Indeks News – Air mata tak terbendung di rumah duka Kuanino, Kota Kupang. Epi Sepriana Mirpey memeluk erat peti jenazah putra sulungnya, Prada Lucky Chepril Saputra Namo (23). Prajurit muda Yonif TP 834/Wakanga Mere, Nagekeo, ini pulang bukan dengan senyum dan kebanggaan, melainkan dalam balutan kain merah putih dengan tubuh penuh luka.
Kronologi yang beredar di media sosial membuka tabir kelam: semua bermula pada Minggu malam, 27 Juli 2025. Prada Lucky diperiksa oleh Staf Intel karena dugaan penyimpangan seksual yang tak pernah dijelaskan jelas. Keesokan paginya ia mencoba kabur, namun ditemukan di rumah ibu asuhnya, Ibu Iren. Dari sanalah, derita panjangnya dimulai.
Beberapa senior mendatanginya, membawa selang, dan memukulinya bergantian. Malam itu, perintah agar tidak ada kekerasan memang disampaikan oleh komandan, tapi bagi Prada Lucky, itu sudah terlambat. Ia tetap dipenjara bersama rekannya, Prada Ricard.
Penderitaan makin menjadi saat empat prajurit mendatangi sel pada Rabu dini hari, 30 Juli. Tangan kosong mereka menghantam tubuh dua prajurit muda itu. Lucky diduga diinjak hingga ginjal dan paru-parunya rusak. Bekas sepatu terlihat jelas di perutnya.
Sakit, muntah-muntah, dan lemah, Prada Lucky akhirnya dilarikan ke puskesmas, lalu dirujuk ke RSUD Aeramo. Sempat membaik dan bercanda dengan Ibu Iren, kondisinya kembali memburuk. Selasa dini hari, 5 Agustus, ia dipasang ventilator. Sehari kemudian, Rabu, 6 Agustus 2025, pukul 11.23 WITA, Lucky menghembuskan napas terakhir.
Ibunya, Epi, mengenang panggilan video terakhir anaknya. Dengan suara lemah, Lucky berkata, “Mama, saya kangen. Mama datang Nagekeo.” Ia juga sempat mengeluh dipukul walau sedang sakit. Sang ibu mengaku pihak batalyon kerap memberi informasi palsu, bahkan saat anaknya sudah koma.
Ayahnya, Serma Christian Namo, tak kalah marah. Ia menuntut autopsi untuk membuktikan kematian anaknya, namun dihadang birokrasi. Di RS TNI Wira Sakti tak ada dokter forensik, di RS Bhayangkara diminta surat pengantar polisi. Amarahnya meledak di depan kamar jenazah, menyebut pelaku “berjiwa keji seperti PKI” dan menuntut negara hadir.
Dalam laporan resmi, 20 oknum TNI disebut terlibat dalam penganiayaan, termasuk perwira dan bintara. Pukulan dengan selang dan tangan kosong disebut-sebut menjadi bagian dari kekerasan berantai ini.
Epi hanya punya satu harapan: keadilan. “Kalau dia gugur di medan perang, saya terima. Tapi ini dia mati di tangan teman-temannya sendiri. Saya tidak mau ada Prada Lucky lainnya,” ujarnya.
Kini, publik menanti: apakah hukum benar-benar tajam ke atas atau sekali lagi tumpul saat berhadapan dengan seragam.




