Jakarta, Indek News – Perbandingan antara Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin dan mantan Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan mencuat di publik. Banyak pihak menilai Sjafrie kini tampil sebagai “New Luhut” di era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto karena menangani banyak isu lintas sektor. Namun, pengamat geopolitik Anton Permana menegaskan keduanya memiliki karakter yang berbeda.
Anton menjelaskan, di masa Presiden Joko Widodo, Luhut sering menerima mandat mengurus berbagai sektor strategis, termasuk industri dan perkebunan. Menurutnya, pola tersebut tidak terjadi pada Sjafrie.
“Istilah New Luhut, kalau dulu ada Pak Luhut sekarang ada Pak Sjafrie. Menurut saya pribadi, Pak Sjafrie ini berbeda dengan Pak Luhut. Kalau Pak Luhut dulu kan khusus mencari cuan, industri, perkebunan, semuanya itu Pak Luhut ditunjuk sebagai ketua satgas. Tapi Pak Sjafrie ini lebih seperti tukang cuci piring,” kata Anton dalam kanal YouTube Refly Harun,(10/12/2025).
Anton menilai kiprah Sjafrie terlihat dalam sejumlah peristiwa penting, mulai dari penanganan demo mahasiswa pada 25 Agustus, persoalan tambang timah di Bangka Belitung, banjir di Aceh, hingga masalah Bandara Morowali. Hal inilah yang memunculkan anggapan bahwa Sjafrie menangani terlalu banyak urusan.
“Banyak yang beranggapan, ini kok Pak Sjafrie semuanya mau diambil nih. Mungkin ada traumatik Luhut atau tendensius lain,” ujarnya.
Menurut Anton, langkah Sjafrie justru sejalan dengan tugas pokok seorang menteri pertahanan. Ia menegaskan fungsi Menhan mencakup tiga hal utama: melindungi kedaulatan, menjaga keutuhan wilayah, dan menjamin keselamatan masyarakat.
“Apa yang dilakukan Pak Sjafrie itu tertuang dalam tupoksi menteri pertahanan,” kata Anton.
Ia menambahkan, dalam isu Bangka Belitung maupun IMIP Morowali yang sempat viral, Sjafrie tetap berbicara dalam konteks normatif mengenai kedaulatan negara—sejalan dengan kewenangannya sebagai Menhan.




