spot_img
spot_img

Tangisan Seorang Ibu di Jakarta Timur, Kena Denda Rp87 Juta dengan Tuduhan Pencurian Listrik

Indeks News – Air mata seorang ibu di Jakarta Timur menjadi saksi betapa beratnya tuduhan pencurian listrik yang dialamatkan kepada keluarganya. Anton, sang anak, membagikan kisah pilu itu di media sosial.

Ia mengaku terkejut sekaligus tidak berdaya ketika ibunya dituding melakukan pencurian listrik oleh PT PLN (Persero) dan diminta membayar denda fantastis: Rp87 juta.

Keluhan Anton viral setelah ia menuliskan pengalaman keluarganya melalui akun X (dulu Twitter) @kaisarlegend pada Minggu, 10 Agustus 2025.

“Bayangin nyokap lo nangis, shock, & gak berdaya. Ditodong PLN 87 juta + ancam penjara 7 tahun, denda 2,5 M, padahal kami ga nyolong listrik,” tulisnya.

20 Tahun Tinggal di Jakarta Timur Tanpa Masalah

Rumah yang ditempati ibu Anton di Jakarta Timur dibeli sejak tahun 2005. Bangunan itu sendiri berdiri sejak 2003. Selama 20 tahun menghuni, Anton menegaskan tidak pernah ada masalah kelistrikan maupun tindakan modifikasi ilegal.

Tagihan listrik pun selalu mereka bayar, dengan jumlah yang fluktuatif sesuai pemakaian, bahkan cenderung tinggi.

Pada 2017 lalu, Anton sempat meminta PLN memeriksa instalasi rumahnya. Hasil pemeriksaan saat itu tidak menunjukkan adanya kebocoran listrik. “Logikanya, kalau memang kami nyolong listrik, tagihan seharusnya stabil dan rendah. Tapi nyatanya tagihan kami normal bahkan besar,” tegasnya.

Pemeriksaan yang Mengejutkan

Namun, pada Rabu, 25 Juni 2025, PLN melakukan pemeriksaan di sekitar rumah ibu Anton. Dari pemeriksaan awal, ditemukan arus listrik sebesar 3A yang bocor ke jalur tidak seharusnya pada kabel penghubung dari tiang PLN ke rumah.

Petugas PLN bersama vendor sempat menelusuri dugaan aliran ilegal tersebut, namun tidak menemukan titik pasti. Sore harinya, plafon teras rumah dibongkar. Dari dalam plafon, ditemukan sambungan kabel tersembunyi yang menurut petugas merupakan jalur ilegal.

Berdasarkan temuan itu, ibu Anton dipanggil ke kantor PLN UP3 Pondok Gede dan langsung diminta membayar denda Rp87 juta. Keluarga Anton menolak. Mereka menegaskan tidak tahu-menahu tentang kabel di dalam plafon yang keberadaannya nyaris mustahil diketahui penghuni rumah.

Tuduhan yang Dirasakan Menghukum

Anton mengaku tuduhan itu membuat ibunya terpukul. “Bayangin nyokap yang sudah tua, tiba-tiba ditodong dengan tuduhan pencurian. Nangis, shock, nggak berdaya,” tulisnya lagi.

Bukan hanya denda, keluarganya juga merasa diintimidasi. Pada Senin, 30 Juni 2025, petugas PLN datang kembali bersama seorang oknum berseragam TNI berpangkat prajurit dua.

Anton sempat meminta surat tugas, namun yang diperlihatkan adalah dokumen kedaluwarsa. Saat itu, kabel rumahnya diputus, diganti dengan kabel baru yang langsung tersambung ke tiang PLN.

Pihak PLN tetap bersikeras agar keluarga Anton membayar denda Rp87 juta. Jika keberatan, mereka diminta menempuh jalur surat keberatan resmi.

Respons PLN: Masih Proses Komunikasi

Menanggapi kasus ini, Manager PLN UP3 Pondok Gede, Yusra Helmi, menyatakan pihaknya masih berkomunikasi dengan Anton dan keluarganya.

“Masih dalam proses komunikasi antara PLN dengan pelanggan,” jelas Yusra, Senin, 18 Agustus 2025.

Menurutnya, pemeriksaan rutin yang dilakukan PLN terhadap aset kelistrikan, termasuk meteran, bertujuan menjaga keselamatan dan keandalan pasokan listrik.

“PLN memastikan pemeriksaan sesuai prosedur, agar instalasi aman, alat pengukur berfungsi baik, dan pasokan listrik andal,” tuturnya.

Yusra juga mengimbau masyarakat agar tidak mengutak-atik MCB maupun kWh meter tanpa izin. Hal itu, katanya, demi keselamatan sekaligus untuk menghindari sanksi. “Pemeriksaan berkala oleh petugas akan terus dilaksanakan sesuai standar yang berlaku,” ujarnya.

Pertarungan Keluarga Kecil Melawan Sistem

Bagi Anton dan ibunya, persoalan ini bukan hanya soal denda uang, melainkan soal nama baik dan keadilan. Mereka merasa dihukum atas sesuatu yang tidak mereka lakukan. Di sisi lain, PLN tetap berpegang pada prosedur pemeriksaan dan temuan di lapangan.

Di tengah tarik-menarik ini, yang tersisa hanyalah tangisan seorang ibu yang merasa rumahnya, tempat ia tinggal puluhan tahun, kini menjadi sumber kesedihan.

Sementara itu, publik masih menunggu, apakah kisah keluarga kecil ini akan menemukan jalan terang atau berakhir menjadi potret getir relasi warga dengan institusi besar.

GoogleNews

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses