Indeks News – Ka-Soh, restoran Cantonese zi char berusia 86 tahun yang menjadi ikon di kawasan Greenwood Avenue, Singapura, resmi menutup gerainya.
Semangkuk sup ikan terakhir disajikan pada 28 September, menandai berakhirnya sebuah era kuliner legendaris di kawasan tersebut.
Bagi Cedric Tang, pemilik generasi ketiga Ka-Soh, keputusan itu terasa pahit.
“Kalah. Itu yang saya rasakan,” ujar pria 40 tahun itu.
“Meskipun kami sudah bekerja sangat keras selama bertahun-tahun, kami merasa sudah cukup.”
Sewa Naik 30%, Harus Jual 300 Mangkuk Tambahan
Penutupan Ka-Soh bukan murni pilihan, melainkan keputusan yang “dipaksa” oleh tekanan biaya. Faktor terbesar kenaikan harga sewa.
Mulai akhir 2025, sewa gerai Ka-Soh akan naik sekitar 30%. Untuk bertahan, Cedric memperkirakan ia harus menjual rata-rata 300 mangkuk mi sup ikan tambahan setiap bulan.
Saat ini, mereka membayar sekitar US$ 15.000 per bulan atau sekitar Rp249 juta (kurs Rp16.606 per US$), naik dari sekitar 12.000 dolar Singapura sebelumnya.
Menaikkan harga menu dinilai bukan pilihan yang adil bagi pelanggan setia.
“Untuk bisnis turun-temurun, kami berusaha untuk tidak terlalu menaikkan harga, karena kami ingin tetap dapat diakses oleh pelanggan lama,” katanya.
Cedric mengaku sudah habis-habisan memangkas biaya, mulai dari dapur hingga bagian pencucian piring.
Namun efisiensi pun ada batasnya. Pada akhirnya, Ka-Soh menyusul deretan restoran lain yang tumbang di Singapura.
Ratusan Restoran Tutup Setiap Bulan
Ka-Soh bukan satu-satunya korban. Singapura tengah menghadapi gelombang penutupan tempat makan dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Burp Kitchen & Bar, restoran keluarga favorit, menjadi salah satu dari 320 penutupan usaha F&B pada Juli.
Prive Group menutup seluruh restorannya pada 31 Agustus, menggenapi 360 kebangkrutan yang terjadi dalam sebulan.
Secara total, lebih dari 3.000 bisnis makanan dan minuman tutup tahun lalu, atau rata-rata sekitar 250 tempat makan per bulan angka tertinggi dalam hampir dua dekade.
“Bahkan yang paling tangguh pun tidak bisa bertahan saat ini,” kata mantan pemilik restoran, Chua Ee Chien.
Ia mencatat, dua restoran yang masuk daftar Michelin Guide Singapura pun ikut tutup hanya dalam hitungan minggu setelah edisi tahun ini terbit.
Sewa Mencekik, Tapi Bukan Satu-satunya Masalah
Bagi banyak pemilik restoran, termasuk Ka-Soh, sewa adalah biang kerok utama, meski bukan satu-satunya beban.
Terence Yow, Ketua Singapore Tenants United for Fairness (SGTUFF) yang mewakili lebih dari 1.000 pelaku bisnis F&B dan usaha lainnya, menyebut lonjakan sewa kali ini tak normal.
“Mayoritas penyewa melaporkan kenaikan sewa antara 20 hingga 49 persen. Ini sesuatu yang belum pernah kami lihat dalam 15-20 tahun terakhir,” ujarnya.
Di sisi lain, pasar properti turut memanaskan situasi. Lemahnya penjualan hunian membuat ruko menjadi incaran investor lokal maupun asing, sehingga mendorong kenaikan biaya sewa.
Namun pemilik properti juga menghadapi tekanan sendiri.
Ethan Hsu dari Knight Frank Singapore menjelaskan, jika sewa diperbarui tiga tahun setelah masa COVID-19, kenaikan 50-100 persen pun belum tentu mencapai tingkat harga pasar saat ini.
Biaya konstruksi sejak pandemi disebut naik sekitar 30%, sementara biaya pemeliharaan meningkat setidaknya 10%.
“Banyak orang terpaku pada gagasan pemilik properti serakah. Itu narasi yang mudah. Nyatanya, sewa hanyalah satu komponen dari keseluruhan biaya yang harus dihadapi penyewa,” kata Hsu.
Biaya Tenaga Kerja Meroket, Restoran Kecil Tersisih
Selain sewa, biaya tenaga kerja juga menekan. Di Burp Kitchen & Bar, lonjakan upah pekerja dipadu penurunan permintaan membuat usaha itu sampai pada titik kritis.
Jumlah juru masak kian terbatas. Pemain besar sanggup menawarkan gaji hingga dua kali lipat untuk menggaet staf, sementara restoran kecil tertinggal dalam persaingan.
Asosiasi Restoran Singapura bahkan mengeluarkan peringatan pada Maret soal “krisis tenaga kerja yang serius”, dan mendesak pemerintah meninjau kembali kuota pekerja asing.
Namun pemerintah melihat fenomena ini sebagai bagian dari kejenuhan pasar.
Pada tahun lalu, Singapura memiliki hampir 23.600 usaha makanan eceran, naik dari sekitar 17.200 pada 2016.
Meski 3.047 bisnis tutup, sekitar 3.800 bisnis baru justru bermunculan.
Chua menilai, rantai usaha besar berkapasitas tinggi perlahan menyingkirkan usaha kecil independen.
Data Indeks Layanan Makanan & Minuman Departemen Statistik Singapura pada Juni menunjukkan:
- Penjualan penyedia katering dan gerai makanan cepat saji meningkat dibanding tahun sebelumnya.
- Omzet restoran justru turun 5,6%.
- Kafe, pusat makanan, dan tempat makan lainnya mencatat penurunan tipis 0,1%.
“Ini perubahan drastis dalam perilaku pelanggan,” kata Ronald Chye, pemilik bersama Burp Kitchen.
Istrinya yang juga pemilik bersama, Sarah Lim, menambahkan “Frekuensi kunjungan pelanggan turun dari tiga–empat kali seminggu menjadi mungkin hanya sekali sebulan.”
Lebih dari Sekadar Neraca Keuangan: “Kehilangan Keluarga”
Bagi Cedric Tang, dampak penutupan Ka-Soh tak hanya tercermin di laporan keuangan.
“Saya sudah mengenal staf saya selama 20 tahun. Kehilangan bagian dari persahabatan itu… tidak mudah untuk dihadapi,” ucapnya.
Restoran keluarga seperti Ka-Soh selama ini bukan hanya tempat makan, tetapi juga ruang pertemuan generasi, pelanggan tetap, dan para pekerja yang sudah seperti keluarga sendiri.
Bertahan dengan Media Sosial: Dari Sepi ke Full House
Di tengah tekanan biaya dan persaingan, sebagian bisnis mencoba bertahan lewat strategi baru, terutama di ranah digital.
Menurut survei 2023 perusahaan teknologi perhotelan SevenRooms, lebih dari separuh warga Singapura termasuk 59% Generasi Z mencari restoran baru melalui media sosial.
Ada pula para profesional yang membantu pemilik restoran mengasah kehadiran digital mereka. Salah satunya Dylan Tan, salah satu pendiri Craft Creative.
Ia bekerja sama dengan Christopher Lim (62), pemilik Marie’s Lapis Cafe di Bedok North, yang sudah lima tahun menyajikan makanan dan kue Peranakan buatan tangan turun-temurun.
“Kami hanya bertahan di atas tali,” kata Lim. Ia bahkan menjual rumah, mencairkan tabungan Central Provident Fund, dan polis asuransi demi menjaga kafe tetap hidup.
Di bawah bimbingan Tan, kafe itu meluncurkan video pendek yang mengangkat warisan dan hidangan khasnya.
Lim juga didorong aktif memposting di media sosial setidaknya sekali seminggu, membalas komentar pelanggan, membuat promosi sesekali, bekerja sama dengan influencer, dan menggelar acara bertema tertentu.
Hasilnya, dalam dua minggu kafe penuh untuk jam makan siang hingga hari Minggu,, pemesanan penuh untuk satu bulan ke depan, bisnis meningkat sekitar 30-40%.
Lim kini bertekad untuk “menjaga momentum itu terus berjalan”. Produktivitas, HR Bersama, dan Lobi Kebijakan
Namun likes dan shares saja tidak cukup menyelamatkan semua pelaku usaha.
Anggota Parlemen untuk Holland-Bukit Timah GRC, Edward Chia yang juga mantan pemilik usaha F&B menyerukan peningkatan jangka pendek kuota tenaga kerja asing untuk membantu bisnis bertahan.
Di sisi lain, ia menilai usaha kecil perlu dibantu untuk meningkatkan produktivitas, agar bisa berjalan dengan jumlah staf yang sama, bahkan lebih sedikit.
Beberapa bisnis sudah mulai bergerak ke arah itu.
Rantai restoran zi char generasi ketiga, Keng Eng Kee Seafood, berinvestasi pada:
perangkat lunak manajemen hubungan pelanggan (customer relationship management/CRM), sistem keanggotaan pelanggan.
“Ini memberi kami umpan balik untuk meningkatkan pengalaman pelanggan,” kata rekan pemilik, Paul Liew (44).
“Kami juga bisa memahami preferensi staf, sehingga membantu mengurangi angka pengunduran diri.”
Chia menilai, bisnis kecil juga bisa terbantu lewat dukungan SDM seperti skema chief HR officer as a service, di mana praktisi HR tersertifikasi melayani beberapa UKM sekaligus sehingga lebih hemat biaya.
Sementara itu, kelompok penyewa seperti SGTUFF melobi skema sewa yang lebih adil, misalnya batasan kenaikan sewa saat perpanjangan, penyesuaian dengan inflasi atau pertumbuhan produk domestik bruto (PDB).
“Tujuannya agar setelah penyewa membangun bisnis selama dua–tiga tahun atau lebih, mereka tidak tiba-tiba terkena kenaikan besar 50, 60, bahkan 70 persen,” jelas Yow.
Dari Restoran ke Sup Ikan Beku: Cara Baru Meneruskan Warisan
Bagi sebagian pemilik, kebangkrutan restoran tidak selalu berarti garis akhir. Cedric Tang, misalnya, memilih berputar haluan.
Ia berencana beralih ke bisnis rumahan yang menjual sup ikan beku, bekerja sama dengan mitra barunya, Park Tan.
“Dengan sup beku ini, dia mencoba menyasar pasar yang baru,” kata Park.
“Ini agak berbeda dari apa yang ditinggalkan kakeknya.”
Namun bagi Cedric, perubahan ini adalah cara lain untuk tetap menjaga napas warisan keluarganya.
“Ini juga kesempatan untuk tumbuh kembali dan membangun kembali,” ujarnya.
Penutupan Ka-Soh mungkin menutup satu babak di Greenwood Avenue.
Namun cerita tentang bagaimana restoran keluarga bertahan atau tumbang di tengah mahalnya biaya hidup dan persaingan sengit di Singapura tampaknya baru saja dimulai.




