Ustaz Populer dalam Pusaran Politik: Kasus Abdul Wahid Menguak Fakta Baru

Jakarta, Indeks NewsUstaz Abdul Somad (UAS), salah satu mubalig paling populer di Indonesia, buka suara terkait penangkapan Gubernur Riau Abdul Wahid oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Dalam sebuah pernyataan, UAS menegaskan bahwa Abdul Wahid “bukan ditangkap, tetapi hanya dimintai keterangan.”

Pernyataan tersebut menarik perhatian publik, terutama karena UAS dikenal sebagai tokoh agama yang mendukung Abdul Wahid saat Pilkada. Kasus ini pun memunculkan pertanyaan besar: sejauh mana dukungan ustaz populer dapat melindungi seorang pejabat dari jeratan hukum?

KPK sebelumnya menetapkan Abdul Wahid sebagai tersangka atas dugaan praktik pemerasan atau pemalakan dalam perizinan di Pemerintah Provinsi Riau. Ia sempat berusaha melarikan diri, namun akhirnya diamankan di sebuah kafe. Penangkapan ini bukan yang pertama bagi Wahid, yang juga pernah terjerat kasus serupa.

“Kalau sudah digelandang KPK seperti itu, biasanya tidak akan balik lagi,” ujar seorang pengamat politik, menyoroti minimnya ‘backup politik’ Abdul Wahid meski didukung tokoh besar seperti UAS.

Kasus Abdul Wahid kembali membuka diskusi tentang keterlibatan tokoh agama dalam politik praktis. Sebelumnya, UAS juga pernah terlibat dalam dukungan politik untuk Prabowo Subianto pada Pilpres 2019 dan Anies Baswedan pada Pilpres 2024, yang keduanya kalah.

Meski dikenal memiliki jutaan jamaah, banyak yang menilai dukungan tokoh agama belum tentu menjamin keberhasilan politik dalam jangka panjang, apalagi melindungi dari masalah hukum.

“Ternyata, tak ada jaminan kebaikan dari dukungan ustaz populer sekaliber UAS terhadap pejabat, kecuali saat kampanye saja,” ungkap analis sosial-politik.

Hingga kini, publik menanti apakah UAS akan melanjutkan dukungan politiknya atau justru fokus kembali sebagai pendakwah netral yang menjadi rujukan umat.

GoogleNews

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses