Indeks News – Fenomena judi online (judol) di Indonesia kian mengkhawatirkan. Kejaksaan Agung (Kejagung) mengungkap fakta mencengangkan bahwa sebagian besar pelaku judi daring bukan hanya dari kalangan dewasa, tetapi juga anak-anak sekolah dasar hingga para tunawisma.
Temuan ini disampaikan oleh Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Umum (Jampidum) Kejagung, Asep Nana Mulyana, dalam keterangannya yang dikutip pada Selasa (28/10/2025).
Ia menyebutkan, data per 12 September 2025 menunjukkan beragam latar belakang sosial ekonomi dari para penjudi daring di Indonesia.
“Dari segi pekerjaan, banyak yang berasal dari kalangan petani, murid sekolah, bahkan mohon maaf, tunawisma pun termasuk di antaranya. Mereka tergiur dengan iming-iming kemenangan instan dari judi online yang secara kasat mata tampak menggiurkan,” ungkap Asep seperti dilansir Antara.
Lebih lanjut, Asep memaparkan bahwa anak-anak SD sudah mulai mengenal dan bermain judi daring, umumnya dimulai dari permainan slot kecil-kecilan yang mudah diakses melalui ponsel.
Dari data Kejagung, demografi penjudi daring didominasi oleh laki-laki sebanyak 88,1 persen (1.899 orang), sedangkan perempuan mencapai 11,9 persen (257 orang).
Berdasarkan kelompok usia, pelaku terbanyak berada pada rentang 26-50 tahun dengan 1.349 orang, disusul kelompok usia 18-25 tahun (631 orang), kemudian lebih dari 50 tahun (164 orang), dan di bawah 18 tahun (12 orang).
Untuk menekan dampak sosial yang semakin meluas, Kejaksaan Agung turut bergabung dalam Desk Pemberantasan Judi Daring, bersama Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Kemenko Polhukam), Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), serta sejumlah kementerian dan lembaga terkait lainnya.
Salah satu fokus utama dari upaya bersama ini adalah peningkatan literasi publik mengenai bahaya judi online.
“Kita ingin masyarakat paham bahwa judi online bukan permainan, melainkan perangkap yang dapat menyengsarakan kita semua,” tegas Asep.
Kejagung menegaskan, perang melawan judi online tidak hanya menyoal penindakan hukum, tetapi juga perang melawan ilusi kesenangan instan yang justru menjerumuskan banyak orang dari berbagai lapisan masyarakat.




