Beranda blog Halaman 233

Anies Baswedan Masuk Kabinet Prabowo? Pengamat: Rawan Tekanan Partai

0
Anies Baswedan

Indeks News – Spekulasi masuknya Anies Baswedan ke Kabinet Prabowo Subianto kini menjadi pembicaraan hangat di kalangan politik dan publik luas. Isu ini muncul setelah reshuffle kabinet meninggalkan beberapa kursi kosong yang belum terisi.

Nama Anies Baswedan kembali melambung, bukan hanya karena rekam jejaknya, tetapi juga karena simbol politik yang mungkin ia bawa jika benar-benar bergabung dalam pemerintahan.

Anies Rasyid Baswedan bukan nama asing di dunia politik Indonesia. Ia pernah menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan di era Presiden Joko Widodo, sebelum akhirnya terpilih sebagai Gubernur DKI Jakarta (2017–2022).

Identitasnya dikenal luas sebagai akademisi sekaligus politikus yang kerap mengusung gagasan perubahan. Di banyak kesempatan, Anies menyoroti isu keadilan sosial, pendidikan, hingga kebijakan publik yang menyentuh kebutuhan masyarakat bawah. Karakter inilah yang membuat namanya terus bergema bahkan setelah tidak lagi menjabat.

Asal-Usul Isu Anies Baswedan Masuk Kabinet

Isu Anies Baswedan masuk kabinet Prabowo tidak datang tiba-tiba. Wacana ini berkembang setelah adanya kursi kabinet kosong yang tersisa usai reshuffle.

Tokoh seperti Syahganda Nainggolan menyebut kehadiran Anies bisa menjadi simbol rekonsiliasi nasional. Artinya, pemerintahan Prabowo akan tampil lebih inklusif dengan merangkul beragam elemen bangsa.

Namun, pengamat hukum tata negara Refly Harun mengingatkan bahwa masuknya Anies ke kabinet tidak sederhana. Ia menilai, jika Anies menerima tawaran, pasti ada syarat politik tertentu untuk menjaga keseimbangan kekuasaan di internal koalisi.

Menteri Apa yang Cocok untuk Anies Baswedan?

Meski belum ada pengumuman resmi, publik terus berspekulasi soal posisi yang mungkin diduduki Anies. Beberapa jabatan yang dianggap realistis antara lain:

  • Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi: sesuai dengan latar belakangnya sebagai mantan Mendikbud.
  • Menteri Dalam Negeri: jabatan strategis untuk menjaga stabilitas politik dan koordinasi antardaerah.
  • Menteri Luar Negeri: posisi “netral” yang mencerminkan simbol persatuan nasional.
  • Menteri Infrastruktur atau Perencanaan Nasional: berkaitan dengan isu pembangunan dan tata ruang yang pernah ia tangani di Jakarta.

Namun, semua opsi tersebut masih sebatas rumor tanpa kepastian.

Reaksi dan Syarat dari Anies Baswedan

Hingga kini, Anies Baswedan belum memberikan jawaban tegas. Ia hanya menekankan bahwa pembentukan kabinet adalah hak prerogatif Presiden Prabowo Subianto.

Meski begitu, sejumlah pengamat menilai, jika benar masuk kabinet, Anies pasti mengajukan syarat penting. Bukan sekadar simbol politik, tetapi harus ada ruang kebijakan nyata yang bisa ia jalankan. Selain itu, ada spekulasi bahwa Anies meminta jaminan agar tidak ditempatkan di posisi yang rawan tekanan partai.

Di balik semua rumor ini, ada cerita yang lebih dalam: isu masuknya Anies ke kabinet bukan hanya soal kursi menteri, melainkan juga simbol politik besar.

Jika benar terjadi, langkah ini bisa menjadi titik temu dua arus besar politik yang sebelumnya berseberangan. Sebuah rekonsiliasi yang tak hanya menggugah para elit, tetapi juga menyentuh hati publik yang rindu melihat pemimpin bersatu untuk bangsa.

Apakah Anies akan benar-benar menerima tawaran itu? Atau justru memilih tetap berada di luar lingkar kekuasaan? Jawabannya masih misteri, namun jelas bahwa isu ini telah membuka ruang harapan dan perdebatan politik yang penuh emosi di Indonesia.

Silfester Matutina Menari Bebas di Tengah Rusaknya Kredibilitas Institusi Penegak Hukum

0
Silfester Matutina

Indeks News – Enam tahun sudah berlalu sejak putusan kasasi Mahkamah Agung menjatuhkan hukuman penjara 1 tahun 6 bulan kepada Silfester Matutina. Ia divonis bersalah dalam kasus fitnah terhadap mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Namun, hingga kini eksekusi itu tak pernah benar-benar dilakukan.

Ironisnya, Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan yang seharusnya menjadi eksekutor justru tak kunjung menunjukkan tindakan tegas. Bahkan, ketika dipanggil resmi oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan untuk hadir dalam sidang praperadilan yang digelar tiga kali berturut-turut, jaksa tetap tak muncul.

Sidang praperadilan yang diajukan oleh Aliansi Rakyat untuk Keadilan dan Kesejahteraan Indonesia (ARUKKI) kembali digelar pada Senin, 15 September 2025.

Agenda itu seharusnya menjadi momentum penting untuk mendesak eksekusi terhadap Silfester. Namun, yang terjadi justru sebaliknya: kursi termohon kosong untuk ketiga kalinya.

Majelis hakim pun memerintahkan ARUKKI menyiapkan alat bukti tambahan untuk persidangan lanjutan pada Selasa, 16 September 2025.

“Ketidakhadiran termohon hingga tiga kali patut diduga karena tidak siap menjawab alasan sah terkait belum dilaksanakannya eksekusi terhadap terpidana Silfester Matutina,” ujar kuasa hukum ARUKKI, Rudy Marjono, dalam keterangan tertulisnya.

Rudy tak segan menuding Kejari Jaksel bermain “kucing-kucingan” dengan Silfester Matutina. Ia juga menyoroti lemahnya peran intelijen kejaksaan.

“Publik berhak bertanya: apakah intel Kejari Jakarta Selatan tidak bergerak, atau ada faktor lain yang menyebabkan penundaan eksekusi ini?” tegasnya.

Bagi ARUKKI, perkara ini bukan sekadar soal Silfester Matutina. Ini adalah ujian besar bagi kredibilitas institusi penegak hukum. Putusan kasasi telah berkekuatan hukum tetap sejak 16 September 2019, tetapi enam tahun kemudian vonis itu masih “menggantung di udara.”

Absennya Kejari Jakarta Selatan dalam persidangan bahkan dinilai sebagai bentuk pelecehan hukum. ARUKKI berencana melaporkan hal ini ke Jaksa Agung Muda Pengawasan serta Komisi Kejaksaan.

Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan sendiri sempat menyatakan ikut penasaran dengan sikap kejaksaan. “Kenapa eksekusi tak kunjung dijalankan?” begitu kira-kira pertanyaan yang bergema di ruang sidang.

Silfester Matutina Masih Bebas Melenggang

Di sisi lain, sosok Silfester Matutina tetap bebas berkegiatan. Ia dikenal sebagai pendukung Presiden ke-7 Joko Widodo. Bahkan setelah berstatus terpidana, Silfester masih kerap muncul di televisi, termasuk dalam diskusi bersama Roy Suryo terkait isu ijazah Jokowi.

Namun, setelah publik ramai mempertanyakan eksekusi yang tak kunjung dilakukan, wajah Silfester perlahan menghilang dari layar kaca. Ia sempat mengajukan Peninjauan Kembali (PK) ke PN Jakarta Selatan. Tetapi hakim menggugurkan permohonan itu pada 27 Agustus 2025.

Hakim Ketua I Ketut Darpawan menyatakan surat keterangan medis yang dibawa Silfester tak bisa diterima karena tak mampu menjawab pertanyaan penting terkait kondisinya.

“Dengan demikian, kami nyatakan pemeriksaan ini selesai dan gugur,” tegasnya di ruang sidang.

Sayangnya, hingga kini Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan tetap bungkam. Di balik setiap vonis yang tak dijalankan, publik merasakan luka. Bukan hanya soal seorang Silfester, tapi soal tegaknya hukum di negeri ini.

Duel Panas Buriram United vs JDT: Pertaruhan Harga Diri Asia Tenggara

0
Buriram United

Indeks News – Buriram United dan Johor Darul Ta’zim (JDT) akan membuka perjalanan mereka di Liga Champions Asia Elite 2025/2026 dengan sebuah duel sarat gengsi. Pertandingan ini bukan sekadar laga pembuka, melainkan juga pertarungan harga diri Asia Tenggara.

Laga anatar Buriram United vs Johor Darul Ta’zim (JDT) akan digelar di Stadion megah Chang Arena, Buriram, Thailand, Selasa (16/9/2025) malam WIB. Kedua tim datang dengan status yang sama-sama menggetarkan: penguasa liga domestik masing-masing.

JDT melaju sempurna di Liga Super Malaysia. Lima laga awal mereka sapu bersih dengan kemenangan, mencetak 18 gol yang menunjukkan ketajaman luar biasa.

Di sisi lain, Buriram United tak kalah mengesankan. Mereka menguasai Liga Thailand dengan empat kemenangan beruntun, menorehkan 12 gol, dan mengukuhkan diri sebagai raksasa Siam yang sedang panas.

Statistik dan Rekor Berbicara

Secara data, Johor Darul Ta’zim lebih diunggulkan. Opta Power Ranking menempatkan skuad asuhan Xisco Munoz di peringkat ke-9 Asia. Buriram United terpaut jauh di posisi ke-28.

Namun, sejarah justru berpihak pada Buriram. Dari tiga pertemuan terakhir melawan JDT di kompetisi elit Asia, mereka tak pernah kalah. Bahkan, musim lalu Buriram menjadi tembok yang mengubur mimpi JDT menuju perempat final.

Inilah yang membuat laga nanti terasa penuh beban emosional. JDT datang dengan tekad membalas luka lama, sementara Buriram ingin mempertahankan dominasi mereka di ASEAN.

Aroma Indonesia di Buriram United

Pertandingan ini juga menyimpan nuansa khusus bagi penggemar sepak bola Indonesia. Buriram United diperkuat dua bek andalan Timnas Garuda, Sandy Walsh dan Shayne Pattynama. Keduanya akan berhadapan langsung dengan bintang naturalisasi Malaysia yang memperkuat JDT, seperti Joao Figueiredo, Jon Irazabal, Hector Hevel, La’vere Corbin Ong, hingga Romel Morales.

Bentrok para pemain naturalisasi dari dua negara serumpun ini akan jadi tontonan yang memantik emosi suporter. Banyak fans Indonesia dan Malaysia yang sudah lama menantikan duel panas antarnegara, dan laga Buriram kontra JDT ini menjadi panggung pengganti yang lebih bergengsi.

Tekad Munoz di Debut Asia

Pelatih JDT, Xisco Munoz, menegaskan bahwa laga ini adalah ujian perdana yang tak boleh gagal. “Ini adalah tugas pertama saya di Asia dan saya akan menjalani pertandingan pertama ini dengan serius. Pertandingan ini sangat penting untuk membuka jalan bagi tim untuk melangkah lebih jauh,” ujarnya penuh keyakinan.

Munoz menegaskan seluruh pemain asing siap diturunkan. Ia menuntut skuadnya bermain lebih dari biasanya, dengan gaya agresif dan persiapan matang yang sudah mereka lakukan jauh hari.

Buriram vs JDT bukan sekadar laga Liga Champions Asia. Ini adalah duel perebutan takhta sebagai tim nomor satu di Asia Tenggara. Stadion Chang Arena dipastikan jadi saksi sorak sorai ribuan suporter yang ingin melihat siapa yang benar-benar pantas disebut raja ASEAN.

Emosi, gengsi, dan harapan bercampur menjadi satu. Malam itu, sepak bola Asia Tenggara akan kembali menulis sejarahnya.

Sukma Tayang 11 September 2025: Teror Cermin yang Mencekam.

0
Sukma
Sukma, film produksi Tiger Wong Entertainment ini siap tayang di bioskop mulai 11 September 2025. Setelah sukses lewat Lembayung (2024) yang meraih lebih dari 1,6 juta penonton, Baim Wong kembali dengan karya horor terbarunya tersebut.

Menghadirkan Luna Maya, Christine Hakim, Fedi Nuril, dan Oka Antara, film Sukma bercerita tentang Arini (Luna Maya) yang pindah ke kota kecil bersama keluarganya. Namun hidup baru itu berubah jadi mimpi buruk setelah mereka menemukan cermin kuno di sebuah ruang rahasia. Misteri cermin tersebut membawa teror sekaligus mengungkap obsesi kelam akan kecantikan dan keabadian.

Baim Wong menegaskan Sukma bukan sekadar horor penuh jumpscare, melainkan juga menyuguhkan drama emosional dengan simbol cermin sebagai refleksi antara keabadian dan ketidaksempurnaan.

Sukma

 

“Sukma adalah horor yang berbeda. Ada kisah kompleks tentang kecantikan, keabadian, dan cinta, dengan elemen cermin sebagai penyambungnya,” ujar Baim Wong yang bertindak sebagai sutradara, produser, sekaligus penulis bersama Ratih Kumala.

Film ini juga jadi tantangan baru bagi para pemainnya. Luna Maya tampil tanpa riasan, Christine Hakim mengaku keluar dari zona nyaman dengan adegan intens, sementara Fedi Nuril untuk pertama kalinya main horor lewat peran seorang penderita skizofrenia. Oka Antara menyebut Sukma sebagai film Baim yang paling filosofis.

“Sebagai yang bekerja di industri showbiz, pressure untuk perempuan tentang awet muda itu ada. Selalu saja ada komentar tentang fisik dan segala macam dari warganet. Namun, menurutku, di film ini, ada alasan di balik kenapa karakter Ibu Sri memiliki obsesi untuk menjadi muda, dan menginginkan Arini yang lebih muda darinya, itu yang akan menjadi misteri,” kata Luna Maya.

