Film “Harusnya Horror”: Komedi-Horor yang Serba Tanggung, Terlalu Memaksakan Diri

Jakarta — Harusnya Horror, debut penyutradaraan Reza “Arap” Oktovian, hadir membawa formula komedi-horor dengan latar dunia content creator. Diproduksi Ess Jay Pictures, film yang dibintangi para member AAAClan ini dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 20 Agustus 2026.

Film ini sejak awal mencoba menawarkan sesuatu yang berbeda. Di balik kemasan absurd dan komedinya, Harusnya Horror ingin berbicara mengenai persahabatan, pengkhianatan, pengorbanan, kehilangan, hingga bagaimana manusia menghargai orang-orang terdekat sebelum terlambat.

Namun, dari sudut pandang penulis, niat tersebut justru belum sepenuhnya berhasil diterjemahkan menjadi sebuah film yang solid.

Harusnya Horror
Foto: Eny

Terlalu Memaksakan Diri

Persoalan terbesar Harusnya Horror terasa dari bagaimana film ini berusaha memasukkan terlalu banyak elemen sekaligus. Komedi, horor, satire creator economy, persahabatan, konflik personal, hingga sisi emosional semuanya ingin ditonjolkan, tetapi tidak selalu mendapatkan ruang yang cukup untuk berkembang secara alami.

Film seperti ingin membuktikan bahwa dirinya berbeda, tetapi pada beberapa bagian justru terasa terlalu memaksakan gaya.

Harusnya Horror
Foto: Eny

Salah satu hal yang cukup mengganggu adalah keputusan untuk menjadikan para pembuat konten dan figur yang berada di balik film sebagai bagian yang sangat dominan dalam pengalaman menonton. Alih-alih membiarkan karakter dan cerita menjadi pusat perhatian, film terkadang terasa seperti terlalu sibuk menunjukkan siapa yang membuatnya dan siapa yang terlibat di dalamnya.

Akibatnya, karakter tidak selalu terasa tumbuh secara organik. Ada kesan bahwa film memaksakan beberapa sosok untuk menjadi pusat cerita, sementara pembangunan karakter dan hubungan antartokoh belum cukup kuat untuk membuat penonton benar-benar peduli sejak awal.

Gaya Komedi-Horor yang Terasa Familiar

Harusnya Horror
Foto: Eny

Dari sisi visual, Harusnya Horror juga memiliki pendekatan yang mengingatkan pada film-film komedi-horor Thailand. Penggunaan warna, atmosfer, ekspresi karakter, serta permainan absurd menjadi bagian dari identitas visual yang ingin dibangun.

Sayangnya, gaya tersebut belum tentu otomatis membuat film memiliki identitas sendiri.

Jika dibandingkan dengan film komedi-horor yang berhasil menyeimbangkan humor dan ketegangan, Harusnya Horror justru kerap berada di posisi tengah. Ketika harus lucu, beberapa lelucon terasa tidak cukup kuat untuk benar-benar mengundang tawa. Ketika harus menakutkan, unsur horornya juga belum mampu membangun ketegangan yang konsisten.

Hasilnya adalah sebuah film yang terasa serba nanggung: mau komedi tidak terlalu lucu, mau horor tidak terlalu menyeramkan.

Ada Pesan, tetapi Penyampaiannya Terasa Dipaksakan

Meski demikian, bukan berarti Harusnya Horror tidak memiliki sesuatu untuk disampaikan.

Tema persahabatan menjadi salah satu fondasi terkuat film ini. Cerita mengenai loyalitas, pengkhianatan, memaafkan, kehilangan, dan pengorbanan sebenarnya memiliki potensi emosional yang besar.

Bahkan bagian akhir film mencoba memberikan pukulan emosional yang menjadi pembeda dari kemasan absurdnya.

Masalahnya, pesan tersebut terasa seperti sesuatu yang baru benar-benar ingin ditekankan setelah film terlalu lama bermain dengan absurditasnya. Sehingga ketika film akhirnya meminta penonton untuk ikut merasakan kesedihan dan kehilangan, efek emosionalnya bagi sebagian penonton bisa terasa kurang maksimal karena fondasi dramanya belum dibangun dengan cukup kuat.

Terlalu Terlihat Seperti Film yang “Penting Tayang”

Kesan lain yang muncul dari Harusnya Horror adalah adanya kecenderungan film untuk mengandalkan nama, popularitas, dan fenomena di sekitar para pemain serta kreatornya.

Keberadaan AAAClan tentu menjadi daya tarik utama. Begitu pula status film ini sebagai debut penyutradaraan Reza Oktovian dan persembahan terakhir almarhumah Lula Lahfah memberikan konteks emosional yang kuat.

Namun, sebuah film pada akhirnya tetap harus berdiri melalui cerita, karakter, penyutradaraan, dan eksekusi sinematiknya.

Di titik ini, Harusnya Horror terkadang terasa seperti film yang dibuat dengan banyak energi dan semangat, tetapi belum sepenuhnya menemukan bentuknya. Ada gagasan, ada pesan, ada nama-nama besar di belakangnya, tetapi semuanya belum menyatu menjadi pengalaman menonton yang benar-benar utuh.

Film ini akhirnya berisiko terasa seperti karya yang “yang penting jadi dan tayang”, ketimbang film yang benar-benar matang dalam menyusun setiap elemennya.

Lula Lahfah dan Dimensi Emosional

Kehadiran almarhumah Lula Lahfah tentu membuat pengalaman menonton Harusnya Horror memiliki lapisan emosional tersendiri. Film ini menjadi salah satu karya terakhir yang menampilkan dirinya, sehingga adegan-adegannya secara otomatis memiliki makna yang berbeda bagi mereka yang mengenal dan mengikutinya.

Bagi penggemar Lula, AAAClan, maupun Marapthon, faktor tersebut kemungkinan menjadi alasan kuat mengapa film ini terasa jauh lebih personal.

Namun, secara kritik film, nilai emosional tersebut tetap perlu dipisahkan dari kualitas film secara keseluruhan. Kenangan terhadap seorang pemeran tentu dapat membuat sebuah karya terasa lebih menyentuh, tetapi tidak serta-merta menyelesaikan persoalan pada struktur cerita maupun eksekusi filmnya.

Kesimpulan

Harusnya Horror memiliki niat yang sebenarnya menarik: membawa dunia content creator ke dalam komedi-horor sekaligus menyelipkan kritik mengenai budaya mengejar viralitas dan menjadikan segala sesuatu sebagai konten.

Sayangnya, film ini terlalu banyak ingin menjadi sesuatu dalam waktu bersamaan. Komedinya tidak selalu bekerja, horornya kurang menggigit, sementara dramanya baru terasa kuat ketika film sudah mendekati akhir.

Secara keseluruhan, Harusnya Horror adalah film dengan pesan yang sebenarnya punya hati, tetapi eksekusinya terlalu memaksakan diri.

Film ini mungkin akan menemukan penonton yang tepat, khususnya penggemar AAAClan, Marapthon, Reza Oktovian, dan mereka yang memiliki kedekatan emosional dengan para pemainnya. Namun bagi penonton umum yang datang dengan ekspektasi mendapatkan komedi sekaligus horor yang kuat, film ini bisa meninggalkan kesan bahwa ia berada di antara dua genre tanpa benar-benar berhasil menguasai keduanya.

Mau komedi, kurang lucu. Mau horor, kurang seram. Mau drama, datang terlambat. Pada akhirnya, Harusnya Horror memiliki hati, tetapi belum memiliki eksekusi yang cukup kuat untuk membuat hati tersebut benar-benar terasa.

Harusnya Horror tayang di bioskop Indonesia mulai 20 Agustus 2026.

 

GoogleNews

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses