Indeks News – Langit di atas Kutalimbaru, Deli Serdang, tampak mendung ketika bangunan diskotik yang bersembunyi di balik nama kantor GRIB Jaya Sumut yang sebelumnya berdiri kokoh tiba-tiba dihantam ekskavator.
Udara berat, seolah menahan napas menyaksikan peristiwa yang akan tercatat di sejarah Sumatera Utara tersebut.
Di Jalan Sei Petani, suara raungan alat berat memecah kesunyian. Dinding megah Diskotik Marcopolo—yang dulu bernama Sky Garden—satu per satu runtuh. Bukan dentuman musik yang terdengar, melainkan suara beton retak, besi patah, dan debu yang mengepul.
Gubernur Sumatera Utara Muhammad Bobby Afif Nasution berdiri tegak di garis depan. Di belakangnya, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) lengkap: Pangdam I/Bukit Barisan Mayjen TNI Rio Firdianto, Kapolda Sumut Irjen Pol Whisnu Hermawan, Kajati Harli Siregar, Ketua DPRD Sumut Erni Ariyanti Sitorus, Kepala BNNP Brigjen Pol Toga Panjaitan, serta para bupati.
Mereka hadir bukan untuk seremoni. Mereka memimpin langsung eksekusi pembongkaran dua diskotik ilegal—Marcopolo di Deli Serdang dan New Blue Star di Langkat—yang selama ini dituding menjadi pusat peredaran narkoba.
Bentrok Sebelum Tembok Runtuh

Suasana memanas sejak pagi. Ratusan pemuda berusaha menghadang pasukan gabungan TNI, Polri, Satpol PP, dan aparat pemerintah. Ketegangan memuncak saat sekelompok anggota ormas DPD GRIB Sumut melempari batu ke arah rombongan Gubernur.
Pasukan Brimob bergerak cepat, memukul mundur massa. Beberapa orang mencoba kabur, bahkan memanjat dinding bangunan.
Namun Bobby tidak mundur. Ia tetap berdiri di lokasi, dikawal ketat. Dengan nada tegas, ia menyatakan di hadapan media:
“Bangunan ini tidak punya izin. Ada bukti aktivitas jual beli narkoba di dalamnya. Ini meresahkan masyarakat.”
Klaim pengelola bahwa Marcopolo adalah kantor ormas dibantah mentah-mentah. “Belum pernah saya lihat kantor ormas isinya alat DJ dan speaker besar,” ucap Bobby.
Setelah negosiasi dengan perwakilan ormas gagal, tanda dimulainya eksekusi diberikan. Dua ekskavator bergerak dari sisi berbeda, menghantam tembok Marcopolo hingga hancur.
PLN memutus aliran listrik, menandai akhir riwayat diskotik yang selama ini menjadi buah bibir warga. Dalam hitungan jam, bangunan megah itu tinggal puing.
Pukul 16.00 WIB, giliran New Blue Star di Desa Emplasmen, Sei Bingei, Langkat. Kali ini, 275 personel TNI-Polri dikerahkan. Berbeda dengan Marcopolo, eksekusi berjalan tanpa perlawanan. Alat berat bekerja tanpa hambatan, meratakan bangunan yang dulunya gemerlap dengan lampu malam.
Pesan Perang dari Bobby Nasution

Bagi Bobby, hari itu bukan sekadar pembongkaran. Ini adalah pernyataan perang terhadap narkoba.
“Dalam semangat kemerdekaan, kita harus memerdekakan Sumut dari narkoba. Semua lokasi yang jadi sarang narkoba akan kita bersihkan,” tegasnya.
Ia memastikan penindakan tidak berhenti di darat. Jalur laut, pelabuhan kecil, dan semua pintu masuk barang haram akan diawasi ketat.
“Kita tidak bisa terus menjadi juara bertahan kasus narkoba. Semua pintu masuk akan kita tutup,” ujarnya.
Di tengah debu yang mengepul dari reruntuhan, warga sekitar berdiri menyaksikan. Beberapa tampak lega, sebagian lainnya terdiam, merenungi perubahan yang terjadi di depan mata.
Bagi mereka, malam-malam bising dan gelap penuh transaksi terlarang kini berganti dengan keheningan. Meski hanya awal, langkah ini memberi harapan bahwa Sumatera Utara bisa lepas dari jerat narkoba.
Hari itu, di bawah langit kelabu, Sumut memulai babak baru—babak di mana hukum berdiri tegak dan generasi muda dilindungi dari racun yang menggerogoti masa depan. (FCR)