Sukma

Selain empat bintang utama, film ini turut dibintangi Kimberly Ryder, Krishna Keitaro, Anna Jobling, Asri Welas, Amanda Soekasah, Giovani Tobing, Dazeline Reynand, hingga Kiano dan Kenzo Wong.

Dengan visual menyeramkan, drama emosional, dan misteri cermin yang mencekam, Sukma siap jadi horor terbaru yang tak hanya menegangkan tapi juga penuh makna.

Sukma

Saksikan film besutan Tiger Wong di bioskop seluruh Indonesia mulai 11 September 2025!

tiket.com 2025 Luncurkan halo tiket, Solusi Cepat, Tepat, dan Tuntas Maksimal 1 Jam

0
tiket.com
tiket.com adalah pionir online travel agent (OTA) di Indonesia yang berdiri sejak tahun 2011. tiket.com merupakan salah satu perusahaan travel online terbesar dan terlengkap di Indonesia yang menawarkan tiket penerbangan, kereta, akomodasi, villa & apartemen, tiket acara, sewa mobil, serta kebutuhan perjalanan lainnya. 

tiket.com menjawab kebutuhan di tengah ketidakpastian perjalanan sekaligus memperingati Hari Pelanggan Nasional 2025, memperkenalkan transformasi halo tiket. Layanan pelanggan ini siap menjadi solusi yang cepat dan dapat diandalkan, memberikan rasa aman di setiap perjalanan sobat tiket.

Gaery Undarsa, Co-Founder & Chief Marketing Officer tiket.com mengatakan “Dalam perjalanan, setiap menit sangat berharga. Kendala sekecil apapun dapat menimbulkan rasa tidak nyaman dan berpotensi mengganggu rencana perjalanan. Melalui kehadiran halo tiket, pelanggan bisa mendapatkan solusi instan dengan memastikan setiap masalah terselesaikan maksimal dalam 1 jam. Dengan inovasi ini, tiket.com ingin memastikan pelanggan dapat kembali menikmati perjalanan tanpa rasa khawatir sejalan dengan semangat Hari Pelanggan Nasional.”

tiket.com

Transformasi halo tiket

Dengan halo tiket, tiket.com menghadirkan pengalaman baru layanan pelanggan melalui berbagai inovasi yang dirancang khusus menjawab kebutuhan sobat tiket:

  • Komitmen “30 Detik Nyambung, Bebas Bingung”

halo tiket dirancang untuk memberikan kepastian bagi pelanggan dengan sistem layanan yang terintegrasi. Melalui komitmen ini, pelanggan dapat langsung terhubung dengan tim halo tiket tanpa perlu menunggu lama.

tiket.com

  • Penyelesaian masalah kini lebih pasti

Dengan “1 Jam Tuntas, Liburan Bebas Cemas”, tiket.com memastikan setiap laporan pelanggan ditangani maksimal dalam 60 menit, dengan solusi yang relevan dan sesuai dengan kebutuhan pelanggan.

  • Dukungan digital berbasis artificial intelligence (AI)

Asisten virtual hadir 24/7 untuk memberikan jawaban dan solusi awal terhadap berbagai pertanyaan pelanggan.

halo tiket juga memberikan perlindungan tambahan ketika sobat tiket menghadapi kondisi ekstrem seperti bencana alam, musibah, atau gangguan mendadak lainnya. Untuk informasi lebih lanjut mengenai halo tiket, silakan kunjungi: https://www.tiket.com/explore/halo-tiket.

“Dengan fokus customer-centric, kami berkomitmen menjadi teman perjalanan setia bagi sobat tiket dalam setiap rencana liburan. Bertepatan dengan Hari Pelanggan Nasional, kami persembahkan transformasi halo tiket sebagai wujud apresiasi kepada pelanggan sekaligus komitmen kami dalam memastikan setiap perjalanan tetap aman, nyaman, dan bebas cemas,” tutup Gaery.

 

Heboh Soal Ijazah Gibran dan Jokowi, KPU Langsung Terbitkan Aturan Baru yang Mengejutkan

0
Ijazah

Indeks News – Heboh soal gugatan ijazah Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka membawa suasana politik nasional ke titik panas baru. Publik ramai mempertanyakan keaslian dokumen pendidikan, sementara di sisi lain, Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia (KPU RI) bergerak cepat dengan mengeluarkan aturan yang langsung menyita perhatian.

Pada Senin, 15 September 2025, Komisioner KPU RI August Mellaz menyampaikan bahwa KPU resmi menetapkan Surat Keputusan Nomor 731 Tahun 2025. Aturan ini diteken oleh Ketua KPU RI Mochammad Afifuddin pada 21 Agustus 2025.

Keputusan tersebut berisi ketentuan mengejutkan: dokumen persyaratan calon presiden dan wakil presiden ditetapkan sebagai informasi publik yang dikecualikan. Artinya, publik tak bisa lagi leluasa membuka atau meminta akses terhadap dokumen pribadi calon, termasuk ijazah, tanpa izin langsung dari yang bersangkutan.

KPU Tutup Rapat Dokumen Penting Capres-Cawapres

Isi keputusan ini sungguh tegas. Dalam dokumen resmi yang ditandatangani, KPU menetapkan ada 16 poin dokumen penting yang dikecualikan dari akses publik.

Mulai dari fotokopi KTP elektronik, akta kelahiran, hingga surat keterangan catatan kepolisian. Tak hanya itu, laporan harta kekayaan, bukti pembayaran pajak, hingga rekam jejak pribadi calon presiden dan wakil presiden juga masuk daftar dokumen yang tak bisa dibuka sembarangan.

Yang paling disorot publik tentu soal ijazah dan rekam jejak pendidikan. Poin ini tertuang jelas dalam daftar larangan, dan langsung memantik emosi masyarakat.

Ketua KPU RI Afifuddin menegaskan:

“Berdasarkan Keputusan KPU 731/2025, dokumen persyaratan calon Presiden dan Wakil Presiden telah dikecualikan dalam jangka waktu lima tahun, kecuali pihak yang rahasianya diungkapkan memberikan persetujuan tertulis.”

16 Dokumen yang Disembunyikan KPU

Berikut daftar lengkap dokumen yang kini tak bisa diakses publik tanpa persetujuan:

  1. Fotokopi KTP elektronik dan akta kelahiran
  2. Surat catatan kepolisian dari Mabes Polri
  3. Surat keterangan kesehatan dari RS pemerintah
  4. Bukti laporan harta kekayaan ke KPK
  5. Surat keterangan tidak pailit dan bebas utang dari pengadilan
  6. Surat pernyataan tidak dicalonkan di DPR, DPD, atau DPRD
  7. Fotokopi NPWP dan bukti laporan pajak 5 tahun terakhir
  8. Daftar riwayat hidup, profil, dan rekam jejak calon
  9. Surat pernyataan tidak menjabat presiden/wapres lebih dari dua kali
  10. Surat pernyataan setia pada Pancasila dan UUD 1945
  11. Surat pengadilan yang menyatakan tidak pernah dipidana berat
  12. Bukti kelulusan berupa ijazah atau surat setara yang dilegalisasi
  13. Surat dari kepolisian tidak terlibat organisasi terlarang/G30S/PKI
  14. Surat bermeterai tentang kesediaan menjadi calon
  15. Surat pernyataan pengunduran diri dari TNI/Polri/PNS sejak ditetapkan
  16. Surat pernyataan pengunduran diri dari BUMN atau BUMD sejak ditetapkan

Emosi Publik dan Dinding Baru Transparansi

Keputusan ini membuat publik terpecah. Sebagian menilai aturan KPU sebagai langkah bijak untuk melindungi data pribadi. Namun, banyak pula yang kecewa karena keputusan ini dianggap menutup ruang transparansi, terutama setelah isu ijazah Jokowi dan Gibran menjadi sorotan tajam.

Di tengah hiruk pikuk demokrasi, keputusan KPU ini menambahkan lapisan baru dalam dinamika politik menjelang Pemilu Presiden 2029. Masyarakat kini hanya bisa menunggu, apakah para kandidat bersedia memberikan izin tertulis agar dokumen mereka bisa dilihat publik, atau justru memilih tetap menutup rapat identitas dan rekam jejak pribadinya.

Dede Yusuf: Ijazah Capres dan Cawapres Harus Terbuka, Komisi II DPR RI Ingatkan KPU

0
Dede Yusuf
Indeks News – Wakil Ketua Komisi II DPR RI, Dede Yusuf, menegaskan bahwa ijazah calon presiden dan wakil presiden (capres-cawapres) tidak seharusnya ditutup rapat dari publik.

Menurut Dede Yusuf, hanya catatan medis yang memang pantas dirahasiakan karena menyangkut privasi paling mendasar dari seseorang.

Di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (15/9/2025), Dede dengan suara tegas menyampaikan pandangannya.

“Data yang enggak boleh dibuka itu data kesehatan, dan itu ada undang-undangnya. Catatan medis itu enggak boleh dibuka. Kalau yang lainnya boleh, rekening, ijazah, riwayat hidup saya pikir enggak masalah,” katanya.

Pernyataan itu seakan menjadi tamparan lembut bagi keputusan Komisi Pemilihan Umum (KPU). Pasalnya, KPU baru saja menerbitkan Keputusan Nomor 731 Tahun 2025 yang menetapkan sejumlah dokumen persyaratan capres dan cawapres, termasuk ijazah, sebagai informasi publik yang dikecualikan.

Keputusan tersebut membuat dokumen hanya bisa diakses jika ada persetujuan tertulis dari pihak terkait atau jika berkaitan dengan jabatan publik.

Keputusan KPU ini sempat menimbulkan tanda tanya besar di masyarakat. Bagaimana mungkin dokumen yang seharusnya bisa menjadi bukti integritas calon pemimpin justru ditutup rapat selama lima tahun? Dede Yusuf tak tinggal diam.

Komisi II DPR RI, tempatnya bertugas, akan meminta penjelasan langsung dalam rapat bersama KPU yang sekaligus membahas anggaran 2026.

“Nanti kita tanya di dalam aja, kita tanya di dalam, kenapa? Argumentasinya apa?” ucap politikus Partai Demokrat itu.

Di tengah publik yang haus akan kepastian dan keterbukaan, ucapan Dede menjadi harapan. Ijazah, rekening, dan riwayat hidup bukan sekadar kertas, melainkan cermin kejujuran calon pemimpin bangsa. Sementara itu, catatan medis memang selayaknya tetap tersimpan aman karena menyangkut privasi pribadi.

Kini bola panas berada di tangan KPU. Akankah lembaga penyelenggara pemilu itu membuka diri pada transparansi atau tetap berlindung di balik aturan baru? Pertanyaan itu menggantung di ruang publik, menunggu jawaban yang adil bagi demokrasi.

Penggugat Ijazah Gibran Tantang Jokowi Buka Siapa “Orang Besar” di Balik Gugatan

0
Gibran
Indeks News – Polemik ijazah Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka kembali menyeret perhatian publik. Di tengah sorotan tajam, Subhan Palal, penggugat dalam perkara tersebut, meminta Presiden Joko Widodo (Jokowi) bersikap terbuka. Ia menantang Jokowi menunjukkan siapa sosok “orang besar” yang dituding berada di balik gugatannya.

“Kalau Pak Jokowi punya pandangan bahwa saya di-backup orang, silakan saja. Tapi sebaiknya ditunjukkan. Supaya enggak jadi fitnah,” kata Subhan usai sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Senin (15/9/2025).

Subhan menggugat Gibran dan Komisi Pemilihan Umum (KPU) karena menilai ada syarat pendaftaran calon wakil presiden 2024 yang tidak dipenuhi. Menurutnya, Gibran menggunakan sertifikat dari sekolah luar negeri sebagai pengganti ijazah SMA, bukan ijazah yang sah dari sekolah di Indonesia.

Dalam gugatannya, Subhan meminta majelis hakim menyatakan Gibran dan KPU telah melakukan perbuatan melawan hukum. Ia juga menuntut status Gibran sebagai wakil presiden dinyatakan tidak sah.

Tak berhenti di situ, Subhan menuntut ganti rugi fantastis: Rp125 triliun kepada negara dan Rp10 juta ke kas negara. “Menghukum para tergugat secara tanggung renteng membayar kerugian materiil dan immateriil,” bunyi petitum yang ia bacakan.

Jokowi Yakin Ada “Orang Besar”

Di sisi lain, Jokowi meyakini polemik ijazah ini bukan sekadar isu singkat. Ia menyebut perkara tersebut telah bergulir selama empat tahun, mustahil jika tidak ada dukungan kuat di belakangnya.

“Kalau napasnya panjang, kalau enggak ada yang mem-backup, enggak mungkin. Gampang-gampangan aja,” ujar Jokowi pada Jumat (12/9/2025).

Jokowi juga menjelaskan bahwa dirinya yang mencarikan sekolah untuk Gibran di Orchid Park Secondary School, Singapura. Ia menegaskan keputusan itu diambil agar anaknya bisa hidup mandiri. “Biar mandiri aja,” katanya.

Gugatan ke Jokowi Sendiri

Tak hanya Gibran, Jokowi pun kini kembali menghadapi gugatan serupa. Dua alumni Universitas Gadjah Mada (UGM), Top Taufan Hakim dan Bangun Sutoto, melayangkan gugatan Citizen Lawsuit (CLS) terhadap Jokowi, rektor UGM, wakil rektor bidang pendidikan, hingga kepolisian.

Sidang perdana perkara tersebut dijadwalkan di Pengadilan Negeri Kota Solo, Selasa (16/9/2025), pukul 10.00 WIB. Gugatan itu telah teregister dengan nomor PN-SKT 28082025GIR sejak 28 Agustus 2025 lalu.

Kasus ijazah ini tampak jauh dari selesai. Dari ruang sidang hingga ke meja publik, tuduhan dan bantahan terus bergulir. Subhan tetap pada keyakinannya, sementara Jokowi menegaskan adanya “orang besar” yang menghembuskan isu.

Di balik semua itu, publik terus menunggu kepastian hukum: apakah gugatan Subhan hanya sekadar isu politik musiman, atau benar-benar membuka tabir panjang soal legalitas ijazah yang kini jadi sorotan nasional.

Tragedi Wonosobo: Serda Rahman Gugur Saat Meleraikan Keributan di Kafe

0
Wonosobo
Pemakaman Serda Rahman Setiawan. Anggota Kodim 0707/Wonosobo tewas ditusuk senjata tajam ketika mencoba melerai keributan di sebuah kafe Desa Jolontoro

Indeks News – Wonosobo dikejutkan dengan tragedi berdarah yang merenggut nyawa seorang prajurit TNI, Serda Rahman Setiawan. Anggota Kodim 0707/Wonosobo itu tewas ditusuk senjata tajam ketika mencoba melerai keributan di sebuah kafe Desa Jolontoro, Kecamatan Sapuran, Minggu (14/9) dini hari.

Peristiwa ini tidak hanya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan rekan sesama prajurit, tetapi juga mengguncang hati warga Wonosobo.

Awal Kejadian di Kafe Resto Shaka

Pada Sabtu malam (13/9), Serda Rahman baru saja menuntaskan tugas pemantauan di Koramil. Ia bersama rekannya singgah di Resto Shaka, Desa Jolontoro, untuk sekadar makan malam.

Menjelang tengah malam, sekitar pukul 23.45 WIB, suasana berubah tegang. Dari dalam kafe terdengar keributan antara seorang pengunjung berinisial I dengan pegawai restoran.

Sebagai prajurit, Rahman merasa terpanggil. Ia mendekati sumber keributan dan mencoba menenangkan. Dengan tegas tapi tenang, ia mengarahkan pengunjung tersebut keluar menuju area parkir.

Namun situasi memburuk. Bukannya pulang, pelaku justru menuju mobilnya dan mengambil senjata tajam jenis golok. Tanpa ampun, pelaku menyerang Rahman dari belakang. Luka parah di bagian wajah membuat Rahman terkapar.

Rekan korban dan pengunjung berusaha menolong. Sekitar pukul 00.10 WIB, Rahman dibawa ke RS PKU Wonosobo. Namun hanya berselang 20 menit, dokter menyatakan nyawanya tak tertolong.

Kolonel Inf Andy Soelistyo, Kapendam IV/Diponegoro, membenarkan insiden ini. “Selang waktu sekitar pukul 00.30 WIB, korban dinyatakan meninggal dunia,” ujarnya dengan suara bergetar.

Pemakaman Militer dan Tangis Keluarga

Minggu siang, jenazah Serda Rahman dimakamkan di TPU Kelurahan Kertek, Wonosobo. Upacara militer mengiringi kepergiannya.

Isak tangis keluarga pecah ketika tembakan salvo terdengar. Rekan sejawat menunduk memberi penghormatan terakhir. Rahman, prajurit yang dikenal rendah hati dan ringan tangan, kini kembali ke pangkuan tanah kelahirannya di Desa Sijambu, Kecamatan Kertek.

Tragedi ini membangkitkan amarah warga. Beberapa jam setelah pemakaman, massa menggeruduk kafe lokasi kejadian. Kaca jendela pecah, fasilitas kafe dirusak, bahkan ada yang dibakar.

“Intinya warga di sini menuntut keadilan. Pelaku harus segera ditangkap dan diadili,” tegas Vreda, saudara korban, dengan mata merah menahan marah.

Kapolres Wonosobo, AKBP M Kasim Akbar Bantilan, langsung menemui massa. Ia menegaskan pihaknya bekerja keras mengungkap kasus ini. “Mohon doa, tim lagi bekerja. Semoga segera terungkap,” katanya.

Pelaku Masih Diburu

Hingga kini, pelaku berinisial I masih dalam pengejaran. Polisi Militer TNI bersama Polres Wonosobo bersinergi melakukan penyelidikan.

Kolonel Andy menyampaikan harapan agar masyarakat tenang dan percaya proses hukum. “Mudah-mudahan pelaku cepat ditangkap dan diproses sesuai hukum yang berlaku,” ucapnya.

Kematian Serda Rahman Setiawan meninggalkan luka mendalam. Ia gugur bukan di medan perang, melainkan saat melerai sesama anak bangsa yang bertikai.

Tragedi ini menjadi pengingat pahit: betapa cepatnya nyawa bisa melayang karena amarah dan senjata tajam. Warga Wonosobo kini menunggu satu hal—keadilan untuk Rahman Setiawan, sang prajurit yang gugur demi kedamaian.

Ferry Irwandi Buka Suara Setelah Berhari-hari Difitnah Gusti Ayu, Dituding Jatuhkan TNI

0
Ferry Irwandi

Indeks News – Ketegangan memuncak. Setelah berhari-hari merasa difitnah, CEO Malaka Project sekaligus konten kreator Ferry Irwandi akhirnya buka suara. Nama grafolog sekaligus pengamat perilaku, Gusti Ayu Dewi, menjadi pusat tudingan.

Perseteruan antara Ferry Irwandi dengan Gusti Ayu bukan sekadar saling sindir, tapi sudah menyeret isu besar: fitnah terhadap TNI, manipulasi video, hingga potensi ancaman terhadap stabilitas bangsa.

Ferry Irwandi Balas Fitnah

Ferry Irwandi mengaku difitnah habis-habisan. Melalui akun Instagram pribadinya @irwandiferry pada Minggu (14/9/2025), ia mengunggah video anggota TNI yang diamankan polisi di Palembang. Menurutnya, di dalam video itu jelas terdengar kalimat “bukan cuma saya” dari mulut sang prajurit.

“Berhari-hari saya difitnah oleh @gustiajudewi dan @anakjaksel.ai bahwa saya menambahkan kalimat itu di iNews. Nah, sekarang saatnya saya jawab,” tulis Ferry penuh emosi.

Ia menegaskan, tuduhan Gusti Ayu bahwa dirinya memanipulasi video untuk menjatuhkan TNI adalah tidak benar. Bahkan ia menantang Gusti Ayu untuk meminta maaf sebagaimana dulu mendesak publik figur lain melakukan hal serupa.

Damai dengan TNI, Tapi Bukan dengan Gusti Ayu

Sebelumnya, konflik Ferry dengan TNI sudah mereda. Ia mengaku sudah berkomunikasi langsung dengan Kapuspen TNI Brigjen (Marinir) Freddy Ardianzah. Keduanya saling meminta maaf dan menyebut persoalan dianggap selesai.

“Tidak ada tindak lanjut hukum dari TNI terhadap saya,” jelas Ferry di akun Instagramnya, Sabtu (13/9/2025).

Namun, meski damai dengan TNI, api perseteruan dengan Gusti Ayu justru makin membesar.

Tak berhenti di soal video, Ferry membongkar dugaan percakapan di sebuah grup WhatsApp yang diduga berisi Gusti Ayu bersama pejabat dan komisaris. Ia mengunggah tangkapan layar berisi obrolan mengejutkan, termasuk foto pistol disandingkan dengan bungkus rokok, hingga pernyataan Gusti Ayu yang menyebut “selalu ada versi Ferry Irwandi di negara setengah kacau.”

“Bingung kan lu sekarang? Fitnah sudah, ancaman sudah. Mau ke mana lagi?” tantang Ferry dalam unggahannya.

Ia bahkan menantang Gusti Ayu untuk membuka isi grup secara terbuka, atau dirinya sendiri yang akan melakukannya.

Gusti Ayu Menuding Manipulasi Berbahaya

Di sisi lain, Gusti Ayu tetap pada pendiriannya. Ia menuding Ferry sudah memanipulasi video viral penangkapan TNI oleh Brimob di Palembang yang sempat diputar dalam acara Rakyat Bersuara di iNews TV, 2 September 2025 lalu.

Menurut Gusti, Ferry mengganti kata “Kavaleri” menjadi “Kapolri”, dan menambahkan kalimat palsu “bukan cuma saya.” Bagi Gusti, itu bukan sekadar salah dengar, melainkan disinformasi yang berbahaya.

“Ini bisa bikin chaos negara. Disinformasi itu fitnah, provokasi, dan bisa membenturkan rakyat dengan TNI,” tegasnya di akun Instagram @gustiajudewi.

Ia bahkan mengutip teori psikologi komunikasi Illusory Truth Effect, yaitu fenomena ketika kebohongan yang terus diulang bisa dipercaya sebagai kebenaran.

Saling Tantang di Ruang Publik

Dialog panas berlanjut di kolom komentar Instagram. Ferry menuding Gusti Ayu berusaha membungkamnya dengan relasi kuasa. Sebaliknya, Gusti menegaskan dirinya hanya mengkritik narasi provokatif yang bisa memicu keresahan publik.

“Saya tidak lari. Tapi jangan diplintir seolah saya menyerang pribadi Anda. Yang saya soroti adalah narasi provokatif Anda,” balas Gusti.

Meski Ferry sudah berdamai dengan TNI, perseteruannya dengan Gusti Ayu tampaknya belum menemukan titik terang. Fitnah, tuduhan manipulasi, hingga ancaman membuka isi percakapan grup WhatsApp membuat kasus ini terus menyedot perhatian publik.

Bagi sebagian orang, kisah ini hanyalah pertikaian dua tokoh di media sosial. Namun bagi bangsa, narasi disinformasi yang menyeret nama TNI jelas bukan perkara sepele. Saat ruang publik dipenuhi klaim dan bantahan, masyarakatlah yang akhirnya terombang-ambing di antara fakta dan opini.

Sampai kapan drama ini berlanjut? Publik masih menunggu, apakah akan ada pembuktian hukum, atau sekadar berhenti sebagai perang narasi yang penuh emosi.