Beranda blog Halaman 4

Billie Eilish ‘Menggila’ di Layar Lebar! Film Konser 3D Bareng James Cameron Siap Bikin Fans Serasa di Barisan Depan

0
Billie Eilish
Foto: Istimewa
Billie Eilish kembali bikin gebrakan yang nggak main-main. Kali ini bukan sekadar tur dunia yang sold out, tapi pengalaman konser yang diangkat ke level sinematik lewat film “HIT ME HARD AND SOFT: THE TOUR (LIVE IN 3D)”. Yang bikin makin heboh, proyek ini digarap bareng sutradara legendaris James Cameron—nama besar di balik film-film spektakuler seperti Avatar.

Dijadwalkan tayang di bioskop mulai 8 Mei 2026, film Billie Eilish ini nggak cuma sekadar rekaman konser biasa. Dengan format 3D imersif, penonton dijanjikan sensasi seperti berdiri langsung di tengah crowd, lengkap dengan detail visual yang super dekat dan intens—ciri khas gaya sinematik Cameron.

Film ini akan menampilkan performa panggung dari tur dunia “Hit Me Hard and Soft” yang laris manis, plus momen-momen eksklusif di balik layar yang memperlihatkan sisi personal Billie—sesuatu yang selama ini jadi daya tarik kuat bagi para penggemar Billie Eilish.

Billie Eilish
Foto: Istimewa

Diproduksi oleh Paramount Pictures, Darkroom Records, dan Interscope Films, proyek ini digadang-gadang jadi salah satu film konser paling ambisius dalam beberapa tahun terakhir.

Trailer Bikin Merinding, Bukan Sekadar Konser Biasa

Dari cuplikan trailer yang beredar, vibe-nya langsung terasa beda. Bukan cuma lampu panggung dan teriakan penonton, tapi ada sentuhan storytelling yang lebih dalam—kamera bergerak dinamis, close-up emosional Billie, hingga transisi visual yang terasa “hidup”.

Opini yang cukup terasa: ini bukan film konser yang cuma mengandalkan setlist dan crowd hype. Ada usaha serius untuk bikin penonton merasakan perjalanan emosional di balik setiap lagu. Bahkan beberapa adegan terlihat seperti menggabungkan estetika dokumenter dengan visual efek khas film blockbuster.

Billie Eilish

Kalau dibandingkan dengan dokumenter sebelumnya, “Billie Eilish: The World’s A Little Blurry”, film terbaru ini jelas lebih “besar” secara skala dan ambisi. Yang dulu fokus ke cerita personal, sekarang diperluas jadi pengalaman audio-visual penuh yang lebih spektakuler.

Wajib Nonton atau Gimmick 3D?

Pertanyaannya sekarang: apakah ini bakal jadi pengalaman revolusioner atau cuma gimmick 3D?

Melihat keterlibatan James Cameron—yang dikenal perfeksionis dalam urusan teknologi visual—ekspektasinya jelas tinggi. Kalau dieksekusi dengan benar, film ini bisa jadi standar baru untuk film konser di era modern.

Billie Eilish
Foto: Istimewa

Buat fans Billie, ini jelas bukan sekadar tontonan—ini pengalaman.
Buat penonton umum, ini bisa jadi cara baru menikmati konser tanpa harus rebutan tiket.

Satu hal yang pasti: Billie Eilish lagi-lagi nggak main aman.

Road to Pagelaran Sabang Merauke 2026: Panggung Anak Muda, dari Audisi Ketat sampai Parade di Jalanan Jakarta

0
Sabang Merauke
Ajang budaya Pagelaran Sabang Merauke kembali bergulir menuju pertunjukan utamanya tahun ini. Tapi alih-alih sekadar panggung megah, rangkaian “road to”-nya justru dipenuhi cerita menarik dari ratusan anak muda yang datang dari berbagai penjuru Indonesia.

Sejak akhir 2025, prosesnya sudah dimulai lewat kompetisi tari dan audisi nasional. Tahun ini, jumlah peserta Sabang Merauke nggak main-main: ratusan grup tari dan ratusan penari individu ikut ambil bagian, membawa gaya dan interpretasi budaya masing-masing. Dari kota besar sampai daerah, semuanya punya kesempatan yang sama buat unjuk kemampuan.

Yang paling mencuri perhatian adalah bagaimana satu lagu berjudul “Inspirasi Diri” bisa diolah jadi ratusan versi tarian yang berbeda. Ada yang tampil modern, ada yang tetap kental tradisi, bahkan ada yang menggabungkan keduanya. Hasilnya? Panggung Sabang Merauke yang penuh warna dan nggak monoton.

Sabang Merauke

Di balik layar, proses seleksinya juga cukup ketat. Dari ratusan peserta audisi Sabang Merauke , hanya puluhan yang berhasil lolos ke tahap final. Nantinya, sebagian dari mereka akan menjalani pelatihan intensif sebelum benar-benar tampil di pagelaran utama. Bukan cuma soal teknik menari, tapi juga soal kesiapan tampil dalam produksi besar.

Menariknya, suasana kompetisi ini nggak melulu soal menang atau kalah. Beberapa peserta justru mengaku mendapatkan “keluarga baru” dari pengalaman ini. Interaksi lintas daerah jadi salah satu hal yang paling berkesan—mulai dari latihan bareng sampai tampil di panggung yang sama.

Nggak cuma di dalam gedung, kemeriahan juga terasa di luar. Parade yang digelar di area Car Free Day Jakarta jadi momen di mana seni benar-benar turun ke jalan. Ratusan penari tampil terbuka di hadapan masyarakat, ditemani musik orkestra, paduan suara, hingga marching band. Bahkan ada sentuhan barongsai dan karnaval yang bikin suasana makin ramai.

Sabang Merauke
Winner NDC 2025 – 3DX SMAN 5 Malang

Sejumlah musisi juga ikut terlibat, termasuk Yura Yunita dan Raisa yang hadir dalam rangkaian acara. Kehadiran mereka bukan sekadar meramaikan, tapi juga menunjukkan bagaimana musik dan tari bisa saling terhubung dalam satu panggung budaya.

Lewat rangkaian ini, terlihat jelas kalau minat generasi muda terhadap budaya sebenarnya masih besar. Bedanya, mereka butuh ruang yang lebih fleksibel dan relevan untuk mengekspresikannya—nggak selalu harus formal, tapi tetap punya makna.

Sabang Merauke

Pada akhirnya, Road to Pagelaran Sabang Merauke 2026 bukan cuma soal menuju satu pertunjukan besar. Tapi juga tentang perjalanan panjang para talenta muda dalam menemukan cara mereka sendiri untuk terhubung dengan budaya Indonesia—dengan gaya yang lebih segar dan dekat dengan zaman sekarang. (EH)

 

Keisya Levronka 2026 Hadirkan Babak Baru Lewat Album rombak, Angkat Pop-Rock 2000-an ke Era Sekarang

0
Keisya Levronka
Keisya Levronka resmi membuka fase baru dalam perjalanan musikalnya lewat album terbarunya, rombak, yang dirilis pada 24 April 2026. Proyek ini menjadi karya paling berani dalam diskografinya—bukan hanya karena perubahan warna suara, tetapi juga karena pendekatan emosional yang lebih matang dan tegas.

Jika selama ini Keisya Levronka identik dengan balada melankolis, terutama setelah kesuksesan besar “Tak Ingin Usai”, di rombak ia memilih untuk melakukan rekonstruksi total. Album ini menghadirkan nuansa pop-rock yang terinspirasi dari era keemasan musik Indonesia tahun 2000-an—gitar yang lebih tebal, dinamika full-band, serta atmosfer anthemic yang membawa pendengar ke energi panggung yang hidup.

Perubahan ini terasa natural namun tetap mengejutkan, menjadikan rombak sebagai titik balik penting dalam perkembangan artistik Keisya Levronka.

Keisya Levronka

“Aku Bukan Dia”: Fokus Track dengan Luka yang Sunyi

Fokus utama album ini adalah lagu “Aku Bukan Dia” Keisya Levronka sebuah komposisi pop-rock emosional yang menyelami perasaan menjadi “pilihan kedua”. Ditulis oleh Lafa Pratomo dan Paul Aro, serta diproduseri oleh Lafa Pratomo, lagu ini menghadirkan dinamika yang intens: rapuh namun tegas, lembut namun meledak di bagian klimaks.

Keisya terdengar lebih dewasa secara vokal, memadukan power dan vulnerability saat menghidupkan kisah seseorang yang menyadari bahwa pasangannya masih terikat masa lalu. Nuansa pop-rock memberikan ruang yang lebih besar bagi ekspresi emosionalnya, menjadikan lagu ini sebagai highlight kuat dari album.

Keisya Levronka

“Tak Pantas Terluka (Lagi)”: Transformasi dari Balada ke Anthem Pelepasan

Lagu kedua yang menjadi sorotan adalah “Tak Pantas Terluka (Lagi)”, yang mengalami perjalanan kreatif unik. Berawal dari versi balada yang familiar di telinga pendengar, lagu ini berevolusi setelah versi band-nya viral di media sosial. Antusiasme tersebut mendorong Keisya merilis versi resmi dengan aransemen pop-rock yang eksplosif.

Hasilnya adalah momen katarsis penuh tenaga—bukan lagi sekadar meratapi luka, melainkan berdiri tegak dan melepaskannya. Transformasi ini menunjukkan bagaimana karya dapat tumbuh bersama audiensnya.

Album rombak: Nostalgia 2000-an Bertemu Sensibilitas Gen Z

Keisya Levronka

rombak menjadi jembatan antara generasi—mengemas nostalgia musik pop-rock Indonesia awal 2000-an dengan produksi modern yang resonan bagi pendengar muda. Fenomena “musik lama terasa baru” tercermin kuat di sini, menjadikan album ini relevan secara budaya dan emosional.

Di antara track seperti “Lukis Hari Ini” hingga “Rayakanlah”, Keisya menampilkan spektrum perasaan yang luas: reflektif, rapuh, berani, hingga celebratory. Album ini terasa seperti perjalanan menyeluruh dari titik paling lemah menuju fase yang lebih tegar.

Keberanian Artistik di Fase Baru

Sejak kemunculannya di panggung Indonesian Idol, Keisya Levronka telah dikenal sebagai salah satu suara paling khas di generasinya. Namun, lewat rombak, ia tidak sekadar memperluas warna musiknya—ia membangun ulang identitasnya dengan pondasi yang sama tetapi bentuk yang lebih besar dan hidup.

Album ini menandai bahwa evolusi bukan berarti menghapus masa lalu, melainkan menemukan cara baru untuk menceritakannya. rombak bukan hanya perubahan—tetapi pernyataan.

Putri Ayudya Bikin Penonton Terhanyut Lewat “Dapur Sumur Tutur”, One-Woman Show yang Bikin Ketawa, Nangis, dan Mikir Panjang!

0
Putri Ayudya
Foto: Eny
Putri Ayudya bikin berbeda dari panggung Galeri Indonesia Kaya akhir pekan ini. Bukan konser, bukan drama musikal, tapi sebuah one-woman show yang justru sukses bikin suasana meriah sekaligus haru. Ya, “Dapur Sumur Tutur”—pertunjukan yang dibintangi hanya satu orang menjadi sajian hiburan yang hangat, lucu, namun juga penuh makna.

Putri Ayudya Main Tiga Karakter Sekaligus, dan Semuanya Hidup!

Selama satu jam, Putri Ayudya tanpa ragu “menjelma” menjadi tiga perempuan Jawa dari generasi berbeda: YangTi yang penuh petuah, Ibuk yang penuh drama khas emak-emak, hingga Mbak, perempuan muda millennial yang relate banget dengan keresahan zaman sekarang.

Putri Ayudya
Foto: Eny

Penonton berkali-kali dibuat tertawa karena gaya bicara dan gestur tiap karakter terasa ngena, seperti nonton tiga orang ngobrol sekaligus, padahal cuma satu aktor di panggung!

Nuansa Keluarga Jawa yang Bikin Nostalgia

Cerita berlatar peringatan seribu hari wafatnya Eyang Kakung—momen khas keluarga Jawa yang selalu penuh drama kecil, nostalgia, dan cerita-cerita masa lalu. Dari obrolan dapur sampai rahasia keluarga yang lama terpendam, semuanya mencuat jadi hiburan yang menghangatkan.

Putri Ayudya
Foto: Eny

Buat yang besar di keluarga Jawa, banyak momen yang bikin senyum-senyum karena “Ih, ini banget keluargaku!”

Bukan Sekadar Hiburan, tapi Juga Menyentuh Isu Perempuan

Meski dibuat menghibur, “Dapur Sumur Tutur” tetap memberi ruang untuk refleksi. Ada cerita tentang generasi sandwich, ekspektasi pada perempuan, hingga tekanan tradisi yang diwariskan tanpa penjelasan.

Putri Ayudya
Foto: Eny

Sutradaranya, Ben Bening, bahkan lempar pertanyaan yang bikin penonton mikir lama:
“Sudahkah perempuan benar-benar bebas?”

Tapi tenang, penyampaiannya tetap ringan dan fun—tidak berat seperti seminar.

Musik, Cahaya, dan Visual yang Bikin Penampilan Makin Hidup

Putri Ayudya
Foto:Eny

Walaupun hanya satu aktor, panggung tidak pernah terasa kosong. Musik garapan Taufan Iskandar dan visual yang muncul di layar memperkuat suasana—kadang sendu, kadang kocak, kadang seperti baca diary keluarga.

Kombinasi ini bikin penonton tetap terpaku dari awal sampai akhir.

Penutup April yang Manis di Galeri Indonesia Kaya

Sebagai penutup rangkaian pertunjukan akhir pekan bulan April, “Dapur Sumur Tutur” benar-benar memberikan pengalaman berbeda:
hiburan yang bikin senyum, cerita yang bikin terharu, dan refleksi yang menyentuh—semuanya dalam satu paket.

Setelah sebelumnya menghadirkan “Bukan Kartini”, “Makkunrai Nusanusa”, dan “Close Friends”, Galeri Indonesia Kaya tampaknya makin mantap menghadirkan pertunjukan yang segar dan relevan.

Singkatnya, “Dapur Sumur Tutur” adalah tontonan yang pas buat kamu yang suka hiburan cerdas: ada humornya, ada hatinya, dan ada ceritanya. Satu jam yang benar-benar worth it. (EH).

SoSoft + Tea Tree, Rahasia Baru Pakaian Tetap Segar untuk Gaya Hidup Aktif

0
SoSoft
Momen talkshow bersama seluruh narasumber
SoSoft + Tea Tree inovasi terbaru WINGS Group Indonesia melalui WINGS Care, detergen berbahan aktif tumbuhan dengan antibakteri alami dari tea tree. Mengusung pendekatan natural yang kini semakin digemari masyarakat modern, SoSoft + Tea Tree dirancang untuk membantu menjaga pakaian tetap segar, lembut, dan nyaman dipakai sepanjang hari—apa pun aktivitasnya.

Solusi Pakaian Tetap Fresh di Cuaca Panas dan Aktivitas Padat dengan SoSoft + Tea Tree

Sosoft melihat dengan gaya hidup yang makin dinamis kerja, olahraga, commuting, sampai hangout kebutuhan akan pakaian yang bersih dan bebas bau jadi semakin penting. Cuaca yang tidak menentu, keringat, dan polusi sering memicu bau tak sedap menempel pada serat pakaian.

SoSoft
Anastasia Pamela, Head of Fabric Care Category WINGS Group Indonesia, bersama Tissa Biani, Brand Ambassador

Menjawab kebutuhan tersebut, SoSoft menghadirkan kombinasi tea tree dan BotaniBlend, formula berbahan aktif tumbuhan yang bekerja membersihkan sekaligus menghilangkan bakteri penyebab bau langsung dari sumbernya. Tidak sekadar menutupi bau, tetapi menuntaskannya dari akar masalah.

Wangi Segar Alami yang Tetap Lembut di Kulit

Meski menggunakan bahan antibakteri alami, SoSoft + Tea Tree tetap menawarkan sensasi kesegaran khas SoSoft. Diperkaya Natural Perfume Essence Bunga Lily, detergen ini memberikan aroma yang lembut dan bertahan lama, sehingga pakaian tetap wangi meski dikenakan seharian.

SoSoft
Keseruan Tissa Biani, Brand Ambassador

Formulasinya juga aman untuk seluruh anggota keluarga tanpa klorin, paraben, dan fosfat, serta telah lulus uji dermatologi. Sangat cocok bagi mereka yang memiliki kulit sensitif atau membutuhkan sentuhan ringan pada pakaian sehari-hari.

Terinspirasi dari Tea Tree, Favorit di Dunia Skincare

Anastasia Pamela, Head of Fabric Care Category WINGS Group Indonesia, menjelaskan bahwa inovasi ini berangkat dari manfaat tea tree yang sudah populer dalam perawatan kulit.

“Tea tree dikenal efektif melawan bakteri secara alami. Kami melihat potensi besar untuk menghadirkan manfaat tersebut dalam perawatan pakaian. SoSoft + Tea Tree tidak hanya membersihkan, tapi juga membantu menjaga kesegaran pakaian agar masyarakat bisa menikmati hari dengan lebih percaya diri,” ungkap Pamela.

SoSoft
Momen talkshow bersama seluruh narasumber

Pamela juga menambahkan bahwa SoSoft + Tea Tree diformulasikan untuk pemakaian fleksibel, baik mencuci memakai mesin cuci maupun manual. Teksturnya yang lembut di tangan membuatnya nyaman digunakan kapan saja, termasuk untuk pakaian olahraga yang membutuhkan perawatan ekstra.

Tissa Biani: Pakaian Segar = Rasa Percaya Diri

Menggandeng aktris dan pegiat gaya hidup aktif Tissa Biani sebagai Brand Ambassador, SoSoft ingin mengajak masyarakat lebih memperhatikan kualitas perawatan pakaian.

Dengan jadwal shooting, fitting kostum, hingga olahraga, Tissa mengaku kini lebih memperhatikan kebersihan dan aroma pakaian yang ia kenakan.

“Panas, keringat, polusi… itu semua nggak bisa dihindari. Tapi sejak pakai SoSoft + Tea Tree, aku merasa lebih tenang karena tea tree-nya bekerja menghilangkan bakteri penyebab bau dari sumbernya. Pakaian jadi lebih fresh dan nyaman,” ujar Tissa.

Baginya, menjaga pakaian tetap segar bukan hanya soal penampilan, tapi juga bagian dari self-care yang mendukung rasa percaya diri.

Inovasi untuk Kehidupan yang Lebih Baik

Kehadiran SoSoft + Tea Tree memperkuat komitmen WINGS Group Indonesia dalam menghadirkan produk berkualitas tinggi yang mudah dijangkau dan relevan dengan kebutuhan masa kini.

Sentuhan Lembut untuk Kulit Si Kecil: MAKUKU Slim Luxury Silky Hadirkan Kenyamanan Sehari-hari

0
Kulit
Foto: Eny
Kulit bayi dikenal sangat halus dan sensitif, sehingga sedikit gesekan atau lembap saja bisa membuatnya tidak nyaman. Karena itu, memilih popok yang tepat menjadi bagian penting dari rutinitas para orang tua, terutama dalam masa tumbuh kembang ketika si Kecil semakin aktif bergerak.

Dermatologist dr. July Iriani Rahardja, SpDVE, menjelaskan bahwa menjaga area popok tetap kering dan minim gesekan adalah kunci agar kulit bayi tetap sehat. Bahan lembut dan breathable menjadi prioritas, sebab popok dipakai si Kecil hampir sepanjang hari.

Kenyamanan Premium dalam Popok Tipis

Kulit
Foto: Eny

Terinspirasi dari kebutuhan tersebut, MAKUKU memperkenalkan MAKUKU Slim Luxury Silky, popok premium yang mengutamakan kenyamanan si Kecil melalui pendekatan “Setipis Itu, Sentuhan Kemewahan.”

Popok ini menggunakan lapisan lembut yang diperkaya Natural Fine Silk, memberikan sensasi halus di kulit dan membantu mengurangi risiko gesekan. Desainnya yang ringan dan tipis juga membuat si Kecil lebih bebas bergerak tanpa merasa bulky.

Sulistyowati, Head of Marketing MAKUKU Indonesia, menyampaikan bahwa popok ini hadir sebagai jawaban untuk orang tua yang ingin mengombinasikan perlindungan optimal dengan kenyamanan yang lembut sepanjang hari.

Kulit
Nikita Willy – Brand Ambassador Makuku / Foto: Eny

Popok ini dilengkapi teknologi inti penyerap yang menjaga kulit tetap kering, serta fitur breathable dan indikator basah yang memudahkan orang tua memantau kapan saatnya mengganti popok.

Cerita Nikita dan Anak-Anaknya

Sebagai seorang ibu, Nikita Willy memiliki ceritanya sendiri. Ia tahu betul bagaimana popok bisa berpengaruh pada tidur dan aktivitas anak. “Saya hanya ingin anak-anak saya merasa nyaman. Sejak Issa lahir, saya mempercayakan kenyamanan kulitnya pada MAKUKU. Bahannya lembut, cepat menyerap, dan tidak bikin kulitnya merah. Untuk anak kedua, saya tidak ragu melanjutkan pilihan yang sama,” ungkapnya.

Kulit
Foto: Eny

Pengalaman ini mungkin terasa familiar bagi banyak orang tua: ketika akhirnya menemukan popok yang cocok, rasanya seperti menemukan partner baru dalam perjalanan parenting.

MAKUKU Land: Menemani Dunia Bermain Anak

Pada peluncuran produk ini, MAKUKU juga menghadirkan MAKUKU Land—ruang bermain interaktif yang ramah anak dan nyaman bagi keluarga.

Berlangsung 24–26 April 2026 di Lippo Mall Puri Atrium 2, kawasan ini berisi area eksplorasi seperti ruang bebas bergerak, ruang sensorik, hingga instalasi yang memperlihatkan bagaimana popok bekerja menjaga kenyamanan si Kecil. Semua keluarga dapat mengunjungi area ini secara gratis.

Pilihan untuk Setiap Tahap Tumbuh Kembang

MAKUKU Slim Luxury Silky hadir dalam tipe celana untuk ukuran S hingga XXL, serta tipe celana dan perekat untuk ukuran NB dan S.

Khusus bayi baru lahir, tersedia fitur perlindungan tambahan di area pusar agar si Kecil tetap nyaman sejak hari-hari pertama kehidupannya.

Dengan pendekatan yang lebih lembut, modern, dan fungsional, MAKUKU ingin membantu orang tua memberikan kenyamanan yang paling dasar namun paling penting: kulit si Kecil yang tetap lembut, kering, dan bebas bergerak sepanjang hari. (EH)

Eric Sudrajat: Mahasiswa Teknik yang Konsisten Ngeband, Bukti Passion Musik Bisa Jalan Bareng Karier Akademik

0
Eric Sudrajat
Foto: Indeksnews
Nama Eric Sudrajat mulai dikenal sebagai drummer muda yang tak hanya aktif di panggung, tetapi juga konsisten membangun identitas di dunia musik. Di tengah kesibukannya sebagai mahasiswa Fakultas Teknik, Eric membuktikan bahwa passion bermusik tetap bisa berjalan beriringan dengan pendidikan formal.

Perjalanan musik Eric Sudrajat dimulai sejak usia sangat dini. Saat masih duduk di bangku Taman Kanak-Kanak, sekitar umur 4 tahun, ia sudah mengenal drum lewat kursus musik di dekat rumahnya. Dari sekadar bermain, ketertarikan itu berkembang menjadi keseriusan saat ia beranjak ke jenjang Sekolah Dasar.

Sempat berhenti sejenak karena fokus ujian, Eric Sudrajat kembali mendalami drum saat SMP. Awalnya, motivasinya cukup sederhana mengumpulkan sertifikat untuk menunjang masuk SMA. Namun dari berbagai kompetisi yang ia ikuti, justru muncul kecintaan yang lebih dalam terhadap dunia musik.

Eric Sudrajat
Foto: Indeksnews

Masuk ke fase berikutnya, Eric Sudrajat tidak lagi hanya fokus bermain drum secara individu. Ia mulai aktif bermain dalam format band, yang menurutnya membuka perspektif baru tentang pentingnya kolaborasi dalam musik.

Dari beberapa proyek band sekolah hingga akhirnya membentuk band bernama Predator, Eric mulai mendapatkan banyak pengalaman tampil di berbagai panggung. Jam terbang yang terus meningkat menjadi fondasi penting dalam perjalanan karier musiknya.

Dalam bermusik, Eric mengaku terinspirasi oleh drummer internasional seperti Dream Theater, serta musisi Indonesia yang memiliki karakter permainan kuat. Baginya, ciri khas seorang drummer tidak hanya terletak pada teknik, tetapi juga pada gaya dan pembawaan di atas panggung.

Eric Sudrajat
Foto: Indeksnews

Tak hanya soal skill, Eric Sudrajat juga memahami pentingnya personal branding di era digital. Ia aktif membuat konten di media sosial sebagai bagian dari strategi membangun exposure dan nilai jual sebagai musisi.

“Kita harus punya value lebih, bukan cuma jago main. Konten, exposure, dan impact ke brand itu penting,” ungkap Project Officer acara Freshman Fair 2026 di Fakultas Teknis Universitas Indonesia, Jumat (24/4/2026).

Keseriusannya ini membuahkan hasil dengan kepercayaan sebagai endorsee dari salah satu brand musik. Namun, Eric menyadari bahwa perjalanan di dunia musik tidak lepas dari dukungan keluarga, terutama dari segi moral dan finansial.

