Indeks News – Unggahan di media sosial yang menyebut Indonesia tidak benar-benar dijajah Belanda selama 350 tahun mendadak viral. Akun Instagram @RekamD******* pada Senin (18/8/2025) mengunggah foto bertuliskan:
“Dibohongi Sejarah! Indonesia Tidak Dijajah Belanda 350 Tahun!”
Unggahan itu disertai video penjelasan yang menyebut, klaim penjajahan 350 tahun awalnya datang dari Presiden Pertama Indonesia, Soekarno, sekitar tahun 1950. Kala itu, Soekarno menyatakan dirinya adalah anak bangsa yang telah menderita akibat kolonialisme selama tiga setengah abad.
Namun, benarkah bangsa Indonesia benar-benar berada di bawah kekuasaan Belanda selama itu?
Kedatangan Cornelis de Houtman dan Awal Kontak Belanda
Sejarah mencatat, orang Belanda pertama kali mendarat di Banten pada 27 Juni 1596. Rombongan dipimpin oleh Cornelis de Houtman. Namun, ia tidak lama hidup di Nusantara karena dibunuh oleh Laksamana Malahayati dari Aceh pada 11 September 1599.
Langkah de Houtman hanya membuka jalan bagi kedatangan rombongan lain dan memicu lahirnya perusahaan dagang raksasa Belanda, VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie).
VOC bukanlah pemerintah resmi Belanda, melainkan sebuah perusahaan dagang yang diberi hak oktroi untuk berperang, membuat perjanjian, hingga mencetak mata uang. VOC akhirnya bubar pada 1799 setelah mengalami kerugian besar dan kekalahan Belanda di tangan Perancis pimpinan Napoleon Bonaparte.
Masa Kekuasaan Perancis dan Inggris
Ketika Belanda jatuh ke tangan Perancis, Louis Napoleon, adik Napoleon Bonaparte, mengirim Herman Willem Daendels sebagai Gubernur Jenderal di Batavia (1808–1811). Daendels dikenal karena membangun Jalan Raya Pos Anyer–Panarukan sepanjang ribuan kilometer di utara Jawa.
Namun kekuasaan itu tak lama. Pada 1811, Inggris menyerang Batavia. Kekuasaan Hindia Belanda pun beralih ke tangan Inggris. Thomas Stamford Raffles memimpin sebagai Gubernur Jenderal hingga 1816, sebelum Indonesia dikembalikan ke Belanda lewat Konvensi London 1814.
Belanda Baru Benar-Benar Menguasai Nusantara pada 1900-an
Meski secara administratif Hindia Belanda terbentuk, nyatanya Belanda tidak langsung menaklukkan seluruh Nusantara. Banyak wilayah yang masih melakukan perlawanan, seperti Perang Diponegoro (1825–1830).
Menurut sejarawan UNS, Susanto, penjajahan yang “benar-benar kolonial” baru terjadi sekitar abad ke-20, ketika Belanda berhasil menguasai hampir seluruh kepulauan pada 1912.
Namun itu pun tidak berlangsung lama. Pada 8 Maret 1942, Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang dalam Perang Dunia II. Sejak itu, kekuasaan atas Indonesia berpindah ke Jepang hingga Jepang sendiri kalah pada 14 Agustus 1945.
Sejarawan: Klaim 350 Tahun Hanya Retorika Politik
Sejarawan UNS, Susanto, menegaskan klaim 350 tahun penjajahan bukanlah hitungan pasti. Angka tersebut muncul lebih karena retorika politik Soekarno untuk membangun identitas nasional dan semangat perlawanan.
Senada, sejarawan UNS lainnya, Harto Juwono, menyebut klaim itu dipakai untuk membakar semangat rakyat yang saat itu masih menghadapi gangguan Belanda meski Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.
Harto juga mengingatkan adanya pidato Gubernur Jenderal Hindia Belanda Bonifacius Cornelis de Jonge pada 1933. De Jonge dengan pongah berkata, “Kita berada di sini sudah 300 tahun dan akan berada di sini 300 tahun lagi.” Pernyataan inilah yang ikut memperkuat kesan bahwa Belanda menjajah lebih dari tiga abad, meskipun faktanya jauh lebih kompleks.
Antara Fakta dan Kenangan Kolektif
Sejarah Indonesia memang tidak sesederhana angka 350 tahun. Fakta menunjukkan, Belanda baru benar-benar menancapkan kuku kekuasaannya di seluruh Nusantara pada awal abad ke-20, dan itu pun hanya bertahan sekitar tiga dekade sebelum Jepang mengambil alih.
Namun, dalam ingatan kolektif bangsa, “350 tahun” adalah simbol penderitaan panjang dan pengorbanan rakyat melawan penjajahan. Angka itu bukan sekadar hitungan, melainkan retorika untuk menyatukan bangsa yang sedang berjuang merdeka.




