spot_img
spot_img

Sepekan Pasca Tragedi Ponpes Al Khoziny: Duka Tak Bertepi di Tanah Sidoarjo

Indeks News – Satu pekan telah berlalu sejak tragedi ambruknya bangunan musala Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny di Buduran, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur.

Peristiwa memilukan yang terjadi pada Senin sore, 29 September 2025 itu menimpa puluhan santri yang tengah menunaikan salat Asar.

Namun aroma debu, suara sirene, dan tangis keluarga korban masih membekas di udara. Tragedi ini bukan sekadar musibah, melainkan luka kolektif yang menyentuh hati masyarakat Jawa Timur dan seluruh Indonesia.

Senin: Detik-detik tragedi runtuh bangunan musala Pondok Pesantren Al Khoziny

Sore itu, langit Sidoarjo tampak teduh. Di dalam musala berlantai dua itu, sekitar seratus santri tengah bersiap menunaikan salat Asar berjemaah. Tanpa peringatan, suara gemeretak keras terdengar dari langit-langit.

Dalam hitungan detik, bangunan beton itu ambruk menyapu bersih ruang ibadah yang baru beberapa bulan lalu selesai direnovasi.

Menggambarkan suasana, kronologi, dan perkembangan sepekan pasca tragedi ambruknya musala Ponpes Al Khoziny di Sidoarjo
Menggambarkan suasana, kronologi, dan perkembangan sepekan pasca tragedi ambruknya musala Ponpes Al Khoziny di Sidoarjo

“Suara ledakannya seperti petir,” tutur Arif (17), salah satu santri yang selamat.

“Tiba-tiba atap turun, semua gelap. Saya dengar teriakan teman-teman di bawah puing.”

Sebagian santri berhasil menyelamatkan diri, namun puluhan lainnya terjebak di bawah tumpukan beton, besi, dan genting yang saling bertumpuk. Dalam kekacauan itu, teriakan minta tolong bercampur dengan tangis dan suara sirine ambulans pertama yang datang dari arah Jalan Raya Buduran.

Selasa: Evakuasi yang Menegangkan

Malam pertama setelah tragedi menjadi waktu terpanjang bagi tim SAR dan keluarga korban. Di bawah cahaya lampu sorot dan hujan rintik, ratusan petugas dari Basarnas, TNI AL, Polri, BPBD, dan relawan berusaha menggali reruntuhan dengan sekop, tangan kosong, hingga alat berat.

“Struktur bangunan sangat rapuh. Kami tidak bisa asal angkat karena khawatir menimpa korban lain,” ujar Laksamana Pertama TNI I Made Oka, Direktur Operasi Basarnas, di lokasi kejadian.

Hingga Selasa pagi, 24 jenazah berhasil dievakuasi. Beberapa di antaranya dalam kondisi utuh, sebagian lainnya tidak lagi dapat dikenali. Keluarga korban yang menunggu di halaman pesantren menangis histeris setiap kali ambulans lewat membawa kantong jenazah.

Rabu-Kamis: Duka Meluas, Doa Mengalir

Rabu pagi, pemerintah daerah menetapkan masa tanggap darurat selama tujuh hari. Ratusan santri yang selamat sementara dievakuasi ke asrama tetangga. Ribuan warga dan alumni Al Khoziny berdatangan untuk membantu logistik, menyiapkan makanan, serta menggelar doa bersama di luar area pesantren.

“Ini bukan hanya duka bagi keluarga pesantren, tapi duka bagi seluruh umat,” ucap KH Abdus Salam Mujib, pengasuh Ponpes Al Khoziny, dengan suara bergetar.

“Kami mohon maaf sebesar-besarnya atas tragedi ini.”

Menggambarkan suasana, kronologi, dan perkembangan sepekan pasca tragedi ambruknya musala Ponpes Al Khoziny di Sidoarjo
Menggambarkan suasana, kronologi, dan perkembangan sepekan pasca tragedi ambruknya musala Ponpes Al Khoziny di Sidoarjo

Pada hari yang sama, tim DVI Polda Jawa Timur mulai melakukan proses identifikasi terhadap jenazah yang sudah ditemukan. Rumah Sakit Bhayangkara Surabaya menjadi pusat identifikasi dengan melibatkan ahli DNA, odontologi forensik, dan medis legal.

Dari 45 jenazah yang masuk hingga hari keempat, baru 11 di antaranya berhasil diidentifikasi dan diserahkan kepada keluarga.

