya untuk menenggelamkan bayi itu di sebuah sungai.

Namun, pelayan itu sepertinya tak tega dan meninggalkan bayi itu sendirian di lereng sebuah gunung. Sampai akhirnya sang bayi ditemukan oleh seorang gembala dan akhirnya sampai kepada tangan Raja Polybus dan Ratu Merope dari Korintus yang tak memiliki keturunan. Mereka berdua lalu menamai bayi itu sebagai Oedipus.

Bertahun-tahun kemudian, setelah Oedipus dewasa, seorang pemabuk di sebuah pesta memanggilnya anak haram. Karena menurutnya, Oedipus bukanlah keturunan dari Raja dan Ratu Korintus. Oedipus merasa kecewa dan marah, lalu menemui kedua orang tuanya. Namun Raja Polybus dan Ratu Merope membantah klaim tersebut.

Karena penasaran yang terus berlanjutan, ia mencari tahu siapa orang tua kandungnya yang sebenarnya. Dia melakukan perjalanan untuk menemui Oracle Delphi. Peramal itu, tidak memberi tahunya apakah Raja dan Ratu Korintus adalah orang tuanya atau bukan, tetapi mengatakan kepadanya bahwa dia ditakdirkan untuk membunuh ayahnya dan menikahi ibunya sendiri.

Untuk menghindari hal ini, dia pergi ke Thebes. Selama perjalanannya, ia sampai di Phocis.  Sebuah tempat di mana tiga jalan bertemu. Dia menjumpai seorang raja beserta para pelayannya, yang akhirnya membuatnya berkelahi dengan mereka. Lalu ia membunuh raja itu beserta semua pelayannya. Terkecuali, seorang budak yang berhasil melarikan diri.

Oedipus tidak sadar bahwa seorang raja yang telah dibunuhnya adalah ayah kandungnya sendiri. Begitupun sebalikanya dengan Raja Laius yang tidak dapat mengenali lawannya adalah anak kandungnya sendiri.

Selama perjalanan besarnya menuju Thebes, Oedipus bertemu dengan Sphinx. Selama Laius tidak ada, Dewi Hera mengirim Sphinx untuk menyerang orang-orang di kota Thebes. Ia akan menanyakan teka-teki kepada setiap orang yang mencoba memasuki kota. Namun, bagi siapapun yang tidak dapat menjawab teka-tekinya, monster ini akan memakan orang tersebut.

Ketika Oedipus dapat menjawab teka-teki itu dengan benar, Sphinx itu sangat marah dan menjatuhkan dirinya sendiri ke dalam sungai. Oedipus melanjutkan perjalanannya.

Sesampainya di kota, ia menjumpai orang-orang Thebes yang sangat kecewa karena seseorang telah membunuh raja mereka. Creon, menawarkan tahta kerajaan Thebes serta saudara perempuannya (janda Laius) Jocasta, kepada siapa saja yang dapat membebaskan kota dari Sphinx.

Mereka senang mendengar kabar bahwa Oedipus telah berhasil memecahkan teka-teki dari Sphinx. Oedipus dipandang sebagai pahlawan dan diangkat menjadi raja, iapun akhirnya menikahi istri sang raja, Jocasta. Ibu kandungnya sendiri.

Bertahun-tahun setelah ia menjadi raja, kelaparan dan berbagai penyakit melanda negeri itu. Hasil panen dan ternak mereka menemui kegagalan. Oedipus memberi tahu pendeta bahwa dia telah mengirim Creon, untuk menanyakan kepada Pythia Phoebus di kuil Delphinya, bagaimana caranya agar kerajaannya bisa diselamatkan.

Tak lama kemudian, Creon datang membawa kabar dari para dewa. Dia mengatakan apa yang mereka dapatkan adalah hukuman, baik kematian atau pengasingan dari pembunuh raja Laius. Oedipus, yang baru di negeri itu ingin mengungkap penjahat yang menjadi penyebab kesengsaraan mereka, menanyakan rincian pembunuhan itu.

Akhirnya seorang peramal terkenal, Teiresias, tiba di istana. Dia sebenarnya sangat tidak ingin untuk berbicara tentang Laius beserta pembunuhnya. Namun, Oedipus menuduhnya sebagai pembunuhnya. Mendengar hal itu, Teiresias melontarkan tudingan dengan berani, mengatakan bahwa Oedipus sendirilah yang telah membunuh Laius.

