Proyek Fraksionasi Plasma RI Raih Penghargaan IJGlobal Awards 2025

Proyek fasilitas fraksionasi plasma pertama di Indonesia meraih penghargaan Social Infrastructure Deal of the Year, APAC dalam IJGlobal Awards 2025. Proyek ini dikembangkan melalui kemitraan Indonesia Investment Authority (INA) dan SK Plasma melalui PT SKPlasma Core Indonesia.

Penghargaan fraksionasi plasma tersebut diberikan kepada proyek infrastruktur yang dinilai memiliki dampak signifikan, inovasi, serta eksekusi yang kuat. IJGlobal menilai berbagai transaksi di sektor energi dan infrastruktur melalui panel independen.

Secara ekonomi, proyek fraksionasi plasma ini dinilai strategis karena berpotensi mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor Produk Obat Derivat Plasma (PODP), yang selama ini masih mendominasi pasokan dalam negeri. Fasilitas yang berlokasi di Karawang, Jawa Barat ini ditargetkan mulai beroperasi pada 2027.

 Fraksionasi Plasma

Setelah beroperasi, fasilitas Fraksionasi Plasma ini akan memproses plasma darah menjadi produk seperti imunoglobulin dan albumin, yang merupakan komponen penting dalam terapi medis. Produksi domestik diharapkan dapat menekan biaya impor sekaligus memperkuat rantai pasok sektor kesehatan nasional.

Dari sisi pembiayaan, proyek ini didukung pinjaman sindikasi senilai Rp3,7 triliun yang dipimpin PT Alo Bank Indonesia Tbk bersama PT Bank Mega Tbk. Pendanaan ini menjadi salah satu indikator kepercayaan sektor keuangan terhadap kelayakan proyek.

Pengganti Sementara Ketua Dewan Direktur INA, Eddy Porwanto, mengatakan penghargaan ini mencerminkan pentingnya kolaborasi dalam menjawab kebutuhan layanan kesehatan jangka panjang. “Proyek Fraksionasi Plasma ini menunjukkan bagaimana kemitraan dapat diterjemahkan menjadi solusi yang layak secara investasi sekaligus memperkuat kapasitas sektor kesehatan,” ujarnya.

 Fraksionasi Plasma

Sementara itu, Presiden Direktur SK Plasma Core Indonesia, Hyunho (Ted) Roh, menilai pengembangan fasilitas ini akan berdampak pada pengurangan ketergantungan impor produk berbasis plasma. “Selama ini Indonesia masih bergantung pada impor untuk produk seperti albumin dan imunoglobulin. Produksi dalam negeri diharapkan dapat meningkatkan akses dan kualitas layanan bagi pasien,” kata dia.

Dari sisi perbankan, Chief Wholesale dan Treasury Alo Bank, Yogi Bima Sakti, menyebut keterlibatan lembaga keuangan dalam proyek ini mencerminkan peran sektor finansial dalam pembiayaan infrastruktur sosial. “Pendanaan sindikasi ini menunjukkan bahwa proyek kesehatan juga memiliki nilai strategis dan layak secara komersial,” ujarnya.

Sejak diumumkan pada Desember 2024, proyek ini juga mencatat kemajuan dalam pengembangan produk turunan plasma berbasis donor dalam negeri serta pembangunan fasilitas produksi.

 Fraksionasi Plasma

Pengembangan fasilitas ini mencerminkan tren meningkatnya investasi pada infrastruktur kesehatan di Indonesia, khususnya yang berorientasi pada substitusi impor dan peningkatan kapasitas produksi domestik.

 

GoogleNews

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses