Film animasi keluarga Garuda di Dadaku resmi merilis trailer, poster, serta original soundtrack (OST) terbaru menjelang penayangannya pada 11 Juni 2026 di bioskop seluruh Indonesia.
Diproduksi oleh BASE Entertainment bersama KAWI Animation, film Garuda Di Dadaku ini menghadirkan interpretasi baru dari IP ikonis Indonesia dengan pendekatan visual animasi dan cerita yang lebih emosional serta relevan bagi penonton keluarga masa kini.
Cerita Garuda Di Dadaku tentang Mimpi dan Kebersamaan

Trailer terbaru menampilkan kisah Putra, anak laki-laki berusia 13 tahun yang bercita-cita menjadi pesepak bola terbaik Indonesia. Dalam perjalanannya, ia bertemu dengan sosok Garuda kecil magis bernama Gaga yang membantunya menemukan kembali kepercayaan diri.
Film ini tidak hanya berfokus pada perjalanan individu, tetapi juga menekankan pentingnya dukungan dari orang-orang terdekat, termasuk keluarga, sahabat, dan tim.
Pernyataan Sutradara dan Produser

Sutradara Ronny Gani menyampaikan bahwa proses kreatif film ini mencerminkan pesan utama yang diangkat dalam cerita.
“Kami ingin menunjukkan bahwa mimpi besar tidak pernah berdiri sendiri. Keberanian Putra tumbuh karena ada orang-orang di sekitarnya yang percaya padanya. Proses produksi film ini pun berjalan dengan semangat kolaborasi selama lebih dari tiga tahun.” ujar Ronny Gani saat jumpa pers peluncuran Poster, Trailer dan soundtrack Film Garuda di Dadaku di Plasa Senayan XXI, Selasa (7/4/2026).
Sementara itu, produser Shanty Harmayn menegaskan bahwa film ini mewakili mimpi banyak anak Indonesia.

“Garuda Di Dadaku adalah kisah tentang bagaimana mimpi anak-anak bisa tumbuh lebih kuat ketika ada keluarga, sahabat, dan tim yang berjalan bersama mereka.”
Perbandingan Soundtrack: Versi Lama dan Baru
Versi Netral adalah definisi dari semangat mentah. Ia tidak rumit, tidak berlebihan, tetapi justru di situlah kekuatannya. Lagu ini terasa seperti teriakan bersama di tribun stadion—langsung, keras, dan membakar semangat.
Sebaliknya, Isyana Sarasvati membawa lagu ini ke arah yang lebih reflektif. Aransemen yang megah dan vokal yang emosional membuat lagu ini terasa lebih “dalam”, seolah mengajak pendengar tidak hanya berteriak, tetapi juga merasakan makna nasionalisme itu sendiri.
Perbedaan ini memunculkan pertanyaan: mana yang lebih baik?
Jawabannya bukan soal lebih baik atau lebih buruk, melainkan soal fungsi dan konteks. Versi Netral mungkin tak tergantikan untuk membakar semangat di lapangan, sementara versi Isyana lebih cocok untuk panggung yang membutuhkan sentuhan artistik dan emosional.
Pada akhirnya, kedua versi ini menunjukkan bahwa sebuah karya musik bisa terus hidup selama mampu beradaptasi. “Garuda di Dadaku” bukan sekadar lagu—ia adalah simbol yang bisa diterjemahkan ulang tanpa kehilangan maknanya.
Produksi dan Kolaborasi
Film ini diproduseri oleh Shanty Harmayn bersama Aoura Lovenson Chandra dan Tanya Yuson, dengan naskah ditulis oleh Sofia Lo dan Makbul Mubarak. Proyek ini juga melibatkan berbagai kolaborator, termasuk Robot Playground Media, Springboard, BolaLob, AHHA Production, hingga dukungan dari Singapore Film Commission.
Selain itu, keterlibatan Atta Halilintar sebagai Executive Producer turut memperkuat pendekatan film yang dekat dengan dunia sepak bola dan keluarga Indonesia.
Tayang Liburan Sekolah
Dengan kombinasi cerita inspiratif, visual animasi modern, serta musik yang kuat secara emosional, Garuda Di Dadaku versi animasi diharapkan menjadi salah satu pilihan utama film keluarga saat liburan sekolah tahun ini.
Film ini dijadwalkan tayang serentak di bioskop mulai 11 Juni 2026.




