Inilah 12 Pejuang Kemerdekaan RI Berasal dari Minangkabau

- Advertisement -
Para pejuang kemerdekaan Republik Indonesia, sebagian besar berasal dari Minangkabau (Sumatera Barat). Hal itu menandai begitu besarnya sumbangsih orang minang sejak era perjuangan kemerdekaan hingga pasca kemerdekaan Indonesia.

Hampir semua pejuang kemerdekaan Republik Indonesia yang berasal dari Minangkabau pada era tersebut memberikan pemikiran-pemikiran yang besar mengenai konsep berbangsa dan bernegara.

Sejumlah pejuang kemerdekaan yang berasal dari Sumatera Barat dalam merebut kemerdekaan dari tangan penjajah telah berperan sesuai keahliannya masing-masing.

Dalam perjuangannya, sebagian ada yang diasingkan bahkan dimasukkan ke penjara.

Inilah 12 pejuang kemerdekaan RI yang berasal dari Minangkabau

1. Mohammad Hatta

Mohammad Hatta lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, 12 Agutus 1902. Bung Hatta merupakan pejuang kemerdekaan. Ia merupakan Wakil Presiden RI pertama Bersama dengan Soekarno dan Ahmad Soebardjo, Bung Hatta merumuskan naskah proklamasi.

Ia mengusulkan isi paragraf kedua pada naskah tersebut. Bung Hatta wafat pada 14 Maret 1980 di Jakarta. Melalui Keppres No 81/TK/1986, Bung Hatta mendapat gelar Pahlawan Proklamator pada 23 Oktober 1966 bersama Bung Karno.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada Bung Hatta pada 7 November 2012.

2. Abdul Muis

Abdul Muis lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, 3 Juli 1883. Abdul Muis adalah pejuang kemerdekaan sejak zaman Hindia Belanda. Pada zaman pergerakan, ia aktif dan turut bergabung dalam Serikat Islam yang dimotori oleh HOS Cokroaminoto.

Bersama tokoh lainnya, Abdul Muis terus berjuang menentang Belanda melalui jalur perundingan politik. Abdul Muis mendapat gelar Pahlawann Nasional dari Presiden Soekarno pada tanggal 30 Agustus 1959.

3. Rasuna Said

Rasuna Said lahir di Desa Panyinggahan, Maninjau, Agam, Sumatera Barat, pada 14 September 1910.

Rasuna Said merupakan perempuan bangsawan Sumatera Barat yang memiliki nama lengkap Hajjah Rangkayo Rasuna Said. Rasuna Said merupakan perjuang kemerdekaan, terutama dalam memperjuangkan hak-hak perempuan.

Ia merupakan orator ulung yang mengkritik pemerintah kolonial Belanda hingga dijuluki singa betina. Rasuna Said meninggal pada tanggal 2 November 1965 di Jakarta.

Usulan gelar Pahlawan Nasional Rasuna Said disahkan pada tanggal 13 Desember 1974 berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No 084/TK/Tahun 1974. Jenazahnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

4. Tuanku Imam Bonjol

Tuanku Imam Bonjol lahir di Bonjol, Luhak Agam, Pagaruyung, Sumatera Barat pada tanggal 1 Januari 1772. Tuanku Imam Bonjol merupakan pejuang kemerdekaan yang terkenal sebagai pemimpin kaum Padri di Bonjol.

Ia memimpim kaum Padri untuk melawan Belanda. Di bawah kepemimpinannya, kaum Padri kembali bersatu dengan kaum adat melawan Belanda. Puncaknya, Tuanku Imam Bonjol ditangkap Belanda dan dibuang ke Jawa Barat.

Kemudian, ia dipindahkan ke Ambon dan akhirnya ke Minahasa. Tuanku Imam Bonjol wafat pada tanggal 8 November 1864 di tempat pengasingannya di Minahasa.

Tuanku Imam Bonjol mendapatkan gelar Pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden RI Nomor 087/TK/Tahun 1973 tanggal 6 November 1973.

5. Mohammad Yamin

Mohammad Yamin lahir di Talawi, Sawahlunto, Sumatera Barat, 23 Agustus 1903. Mohammad Yamin memiliki peran penting dalam perjuangan melawan penjajah. Mohammad Yamin merupakan penggagas dan perumus Sumpah Pemuda dalam Kongres Pemuda II pada tahun 1928.

Ia wafat pada 17 Oktober 1962 di Jakarta. Jenazahnya dimakamkan di Desa Talawi, Sawahlunto, Sumatera Barat. Gelar Pahlawan Nasional diberikan melalui Surat Keputusan Presiden RI 6 Novemebr 1973.

6. Agus Salim

Agus Salim lahir di Koto Gadang, Sumatera Barat, 8 Oktober 1884. Agus Salim merupakan pejuang kemerdekaan. Prestasinya dalam bidang diplomasi dan kefasihan dalam beberapa bahasa asing.

Agus Salim merupakan anggota Panitia Sembilan yang bertugas untuk menyusun dasar negara. Saat Belanda melancarkan Agresi Militer II, Agus Salim yang menjabat Menteri Luar Negeri dalam kabinet Hatta I menjadi tokoh yang di asingkan bersama Syahrir dan Soekarno ke Brastagi, Sumatera Utara. Agus Salim wafat pada 5 November 1954.

Ia dinobatkan sebagai Pahlawan Nasioanl pada tanggal 27 Desember 1961 melalui Keppres Nomor 657 Tahun 1961.

7. Buya Hamka

Buya Hamka lahir di Tanah Sirah, Sumatera Barat, pada 17 Februari 1908. Buya Hamka merupakan tokoh sastrawan yang turut mempertahankan kemerdekaan Indonesia pada masa revolusi.

Buya Hamka sempat menjadi sasaran kritik sebagai kaki tangan penjajah karena diangkat sebagai penasehat agama Jepang. Pada masa Revolusi, Buya Hamka turut berjuang mengusir penjajah Belanda bersama gerilyawan di hutan-hutan Medan.

Buya Hamka wafat pada 24 Juli 1981. Jenazahnya dimakamkan di Tanah Kusir, Jakarta. Buya Hamka ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 7 November 2011.

8. Rohana Kudus

Rohana Kudus lahir di Kotogadang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, 20 Desember 1884. Rohana Kudus merupakan perempuan pertama yang menekuni profesi wartawan.

Rohana Kudus mendirikan koran Soenting Melajoe bersama Pemimpin Warta Berita Mahyuddin, Datuk Sutan Maharajo. Kementerian Sosial Republik Indonesia menetapkan Rohana Kudus, jurnalis pertama asal Sumatera Barat, sebagai Pahlawan Nasioanl pada 2019.

Gelar tersebut berdasarkan pertemuan dewan gelar, tanda jasa, dan tanda kehormatan dengan Presiden Joko Widodo. Penobatan gelar dilakukan di Istana Negara pada 8 November 2019.

9. Mohammad Natsir

Mohammad Natsir lahir di Alahan Panjang, Lembah Gumanti, Solok, Sumatera Barat, pada 17 Juli 1908. Mohammad Natsir merupakan sosok ulama yang berjuang demi bangsa dan negara. Pada tahun 1950, Natsir mengumumkan Mosi Integral Natsir yang berhasil menyatukan Republik Indonesia menjadi negara kesatuan, yang sebelumnya berbentuk federal.

Atas jasanya, Presiden Soekarno mengangkat sebagai Perdana Menteri. Natsir juga pernah dijebloskan ke penjara karena tudingan dalam pemberontakan PRRI. Ia dibebaskan pada masa orde baru pada tahun 1966.

Mohammad Natsir wafat pada tanggal 6 Februari 1993. Ia ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 6 November 2008.

10. Sutan Sjahrir

Sutan Sjahrir lahir di Padang Panjang, Sumatera Barat, pada 5 Maret 1909. Sutan Sjahrir pernah menjadi Perdana Menteri Indonesia. Ia adalah tokoh intelektual yang idealis.

Sjahrir dikenal sebagai sosok mengutamakan negaranya di atas kepentinagnnya sendiri. Ia sebagai sosok yang mendesak segera dilakukan Proklamasi Kemerdekaan. Sjahrir sempat menculik Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok pada 16 Agustus 1945, menjelang proklamasi.

Tujuannya agar keduanya tidak terpengaruh oleh Jepang. Sampai akhirnya, Soekarno-Hatta memproklamirkan Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 setelah didesak para pemuda. Sjahrir meninggal di Swiss pada 9 April 1956.

Pada tanggal yang sama melalui Keppres Nomor 76 Tahun 1966, Sutan Sjahrir dikukuhkan sebagai Pahlawan Nasional.

11. Tan Malaka

Tan Malaka yang bernama asli Sutan Ibrahim Datuak Tan Malaka merupakan salah satu tokoh nasional yang lahir di Suliki, Lima Puluh Kota, Sumbar pada 2 Juni 1897.

Tan Malaka salah satu tokoh nasional yang diberi gelar Bapak Republik Indonesia, karena dia menjadi tokoh pertama yang memberi nama Republik Indonesia.

12. Bahder Djohan

Prof. Dr. (H.C.) dr. Bahder Djohan, lahir 30 Juli 1902 merupakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia pada Kabinet Natsir dan Kabinet Wilopo.

Bahder Djohan merupakan anak kelima dari sepuluh bersaudara pasangan Mohamad Rapal gelar Sutan Boerhanoedin orang Koto Gadang, Agam, dengan Lisah yang berasal dari Alang Laweh, Padang.

Ayahnya berprofesi sebagai jaksa. Bahder Djohan menerima gelar Marah Besar pada pernikahannya dengan Siti Zairi Yaman.

Bahder Djohan adalah seorang Indonesia sejati. Ia merupakan sosok yang menjunjung tinggi nilai nasionalimse, aktif dalam berbagai kegiatan pergerakan pemuda, dan dengan lantang menyuarakan kesetaraan dalam pidatonya pada Kongres Pemuda Pertama.

Dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia, Bahder Djohan telah memberikan pelajaran tentang nilai nasionalisme, persatuan dan kesetaraan.

Dalam pidato Kongres Pemuda Pertama, Bahder Djohan menyampaikan perlu adanya kesamaan derajat mengenai peran pria dan wanita dalam perjuangan  pergerakan nasional Indonesia.

Profesinya sebagai dokter membawa Bahder Djohan menjadi individu yang humanis sekaligus nasionalis. Bahder Djohan aktif dalam Palang Merah Indonesia sekaligus membangun dunia kedokteran dan pendidikan.

Sejalan dengan perjuangan sebagai dokter, Bahder Djohan mengemban tugas menjadi Menteri Pengajaran Pendidikan dan Kebudayaan (PP dan K) di era kabinet Natris, dan juga kabinet Wilopo.

Kemudian Bahder Djohan menjabat sebagai Presiden Universitas Indonesia. Semua profesinya itu diemban untuk menjalankan amanah dan keinginannya berperan dalam pembangunan bangsa.

Dia wafat pada 8 Maret 1981

 

Trending Topic

Subscribe
Notify of

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Iklan

Hot News

Game

PENTING UNTUK DIBACA