Jakarta – Anne J. Cotto akhirnya kembali ke layar lebar setelah vakum cukup lama dari industri perfilman. Aktris senior tersebut melakukan comeback melalui film horor Juminten Edan, sekaligus menjadi proyek film pertamanya setelah lima tahun menetap di Bali.
Namun, bukan hanya cerita di balik karakter Salma yang mencuri perhatian. Ada momen tak terduga yang justru mengundang tawa saat acara pre-conference film Juminten Edan. Anne J. Cotto mengungkapkan bahwa sepatu yang dikenakannya tiba-tiba rusak sesaat sebelum acara dimulai.
Meski sempat panik, Anne J. Cotto tetap tampil profesional dan menyelesaikan seluruh rangkaian acara dengan senyum. Insiden kecil itu justru menjadi bahan candaan yang mencairkan suasana konferensi pers.

“Sepatu saya malah rusak waktu pre-conference. Untung masih bisa diakali, jadi tetap lanjut acara,” ujar Anne J. Cotto sambil tertawa, disambut gelak tawa para pemain dan awak media di Kawasan Rasuna Said, Kamis (16/7/2026).
Di balik kejadian tersebut, Anne J. Cotto mengaku sangat bersyukur akhirnya bisa kembali menerima tawaran bermain film setelah cukup lama vakum sejak memutuskan pindah ke Pulau Dewata.
“Alhamdulillah, setelah lima tahun saya pindah ke Bali, ini merupakan film pertama saya sejak menetap di sana. Saya mengucapkan terima kasih kepada produser dan sutradara atas kepercayaannya kepada saya untuk memerankan karakter Salma dalam film ini,” ungkap Anne J. Cotto.

Dalam film garapan sutradara Dedy Mercy tersebut, Anne memerankan Salma, ibu dari Manto sekaligus ibu mertua Juminten. Menariknya, ia kembali dipercaya memerankan sosok perempuan dengan karakter keras.
Anne mengaku sempat berharap kali ini bisa memerankan sosok ibu yang lembut. Namun harapan itu rupanya tidak terwujud.
“Biasanya karakter yang saya perankan sedikit barbar. Saya sempat berharap di film ini bisa menjadi sosok ibu yang lembut, tetapi ternyata tidak berhasil juga,” katanya sambil tertawa.

Bahkan ia menitipkan pesan khusus kepada para ibu di Indonesia agar tidak meniru sifat karakter Salma.
“Pesan saya untuk para ibu di Indonesia, jangan seperti Salma, ya.”
Kembali Dipertemukan Dedy Mercy
Anne mengungkapkan dirinya langsung menerima tawaran bermain di Juminten Edan karena kembali bekerja sama dengan sutradara Dedy Mercy. Sebelumnya, keduanya pernah menghabiskan hampir satu tahun syuting sinetron laga stripping setiap hari.
“Terakhir saya syuting adalah untuk sinetron laga stripping dan kebetulan sutradaranya sama. Kami hampir satu tahun syuting setiap hari. Calling jam tiga atau empat pagi sudah biasa. Jadi ketika dihubungi lagi untuk bermain di film ini, tentu saya sangat senang,” tuturnya.
Kedekatan dan chemistry yang telah terbangun membuat proses syuting berjalan lebih nyaman meski Anne harus bolak-balik dari Bali ke Jakarta.
Rela Terbang dari Bali Demi Reading
Sebagai proyek comeback, Anne tak ingin setengah-setengah mempersiapkan perannya. Ia bahkan rela terbang dari Bali hanya untuk mengikuti reading bersama para pemain.
“Ini merupakan tahun pertama comeback saya untuk kembali bermain film, sehingga proses persiapannya benar-benar dilakukan dengan baik. Saya bahkan terbang dari Bali hanya untuk mengikuti reading dan membangun chemistry dengan para lawan main saya,” katanya.
Pengalaman panjang di dunia seni peran membantunya membangun emosi karakter Salma. Meski begitu, ia mengaku tetap banyak berdiskusi dengan sutradara selama proses syuting.
“Alhamdulillah, mungkin karena jam terbang yang saya miliki, rasa dan emosinya bisa dibangun dengan baik. Saya selalu bertanya kepada sutradara apakah emosi dalam sebuah adegan perlu saya naikkan atau justru diturunkan. Jadi semuanya kami kontrol bersama.”
Kisah Veneer yang Bikin Anne Terharu
Anne juga menceritakan pengalaman lucu saat tim tata rias menghubunginya sebelum syuting. Mereka sempat mengira Anne menggunakan veneer dan meminta agar gigi tersebut dilepas demi kepentingan karakter.
“Tim make-up sempat menelepon saya dan bertanya, ‘Mbak Anne, bisa tidak gigi veneer-nya dilepas?’ Padahal saya memang tidak menggunakan veneer,” ujarnya sambil tertawa.
Alih-alih tersinggung, Anne justru merasa tersentuh karena melihat keseriusan tim produksi dalam membangun detail karakter.
“Saya merasa sangat dihargai sebagai pemain karena mereka benar-benar memperhatikan detail karakter.”
Bangga dengan Pemain Muda
Menutup ceritanya, Anne berharap Juminten Edan tidak hanya menghadirkan teror, tetapi juga menyampaikan pesan moral mengenai hubungan dalam keluarga.
Ia pun memberikan apresiasi kepada seluruh pemain yang terlibat, terutama para aktor muda yang menurutnya tampil luar biasa.
“Alhamdulillah jika hasilnya bisa terbentuk dengan baik dan emosi yang ingin disampaikan dapat tercapai. Untuk para pemain muda di film ini, mereka semua luar biasa. Tetapi yang tua juga tidak kalah, dong,” tutup Anne J. Cotto sambil tersenyum. (EH)