Jumat: Korban Bertambah, Pencarian Diperpanjang

Memasuki hari kelima, operasi pencarian korban memasuki tahap paling krusial. Basarnas menurunkan life detector dan kamera fiber optik untuk mendeteksi rongga di bawah tumpukan beton. Setiap suara atau gerakan kecil menjadi harapan bahwa masih ada korban hidup.

Namun, harapan itu sirna. Tim hanya menemukan jasad-jasad baru beberapa sudah dalam kondisi tidak utuh. Jumlah korban meninggal dunia pun meningkat menjadi 61 orang, termasuk tujuh bagian tubuh (body part) yang ditemukan terpisah.

Di sisi lain, 104 santri dinyatakan selamat, beberapa mengalami luka berat dan trauma mendalam. Mereka dirawat di sejumlah rumah sakit di Sidoarjo dan Surabaya. Tim psikolog dari Kementerian Sosial turut diterjunkan untuk mendampingi para penyintas.

Sabtu: Pertanyaan Tentang Izin dan Konstruksi

Setelah proses evakuasi mulai melambat, perhatian publik beralih pada penyebab runtuhnya musala. Hasil pemeriksaan sementara menunjukkan bahwa bangunan tersebut belum memiliki izin mendirikan bangunan (IMB) yang sah, serta sedang dalam tahap penyelesaian penambahan struktur atas.

“Diduga kuat struktur tidak mampu menahan beban tambahan,” ungkap Kapolda Jawa Timur Irjen Imam Sugianto.

“Kami sudah memeriksa pihak kontraktor dan pengawas bangunan.”

Menggambarkan suasana, kronologi, dan perkembangan sepekan pasca tragedi ambruknya musala Ponpes Al Khoziny di Sidoarjo.
Menggambarkan suasana, kronologi, dan perkembangan sepekan pasca tragedi ambruknya musala Ponpes Al Khoziny di Sidoarjo.

Temuan itu memicu reaksi keras dari masyarakat. Di media sosial, tagar #UsutTuntasAlKhoziny ramai diperbincangkan. Warganet menuntut agar kasus ini tidak sekadar dianggap musibah, tetapi diusut hingga tuntas bila terbukti ada unsur kelalaian manusia.

Minggu: Duka Nasional dan Janji Pemerintah

Hari ketujuh setelah tragedi, suasana di Ponpes Al Khoziny masih diselimuti duka. Di sela pembersihan puing, tumpukan bunga dan foto santri korban dipasang di halaman pesantren.

Para keluarga korban datang silih berganti, menaburkan doa dan air mata di atas tanah yang dulu menjadi tempat anak-anak mereka menuntut ilmu.

Presiden Prabowo Subianto menyampaikan belasungkawa dan memerintahkan Kementerian PUPR serta Kementerian Agama untuk melakukan audit keselamatan bangunan seluruh pesantren di Indonesia.

Pemerintah daerah Sidoarjo pun berjanji akan memperketat pengawasan pembangunan fasilitas pendidikan berbasis masyarakat.

“Musibah ini menjadi pelajaran pahit bagi kita semua,” ujar Bupati Sidoarjo Ahmad Muhdlor.

Setiap bangunan pendidikan harus memenuhi standar teknis agar tidak ada lagi nyawa yang melayang karena kelalaian.

Sementara itu, tim Basarnas resmi menutup operasi pencarian setelah tujuh hari, dengan total korban meninggal sebanyak 67 orang 104 selamat, termasuk beberapa yang belum teridentifikasi sepenuhnya. Puing bangunan kini dijadikan lokasi investigasi lanjutan oleh tim ahli struktur.

Senin: Luka yang Tak Akan Hilang

Sepekan berlalu, Sidoarjo masih berduka. Di setiap sudut pesantren, aroma debu beton bercampur dengan haru dan doa. Bagi keluarga korban, waktu seolah berhenti di sore naas itu saat tembok musala runtuh dan mengubur masa depan anak-anak mereka.

Namun di balik air mata, muncul pula solidaritas dan kesadaran baru. Tragedi Al Khoziny menjadi peringatan keras bahwa keselamatan tidak boleh diabaikan atas nama keikhlasan atau kepercayaan.

Pembangunan rumah ibadah dan lembaga pendidikan, sekecil apa pun, harus mematuhi prinsip teknis dan etika yang melindungi manusia di dalamnya.

Musala boleh runtuh, tapi doa-doa dari hati para santri dan keluarga yang ditinggalkan akan terus bergema menjadi pengingat bahwa duka ini harus berbuah perubahan.

GoogleNews

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses