Indeks News – Wonosobo dikejutkan dengan tragedi berdarah yang merenggut nyawa seorang prajurit TNI, Serda Rahman Setiawan. Anggota Kodim 0707/Wonosobo itu tewas ditusuk senjata tajam ketika mencoba melerai keributan di sebuah kafe Desa Jolontoro, Kecamatan Sapuran, Minggu (14/9) dini hari.
Peristiwa ini tidak hanya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan rekan sesama prajurit, tetapi juga mengguncang hati warga Wonosobo.
Awal Kejadian di Kafe Resto Shaka
Pada Sabtu malam (13/9), Serda Rahman baru saja menuntaskan tugas pemantauan di Koramil. Ia bersama rekannya singgah di Resto Shaka, Desa Jolontoro, untuk sekadar makan malam.
Menjelang tengah malam, sekitar pukul 23.45 WIB, suasana berubah tegang. Dari dalam kafe terdengar keributan antara seorang pengunjung berinisial I dengan pegawai restoran.
Sebagai prajurit, Rahman merasa terpanggil. Ia mendekati sumber keributan dan mencoba menenangkan. Dengan tegas tapi tenang, ia mengarahkan pengunjung tersebut keluar menuju area parkir.
Namun situasi memburuk. Bukannya pulang, pelaku justru menuju mobilnya dan mengambil senjata tajam jenis golok. Tanpa ampun, pelaku menyerang Rahman dari belakang. Luka parah di bagian wajah membuat Rahman terkapar.
Rekan korban dan pengunjung berusaha menolong. Sekitar pukul 00.10 WIB, Rahman dibawa ke RS PKU Wonosobo. Namun hanya berselang 20 menit, dokter menyatakan nyawanya tak tertolong.
Kolonel Inf Andy Soelistyo, Kapendam IV/Diponegoro, membenarkan insiden ini. “Selang waktu sekitar pukul 00.30 WIB, korban dinyatakan meninggal dunia,” ujarnya dengan suara bergetar.
Pemakaman Militer dan Tangis Keluarga
Minggu siang, jenazah Serda Rahman dimakamkan di TPU Kelurahan Kertek, Wonosobo. Upacara militer mengiringi kepergiannya.
Isak tangis keluarga pecah ketika tembakan salvo terdengar. Rekan sejawat menunduk memberi penghormatan terakhir. Rahman, prajurit yang dikenal rendah hati dan ringan tangan, kini kembali ke pangkuan tanah kelahirannya di Desa Sijambu, Kecamatan Kertek.
Tragedi ini membangkitkan amarah warga. Beberapa jam setelah pemakaman, massa menggeruduk kafe lokasi kejadian. Kaca jendela pecah, fasilitas kafe dirusak, bahkan ada yang dibakar.
“Intinya warga di sini menuntut keadilan. Pelaku harus segera ditangkap dan diadili,” tegas Vreda, saudara korban, dengan mata merah menahan marah.
Kapolres Wonosobo, AKBP M Kasim Akbar Bantilan, langsung menemui massa. Ia menegaskan pihaknya bekerja keras mengungkap kasus ini. “Mohon doa, tim lagi bekerja. Semoga segera terungkap,” katanya.
Pelaku Masih Diburu
Hingga kini, pelaku berinisial I masih dalam pengejaran. Polisi Militer TNI bersama Polres Wonosobo bersinergi melakukan penyelidikan.
Kolonel Andy menyampaikan harapan agar masyarakat tenang dan percaya proses hukum. “Mudah-mudahan pelaku cepat ditangkap dan diproses sesuai hukum yang berlaku,” ucapnya.
Kematian Serda Rahman Setiawan meninggalkan luka mendalam. Ia gugur bukan di medan perang, melainkan saat melerai sesama anak bangsa yang bertikai.
Tragedi ini menjadi pengingat pahit: betapa cepatnya nyawa bisa melayang karena amarah dan senjata tajam. Warga Wonosobo kini menunggu satu hal—keadilan untuk Rahman Setiawan, sang prajurit yang gugur demi kedamaian.




