Indeks News – Media sosial mendadak geger. Sebuah video yang memperlihatkan ribuan buruh rokok berseragam merah dan biru dongker dengan logo Gudang Garam di dada tersebar luas. Mereka disebut-sebut baru saja terkena pemutusan hubungan kerja (PHK).
Pemandangan itu mengiris hati. Buruh yang selama ini menjadi tulang punggung produksi rokok legendaris itu terlihat pasrah. Namun, hingga kini pihak perusahaan belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait kabar PHK massal tersebut.
Laba Gudang Garam Anjlok Drastis
Kabar ini muncul di tengah kinerja keuangan Gudang Garam yang kian melemah. Laporan keuangan per Juni 2025 mencatat laba bersih perusahaan hanya Rp117,16 miliar sepanjang semester I 2025. Angka itu anjlok 87,3% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp925,51 miliar.
Pendapatan perusahaan juga turun 11,29%, dari Rp50,01 triliun pada semester I 2024 menjadi Rp44,36 triliun pada semester I 2025. Meski biaya pokok pendapatan turun menjadi Rp40,58 triliun, penurunan laba tetap tak terhindarkan.
Beban keuangan perusahaan pun ikut terlihat. Total liabilitas Gudang Garam per Juni 2025 tercatat Rp18,72 triliun, turun dari Rp23,92 triliun tahun sebelumnya. Sementara ekuitas juga menyusut tipis menjadi Rp61,07 triliun.
Nama Gudang Garam bukan sekadar merek. Ia adalah bagian dari sejarah industri kretek Indonesia. Berawal dari usaha kecil pada 1956 di Kediri, didirikan oleh Surya Wonowidjojo (Tjoa Ing-Hwie), perusahaan ini lahir dari mimpi sang pendiri.
Awalnya hanya memproduksi kretek kelobot dengan merek Inghwie, lalu berubah menjadi Perusahaan Rokok Tjap Gudang Garam pada 1958. Dari situ, lahir tiga produk utama: sigaret kretek klobot (SKL), sigaret kretek linting tangan (SKT), dan sigaret kretek linting mesin (SKM).
Salah satu produk paling legendarisnya, Surya, diambil dari nama sang pendiri. Hingga kini, Surya tetap menjadi rokok favorit jutaan perokok di tanah air.
Kejayaan dan Ekspansi Besar
Pada dekade 1980-an, Gudang Garam sudah mengoperasikan pabrik seluas 240 hektare yang mampu memproduksi jutaan batang rokok setiap hari. Setoran cukainya ke pemerintah sangat besar, menjadikannya salah satu penyumbang pajak terbesar negara.
Di tahun 1990-an, Gudang Garam menjelma menjadi konglomerasi besar. Perusahaan bahkan resmi melantai di Bursa Efek Jakarta (BEJ) dan Bursa Efek Surabaya (BES) pada 27 Agustus 1990.
Di bawah kepemimpinan generasi kedua, Susilo Wonowidjojo, perusahaan semakin meluas. Tak hanya rokok, mereka masuk ke bisnis jalan tol melalui PT Surya Kerta Agung dan membangun Bandara Dhoho Kediri lewat PT Surya Dhoho Investama (SDHI).
Pada 2024, Susilo tercatat sebagai salah satu orang terkaya Indonesia versi Forbes, dengan kekayaan sekitar Rp46 triliun.
Kejayaan Gudang Garam pernah begitu kokoh. Pada 2019, harga sahamnya hampir menyentuh Rp90.000 per lembar, sementara laba bersih perusahaan mencapai Rp10,8 triliun. Investor pun selalu memburu sahamnya berkat dividen besar.
Namun kini, bayang-bayang suram mulai terlihat. Penurunan laba, penurunan pendapatan, hingga isu PHK massal menandai masa-masa sulit bagi perusahaan yang dulu dianggap kebal krisis.
Ribuan buruh yang terancam kehilangan pekerjaan bukan hanya angka di atas kertas. Mereka adalah wajah-wajah nyata yang dulu ikut membangun kejayaan Gudang Garam. Kini, mereka harus menunggu kepastian di tengah ketidakjelasan yang mengiris hati.




