Film CROCODILE TEARS resmi bakal tayang 7 Mei 2026 mendatang yang dihadiri para pemain dan tim kreatif, di antaranya Marissa Anita, Yusuf Mahardika, Zulfa Maharani, Tumpal Tampubolon selaku sutradara, serta produser Mandy Marahimin.
Film CROCODILE TEARS ini menjadi salah satu karya yang mencuri perhatian karena menghadirkan relasi keluarga yang tidak biasa dan sarat tafsir.
Sutradara Tumpal Tampubolon mengungkapkan bahwa proses lahirnya film CROCODILE TEARS ini memakan waktu sangat panjang. Ide cerita mulai dikembangkan sejak akhir 2017 dan baru benar-benar diproduksi beberapa tahun kemudian.

“Skenarionya ditulis sangat detail dan teliti. Setiap gerak dan adegan kami diskusikan bersama. Ada proses panjang karena kami ingin semua terasa jujur dan tepat,” ujar Tumpal saat conference pers film CROCODILE TEARS di Epicentrum XXI, Selasa (28/4/2026).
Ia juga menjelaskan bahwa film Produksi Talamedia, Acrobates Films, Giraffe Pictures, Poetik Film, 2Pilots Filmproduction ini sempat melalui berbagai forum internasional sebelum akhirnya mendapatkan dukungan pendanaan dari Prancis, Jerman, dan Singapura.
“Kami pelan-pelan membentuk film CROCODILE TEARS ini bersama kolaborator dari berbagai negara, tapi pada akhirnya visi cerita tetap harus kembali ke inti yang kami yakini,” tambahnya.

Marissa Anita: Langsung Tersentuh Sejak Pertama Membaca Naskah
Aktris Marissa Anita, yang memerankan sosok ibu dalam film ini, mengaku langsung tertarik sejak pertama kali menerima materi cerita.
“Saya ingat sekali saat pertama kali dikirim referensi gambar buaya dengan anaknya. Dari gambar itu saja saya langsung merasakan sesuatu. Ada cinta, perlindungan, tapi juga ancaman di saat yang sama,” kata Marissa.

Menurutnya, proses pengembangan karakter selama berbulan-bulan menjadi pengalaman langka dan sangat membantu para aktor.
“Tiga bulan reading dan latihan itu membuat karakter terus tumbuh di kepala kami. Jadi ketika syuting dimulai, kami seperti sudah hidup di dunia keluarga ini,” ujarnya.
Marissa juga menilai representasi keluarga dengan bentuk yang berbeda penting untuk dihadirkan di layar lebar.

“Keluarga itu bentuknya banyak. Ada dinamika yang jarang kita lihat di film, dan menurut saya penting untuk direpresentasikan,” lanjutnya.
Produser: Semua Dibangun untuk Membantu Aktor Masuk ke Dunia Cerita
Produser Mandy Marahimin menambahkan bahwa tim produksi sengaja memberi perhatian besar pada detail, termasuk membangun rumah khusus sebagai lokasi utama karena tidak menemukan rumah yang sesuai dengan deskripsi naskah.
“Kami percaya aktor perlu dibantu dengan ruang yang tepat. Rumah itu bukan sekadar lokasi, tapi bagian penting untuk menciptakan suasana dan emosi para karakter,” jelas Mandy.
Ia menyebut seluruh proses panjang yang dijalani merupakan bentuk komitmen agar film ini tampil maksimal.
“Semua waktu, tenaga, dan proses yang panjang itu kami lakukan agar penonton bisa merasakan pengalaman yang utuh saat menonton,” katanya.
Hubungan Ibu dan Anak yang Mengusik Pikiran
Secara cerita, CROCODILE TEARS bergerak dengan tempo lambat namun intens. Penonton diajak masuk ke dalam hubungan seorang ibu dengan anak laki-lakinya yang telah berusia 20-an tahun, namun masih diperlakukan secara sangat posesif dan berlebihan.
Kedekatan fisik seperti mencium, mengatur hidup sang anak, hingga tidur dalam satu kasur menjadi gambaran hubungan yang memunculkan rasa tidak nyaman sekaligus pertanyaan besar.
Film ini tidak memberi jawaban pasti, melainkan mengajak penonton menilai sendiri: apakah itu cinta seorang ibu, ketakutan kehilangan, atau bentuk kendali yang berlebihan.
Film yang Mengajak Penonton Berpikir
Dengan alur lambat, atmosfer sunyi, dan simbolisme kuat, CROCODILE TEARS bukan film yang mudah ditebak. Namun justru di situlah kekuatannya.
Film ini mengajak penonton merenung: sampai di mana batas kasih sayang orang tua, dan kapan cinta berubah menjadi penjara emosional? . (EH).




