Bentrok Antarwarga di Ambon, 557 Orang Mengungsi, 17 Rumah Hangus Dibakar

Indeks News – Suasana duka masih menyelimuti Desa Hunuth, Kecamatan Teluk Ambon, Kota Ambon. Sejak Selasa, 19 Agustus 2025, akibat bentrok antarwarga. Ratusan keluarga harus meninggalkan rumah mereka.

Kini, sedikitnya 557 jiwa mengungsi di empat lokasi berbeda untuk menghindari bentrok antarwarga yang belum menjamin keamanan mereka. Warga meninggalkan harta dan kenangan yang hangus bersama rumah mereka.

Bentrok antarwarga ini terjadi bermula dari persoalan individu itu berubah menjadi amarah massal. Tawuran siswa yang merenggut satu nyawa menjalar menjadi konflik besar. Api kemudian melalap 17 rumah hingga rata dengan tanah, sementara puluhan lainnya rusak. Kaca jendela pecah, dinding roboh, dan jalan desa penuh puing—jejak amarah yang tak mudah dihapus.

Meski sore hari situasi berhasil dikendalikan aparat, ketakutan warga belum juga reda. Malam itu, mereka memilih tidur di pengungsian dengan alas seadanya, ditemani tangis anak-anak yang belum mengerti mengapa rumah mereka tak lagi ada.

Aparat Dikerahkan, Korban Bertambah

Sebanyak 350 personel gabungan TNI-Polri diturunkan ke lokasi untuk meredam situasi. Mereka terdiri dari Brimob Polda Maluku, Polresta Ambon, hingga Kodim 1504 Ambon. Kepala Seksi Humas Polresta Pulau Ambon, Ipda Janet Luhukay, mengingatkan warga untuk tidak main hakim sendiri.

Namun bentrok antarwarga itu juga melukai aparat. Seorang anggota Samapta bernama Wisnu terkena lemparan massa dan kini menjalani perawatan medis.

Pemerintah Bergerak, Warga Diminta Tenang

Wali Kota Ambon, Bodewin Wattimena, meminta masyarakat tidak terprovokasi isu yang memperkeruh keadaan. Ia menegaskan pemerintah kota bersama aparat keamanan terus berupaya menciptakan kembali rasa aman.

“Pemerintah Kota Ambon akan segera membangun kembali rumah-rumah yang terbakar,” ucapnya. Janji itu menjadi satu-satunya penghiburan bagi warga yang kini hanya berbekal pakaian di badan.

Dinas Sosial Kota Ambon telah menyalurkan bantuan darurat berupa obat-obatan, makanan, hingga perlengkapan tidur. Namun, wajah-wajah lelah di pengungsian menunjukkan kebutuhan yang jauh lebih besar: keamanan, kedamaian, dan kepastian untuk kembali ke rumah.

Di tengah bara yang mulai padam, keheningan Desa Hunuth menyisakan pertanyaan besar: mengapa masalah kecil harus berakhir dengan rumah terbakar dan ratusan orang kehilangan tempat tinggal?

Bentrok ini kembali mengingatkan bahwa perdamaian di Ambon bukan sekadar urusan aparat, melainkan tekad bersama. Suara tokoh masyarakat kini menjadi penopang agar amarah tidak kembali menyala.

Dan di pengungsian, setiap malam, doa yang sama terus dipanjatkan: semoga Hunuth kembali aman, semoga anak-anak bisa pulang, semoga luka ini tidak diwariskan.

GoogleNews

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses