Jakarta, Indeks News – Banjir bandang yang menerjang sejumlah wilayah di Sumatera Utara meninggalkan fenomena mencolok: munculnya kayu-kayu gelondongan yang terbawa arus dari hulu sungai. Kayu-kayu tersebut ditemukan di Kabupaten Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, hingga Kota Sibolga, memicu dugaan kuat adanya aktivitas penebangan liar di kawasan hutan.
Temuan itu memunculkan pertanyaan besar: apakah gelondongan kayu tersebut menjadi bukti kerusakan hutan yang memperparah banjir dan longsor di Sumut?
Kepala Kampanye Global Hutan Indonesia Greenpeace, Kiki Taufik, menyebut bahwa keberadaan kayu dalam jumlah besar saat banjir bandang bisa menjadi petunjuk penting mengenai rusaknya ekosistem hutan di daerah tersebut. Fenomena ini, menurutnya, harus ditelusuri dengan serius oleh pemerintah dan aparat penegak hukum.
Kiki menegaskan bahwa pola banjir bandang yang membawa material kayu biasanya terjadi di wilayah yang mengalami tekanan terhadap tutupan hutan, baik akibat pembalakan liar maupun pembukaan lahan tidak terkendali. Investigasi menyeluruh diperlukan untuk memastikan sumber kayu tersebut serta pihak yang bertanggung jawab.
Greenpeace juga mendorong pemerintah pusat dan daerah untuk memperketat pengawasan kawasan hutan, meningkatkan penegakan hukum, serta melibatkan masyarakat lokal dalam pemantauan aktivitas ilegal yang berpotensi merusak lingkungan.
Bencana di Sumatera Utara ini sekaligus menjadi alarm keras mengenai pentingnya pengelolaan hutan berkelanjutan dan mitigasi bencana berbasis ekologi.




