Ariana Grande kembali memperluas semesta visual era Petal melalui video musik terbaru untuk singelnya, “hate that i made you love me”. Disutradarai oleh Christian Breslauer dan menampilkan aktor Justin Long sebagai pemeran utama, video ini meninggalkan formula video pop konvensional dan bergerak ke wilayah thriller-horror psikologis yang penuh simbol serta ketegangan emosional.
Sejak detik pertama, video musik lagu milik Ariana Grande ini langsung membangun atmosfer yang suram namun elegan. Breslauer memanfaatkan palet warna dingin dengan dominasi biru gelap, abu-abu, dan nuansa kehijauan yang mengingatkan pada film-film suspense modern. Di beberapa adegan, semburat warna merah muncul sebagai aksen visual yang merepresentasikan obsesi, luka emosional, dan cinta yang belum benar-benar mati.
Dari sisi sinematografi, penggunaan sudut kamera menjadi salah satu kekuatan terbesar video musik Ariana Grande ini. Kamera kerap mengambil angle rendah dan framing sempit saat mengikuti karakter Justin Long, menciptakan rasa tidak nyaman sekaligus memberikan kesan bahwa dirinya terus diawasi. Teknik tracking shot yang bergerak perlahan di lorong-lorong gelap dan ruang kosong membuat penonton ikut merasakan paranoia yang dialami sang karakter.

Sementara itu, sejumlah close-up ekstrem digunakan untuk menyoroti ekspresi ketakutan, kebingungan, hingga rasa bersalah. Transisi yang halus antara realitas dan halusinasi membuat batas keduanya terasa kabur, memperkuat tema utama lagu tentang seseorang yang tidak mampu benar-benar melepaskan hubungan masa lalu.
Justin Long tampil meyakinkan sebagai pria yang berusaha mengubur kenangan tentang mantan kekasihnya, hanya untuk menemukan bahwa masa lalu tersebut terus kembali menghantuinya. Karakternya digambarkan seperti terjebak dalam lingkaran trauma emosional yang tidak pernah selesai. Setiap usaha untuk melanjutkan hidup justru membawa dirinya semakin dekat pada sosok yang ingin dilupakan.
Di sisi lain, Ariana Grande tampil bukan sekadar sebagai penyanyi yang hadir dalam adegan musikal. Ia berfungsi sebagai simbol kenangan, obsesi, sekaligus rasa penyesalan yang terus membayangi karakter utama. Penampilannya sengaja dibuat misterius dengan pencahayaan redup dan komposisi gambar yang sering menempatkannya di latar belakang, seolah hadir di setiap sudut kehidupan Justin tanpa benar-benar bisa disentuh.

Pilihan styling Ariana juga memperkuat identitas visual era Petal. Busana bernuansa vintage-modern dipadukan dengan tata rias yang lebih lembut namun tetap dramatis. Hasilnya adalah sosok yang terlihat anggun sekaligus mengintimidasi, sesuai dengan konsep “cinta yang tak bisa dilupakan” yang menjadi inti cerita.
Secara musikal, “hate that i made you love me” menggabungkan melodi pop melankolis dengan produksi yang atmosferik. Instrumen yang minim namun emosional memberi ruang bagi vokal Ariana Grande untuk menjadi pusat perhatian. Liriknya berbicara tentang konsekuensi emosional dari sebuah hubungan, terutama ketika cinta meninggalkan bekas yang terlalu dalam bagi salah satu pihak.
Yang menarik, video musik ini tidak berusaha menceritakan kisah secara literal. Sebaliknya, Breslauer memilih pendekatan simbolik dengan berbagai metafora visual tentang penguburan masa lalu, rasa bersalah, dan kenangan yang terus hidup meski telah berusaha dilenyapkan. Pendekatan tersebut membuat MV ini terasa lebih seperti film pendek ketimbang video promosi lagu biasa.

Terlepas dari perdebatan mengenai pemilihan Justin Long sebagai pemeran utama, sulit untuk menyangkal bahwa chemistry antara konsep visual, performa akting, dan atmosfer lagu berhasil menciptakan pengalaman yang kuat. Video ini menunjukkan ambisi Ariana Grande untuk terus bereksperimen secara artistik dan menghadirkan karya yang tidak hanya menarik secara musikal, tetapi juga sinematik.
Dengan kualitas produksi yang tinggi, arah visual yang matang, serta narasi psikologis yang kuat, “hate that i made you love me” berpotensi menjadi salah satu video musik paling menarik dalam era Petal. Bukan hanya karena tampilannya yang indah, tetapi karena keberhasilannya mengubah kisah patah hati menjadi sebuah thriller emosional yang terus membekas setelah video berakhir. (EH).




