Indeks News – Invasi Israel ke Kota Gaza sejak 6 Agustus 2025 telah meninggalkan jejak kehancuran yang kian dalam. Lebih dari 1.000 bangunan rata dengan tanah. Suara ledakan dan kepulan asap tak pernah berhenti menghiasi langit Gaza. Warga sipil, yang seharusnya dilindungi, justru menjadi korban paling menderita di tengah gempuran tanpa henti.
Di tengah reruntuhan, jeritan meminta pertolongan terus terdengar. Namun, petugas medis Palestina tak bisa masuk ke Kota Gaza meski menerima banyak panggilan darurat. Jalan-jalan diblokade, serangan udara dan darat tak pernah berhenti, membuat tenaga medis hanya bisa berdoa dari kejauhan. Rumah sakit yang masih berdiri pun kewalahan menampung korban luka.
Fokus Serangan di Zaitun dan Sabra
Otoritas Gaza melaporkan militer Israel kini memusatkan operasi di kawasan Zaitun dan Sabra. Tank-tank Israel dikerahkan, sementara serangan udara terus menyasar permukiman padat penduduk. Blokade membuat tim kemanusiaan tak mampu menembus jalur masuk.
Lembaga Pertahanan Sipil Palestina pada Minggu (24/8) menyebut, “Tidak ada area yang aman di Jalur Gaza, baik di utara maupun selatan, ketika gempuran terus menargetkan warga sipil di rumah, shelter, bahkan kamp pengungsian.”
Korban di Kota Gaza Terus Berjatuhan
Dalam sehari, Minggu (24/8), 51 orang tewas akibat serangan Israel. Keesokan harinya, Senin (25/8), 10 korban jiwa kembali tercatat, termasuk empat pencari bantuan yang gugur saat mencoba mendapatkan makanan dan air.
Di kamp pengungsian Jabaliya, salah satu kawasan terpadat di Gaza utara, bom menghantam tanpa pandang bulu. Anak-anak, perempuan, hingga lansia menjadi saksi hidup dari tragedi kemanusiaan yang kian memburuk.
Ancaman Kelaparan Maut di Kota Gaza
Lebih mengerikan lagi, Gaza kini menghadapi kelaparan massal. Laporan Integrated Food Security Phase Classification (IPC) pada Jumat (22/8) menegaskan bahwa kelaparan telah benar-benar terjadi di Kota Gaza.
Kementerian Kesehatan Palestina mencatat, hanya pada Minggu (24/8), delapan orang meninggal karena kelaparan. Sejak Israel memulai pengepungan pada Oktober 2023, total 289 warga Gaza, termasuk 115 anak, meregang nyawa karena perut kosong.
Ribuan keluarga kini hidup dalam ketakutan, kehilangan tempat tinggal, dan dikepung rasa lapar. Invasi Israel bukan hanya meruntuhkan bangunan, tetapi juga menghancurkan harapan hidup warga Gaza.
Ketika dunia menyaksikan dari kejauhan, setiap dentuman bom di Gaza adalah pengingat bahwa penderitaan manusia bisa sedemikian nyata. Di tengah puing-puing, para ibu terus berusaha menenangkan anak-anaknya. Namun, bagaimana bisa menenangkan hati bila esok belum tentu ada makanan, air, atau bahkan tempat untuk berteduh?




