KEBUMEN, Indeks News — Dari puluhan dapur penyelenggara Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, baru tiga dapur yang dinyatakan memenuhi standar laik higiene dan sanitasi. Padahal, sertifikat ini merupakan syarat wajib untuk menjamin keamanan pangan dalam program nasional tersebut.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kebumen, dr. Iwan Danardono, mengatakan
“Data kami baru ada tiga dapur yang sudah ber-SLHS (Sertifikat Laik Higiene Sanitasi), sementara lainnya belum,” ujar dr. Iwan.
Ia menegaskan bahwa kepemilikan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) menjadi indikator utama kelayakan dan keamanan pangan di program MBG.
Ketentuan tersebut mengacu pada Surat Edaran Menteri Kesehatan Nomor HK.02.02/C.I/4202/2025 tentang Percepatan Penerbitan SLHS untuk Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam Program MBG.
Dalam aturan itu dijelaskan, SPPG yang sudah beroperasi wajib memiliki SLHS paling lambat satu bulan sejak surat edaran diterbitkan. Sementara SPPG baru diberi waktu satu bulan sejak ditetapkan sebagai penyelenggara resmi.
Langkah ini diambil pemerintah untuk memastikan bahwa makanan yang disajikan kepada peserta didik aman, higienis, dan memenuhi standar gizi.
- Iwan menegaskan, pengawasan diperketat menyusul kasus keracunan pangan di Kecamatan Petanahan beberapa waktu lalu. Hasil uji laboratorium menemukan adanya kontaminasi bakteri pada makanan yang disajikan.
“Kami dari Dinkes menjaga agar jangan sampai terulang lagi kejadian kemarin. Tolong patuh pada aturan, kasus kemarin itu ternyata ada bakterinya,” tegasnya.
Menurutnya, kasus tersebut menjadi peringatan keras bagi seluruh pengelola dapur MBG agar disiplin menjalankan protokol kebersihan, mulai dari penggunaan sarung tangan, masker, hingga penutup kepala.
“Hal kecil seperti penggunaan handscoon yang benar sangat berpengaruh. Jangan dipakai untuk aktivitas lain saat menyiapkan makanan. Pengawasan kepala dapur juga harus lebih ketat,” ujarnya.
Bupati Kebumen Lilis menegaskan bahwa Program Makan Bergizi Gratis bukan sekadar bagi-bagi makanan, melainkan investasi kesehatan dan masa depan generasi muda.
“Program ini bukan sekadar bagi-bagi makanan, tapi investasi masa depan. Semua prosesnya, dari perencanaan dapur, pengolahan bahan, packaging, distribusi, hingga pencucian alat harus sesuai standar,” tegasnya.
Selain itu, Lilis juga mendorong agar seluruh dapur MBG di Kebumen memanfaatkan bahan pangan lokal, seperti kacang panjang, labu siam, putren, dan jagung, guna mendukung pertumbuhan ekonomi UMKM daerah.
“Gunakan bahan lokal agar ekonomi masyarakat ikut bergerak. MBG bukan hanya soal gizi, tapi juga pemberdayaan ekonomi rakyat,” tambahnya.