Pertikaian mulut pun terjadi. Oedipus mengklaim bahwa Teiresias pasti bersekongkol dengan Creon untuk menggulingkannya. Setelah mendengar hal ini, Teiresias meramalkan bahwa Oedipus akan diasingkan dari Thebes dan tidak lagi memiliki matanya setelah dia menemukan siapa garis keturunannya yang sebenarnya.

Creon keluar untuk menyangkal tuduhan sang raja, menanyakan apa yang akan dia dapatkan dengan menggulingkannya. Dia lebih suka tidak mewarisi posisi pada kondisi sulit seperti itu, karena semua yang dia inginkan, ketenaran dan kekayaan, sudah menjadi miliknya. Namun demikian, Oedipus mengancamnya dengan kematian, karena Creon mengusir Oedipus.

Jocasta masuk dan memohon kepada suaminya (sekaligus anakanya), Oedipus, untuk mempercayai Creon demi sumpahnya, demi dia dan demi para tetua (chorus).

Dia mengatakan kepadanya bahwa itu tidak benar karena secara resmi diperkirakan bahwa Laius akan dibunuh oleh putranya di sebuah tempat di mana tiga jalan bertemu. Pada kenyataannya, dia dibunuh oleh seorang penjahat di sebuah jalan, seperti yang dilaporkan oleh seorang budak yang selamat dari serangan itu.

Raja Oedipus kaget mendengar fakta ini, lalu dia bertanya di mana tepatnya kejadian itu terjadi. Jocasta berkata Phocis, tempat jalan dari Daulis dan Delphi bertemu. Dia bertanya lebih lanjut sambil gemetaran, bahwa mungkin peramal itu bisa jadi benar.

Tak lama kemudian, seorang utusan datang dari Corinth membawa berita kematian Polybus, dan pencarian raja baru. Ini menyenangkan Raja Oedipus karena tampaknya nubuatan itu salah, karena ayahnya meninggal bukan melalui tangannya. Meskipun demikian, dia menyebutkan ketakutannya untuk kembali ke Korintus karena Merope, ibunya, masih hidup dan dia tidak ingin bagian kedua nubuatan itu terwujud.

Utusan itu berusaha untuk menghilangkan ketakutan ini dengan mengungkapkan bahwa Polybus dan Merope bukanlah orang tua kandungnya. Selain itu, dialah yang telah memberikannya kepada Polybus, setelah gembala lain yang berasal dari istana Laius menyerahkannya kepadanya. Gembala lainnya ini ternyata sama dengan saksi kematian Laius.

Raja Oedipus, yang bertentangan dengan keinginan Jocasta, ingin mengetahui akar masalahnya. Dia ingin menemukan silsilah aslinya. Oleh karena itu, dia meminta, dengan lebih tegas, agar sang gembala dibawa untuk diinterogasi.

Tidak lama kemudian, gembala yang telah lama ditunggu-tunggu yang diharapkan untuk menjelaskan lebih banyak teka-teki akhirnya tiba. Dia segera mengakuinya, setelah Raja Oedipus mengancamnya dengan kematian. Dia juga mengakui bahwa Jocasta, ibunya, memberikannya padanya agar dia bisa menyingkirkannya.

Raja Oedipus sangat terpukul, setelah mengutuk dirinya sendiri, dia segera meninggalkan tempat kejadian. Tidak lama setelah dia keluar, utusan kedua datang dengan berita buruk tentang kematian Jocasta. Dia telah mati dengan gantung diri. Raja Oedipus yang sangat terpukul, ia melukai dirinya sendiri. Dengan bros emas gaun Jocasta, dia mencungkil matanya keluar. Ia pergi meninggalkan istana dari negeri itu. Membawa kedua putrinya dan meninggalkan kedua putranya untuk memerintah Thebes.

Raja Oedipus berkeliaran di seluruh negeri menggunakan putrinya sebagai pemandunya. Menghabiskan sisa hidupnya yang menyedihkan dengan meraba-raba dalam kegelapan dan penghinaan. Sampai akhirnya dia dibawa oleh raja Athena. Di Colonus itulah dia akhirnya meninggal dan dibawa ke Tanah Para Dewa.

Oedipus the King Sophocles  telah diadaptasi menjadi banyak versi. Demikian pula, dari karya sastra yang hebat inilah Sigmund Freud menciptakan teorinya tentang Oedipus complex, di mana seorang anak laki-laki memiliki cinta eksklusif kepada ibunya dan memandang ayah sebagai saingan.

Facebook Comments

Artikulli paraprakNgotot Bersihkan Kuliner Daging Anjing dari Solo, Gibran Segera Keluarkan Aturan Tegas
Artikulli tjetërDi Bawah Caligula, Roma Jatuh ke Dalam Jurang Kehancuran