Indeks News – Sebuah buku bersampul putih sederhana, namun sarat makna, baru saja diluncurkan oleh dokter Tifa bersama dua rekannya. Buku ini diberi judul “Jokowi’s White Paper”, atau “Buku Putih Jokowi”, yang mereka klaim sebagai dokumen akademis berisi hasil penelitian mendalam tentang keabsahan dokumen dan perilaku kekuasaan Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo.
Peluncuran buku “Buku Putih Jokowi” menuai perhatian besar, bukan hanya karena isinya, tetapi juga karena pesan emosional yang disampaikan sang penulis.
Berikut tujuh fakta penting yang membuat buku ini menjadi sorotan publik.
1. Sampul Putih, Simbol Cahaya Kebenaran
Dalam soft launching yang digelar Senin lalu, dokter Tifa menjelaskan alasan memilih sampul putih.
“Kami sengaja menggunakan warna putih karena ingin menerangi hati semua orang dengan kebenaran,” ujarnya penuh haru.
Ia menegaskan bahwa warna putih bukan sekadar pilihan estetika, melainkan lambang niat suci untuk menyuarakan kebenaran.
2. Ditulis oleh Tiga Tokoh yang Mengaku “Alat Allah”
Buku “Buku Putih Jokowi” bukan sekadar karya akademik. Dokter Tifa menuturkan bahwa ia bersama dua rekannya menulis buku tersebut bukan semata-mata karena status mereka sebagai ilmuwan.
“Kami bertiga ini hanyalah alatnya Allah. Ilmu yang kami miliki adalah amanah, dan tugas kami menyampaikannya,” ungkapnya.
Pernyataan ini menambah nuansa religius dan emosional dalam peluncuran buku tersebut.
3. Mengunci Kebenaran dalam Jejak Abadi
Salah satu pernyataan paling tegas dari dokter Tifa adalah klaim bahwa buku ini telah mengunci kebenaran.
“Kebenaran sudah kami kunci di buku ini dan sudah menjadi jejak abadi. Tidak ada seorang pun yang bisa menghapusnya,” tegasnya.
Ia meyakini bahwa meski manusia bisa dibungkam, buku akan terus berbicara.
4. Mengusung Kajian Digital Forensik, Telematika, dan Neuropolitika
Dalam unggahan di akun X @DokterTifa, buku bersampul putih itu dijelaskan sebagai hasil penelitian di tiga bidang: digital forensik, telematika, dan neuropolitika.
Kajian ini diklaim meneliti secara detail keabsahan dokumen dan perilaku seorang pejabat tinggi negara.
5. Bukan Penghakiman, Tetapi Pembelaan Kebenaran
Meski menuai kontroversi, dokter Tifa menegaskan buku ini bukan ditulis untuk menghakimi seseorang.
“Ini adalah pembelaan terhadap kebenaran. Perjuangan agar negara ini tumbuh dalam kejujuran, keadilan, dan kebenaran,” katanya.
Ia juga menantang siapapun yang tidak sependapat untuk menanggapi dengan penelitian ilmiah serupa, bukan sekadar opini.
6. Suara yang Tak Bisa Dibungkam
Menurut dokter Tifa, buku ini lahir setelah dirinya, Roy Suryo, Rismon, dan pihak lain yang mempertanyakan keabsahan ijazah Jokowi mendapat tekanan.
“Setelah jadi buku seperti ini, pembungkaman tidak mungkin terjadi. Manusia bisa dibungkam, tetapi buku mustahil,” tegasnya.
Baginya, buku ini adalah wakil yang akan terus berbicara, bahkan ketika penulisnya tidak lagi bisa bersuara.
7. Akan Dirilis Global dalam Dua Bahasa
Tak hanya untuk pembaca Indonesia, buku ini juga disiapkan dalam versi bahasa Inggris. Versi digitalnya bahkan akan tersedia di platform internasional Amazon, sehingga pesan yang dibawa buku ini bisa menjangkau dunia.
“Buku Putih Jokowi” tidak hanya hadir sebagai buku, melainkan juga simbol perjuangan menegakkan kebenaran menurut para penulisnya. Bagi dokter Tifa dan tim, buku bersampul putih ini adalah saksi sejarah sekaligus “pembela” ketika manusia bisa dibungkam oleh kekuasaan.
Apakah buku ini akan benar-benar membuka tabir kebenaran atau justru menuai kontroversi lebih besar? Hanya waktu yang bisa menjawab. Namun satu hal pasti, buku ini telah lahir dan meninggalkan jejaknya di ruang publik Indonesia.