Eric Sudrajat
Foto: Indeksnews

Menariknya, bakat musik Eric juga berasal dari lingkungan keluarga. Sang ayah pernah bermain drum, sementara pamannya juga terlibat di dunia musik.

Selain drum, kini Eric mulai mengeksplorasi instrumen lain seperti gitar dan bass, yang kerap ia tampilkan dalam konten digitalnya. Hal ini menjadi bagian dari upayanya untuk terus berkembang sebagai musisi yang versatile.

Di tengah kesibukan kuliah teknik, Eric tetap menjaga konsistensi bermusik dengan manajemen waktu yang disiplin.

“Kita semua punya 24 jam. Tinggal gimana kita atur antara kuliah, organisasi, dan musik,” jelas Eric Sudrajat.

Ke depan, Eric berharap bisa berkolaborasi dengan musisi-musisi besar serta mengembangkan bandnya yang saat ini tengah dalam proses rekaman materi baru.

Dengan perjalanan panjang sejak usia dini hingga kini menjadi musisi aktif, Eric Sudrajat menunjukkan bahwa passion di dunia musik bukan sekadar hobi melainkan sesuatu yang bisa dibangun serius, bahkan di tengah tuntutan akademik yang padat. (EH)

 

 

Video Klip Terasa “Asal Jadi”? Ini Kesalahan Umum Musisi yang Bikin Visual Gagal Nyambung

0
Video Klip
Foto: Tim Indeksnews
Video klip seharusnya bukan sekadar pelengkap di era digital saat visual jadi bagian penting dari identitas musik. Tapi faktanya, masih banyak rilisan yang terasa dikerjakan setengah matang mulai dari kualitas gambar yang kurang maksimal, konsep visual yang tidak jelas, sampai storytelling yang gagal menyatu dengan lagu.

Padahal, ketika audio dan visual bisa berjalan selaras, pengalaman pendengar bisa naik level bukan cuma dengar, tapi juga “melihat” dan merasakan pesan lagu secara utuh di Video Klip.

Oleg Sanchabakhtiar, Creative Director of Music Concert & Video sekaligus Founder Planet Design Indonesia, melihat masalah ini bukan sekadar soal teknis, tapi juga mindset profesional dalam produksi.

Video Klip
Foto: Tim Indeksnews

“Semua yang terlibat itu profesi. Dalam music video ada banyak peran penting—produser, director, art director, DOP, lighting, styling, editor, dan lainnya. Kalau hasilnya tidak maksimal, biasanya ada elemen penting yang diabaikan atau tidak dijalankan dengan serius,” jelas Oleg saat ditemui, Kamis (23/4/2026).

Menurutnya, banyak video klip gagal bukan karena idenya buruk, tapi karena eksekusinya tidak didukung tim yang solid atau persiapan yang matang. Faktor budget, kurangnya tenaga kompeten, hingga minimnya awareness terhadap standar kerja profesional jadi penyebab utama.

Visual Bisa Angkat atau Justru Menjatuhkan

Video Klip
Foto: Tim Indeksnews

Lebih jauh, Oleg menekankan bahwa visual punya kekuatan besar dalam membentuk persepsi audiens. Video klip bisa memperkuat pesan lagu, tapi juga bisa jadi bumerang kalau tidak tepat sasaran.

“Pertanyaannya selalu sama: pesan yang mau disampaikan itu sampai atau tidak ke penonton? Karena visual itu bisa mengangkat, tapi juga bisa menjatuhkan karya musik itu sendiri,” ujarnya.

Menariknya, ia juga menyinggung fenomena di mana visual yang “kurang” justru sengaja dijadikan strategi untuk memancing perhatian publik.

Video Klip
Foto: Tim Indeksnews

“Kadang ada juga yang sengaja bikin sesuatu yang memicu persepsi atau kontroversi. Tanpa disadari, itu jadi cara untuk bikin orang ngomongin,” tambahnya.

IMVA 2026: Apresiasi Detail, Bukan Sekadar Hasil Akhir

Sebagai bentuk apresiasi terhadap para kreator di balik layar, Indonesian Music Video Awards (IMVA) 2026 hadir dengan lebih dari 20 kategori yang menilai berbagai aspek produksi video klip secara lebih spesifik.

Pendekatan ini menegaskan bahwa kualitas sebuah video musik tidak bisa dilihat hanya dari hasil akhirnya saja, tapi juga dari detail proses kreatif di dalamnya.

“Penilaian kita mengacu pada standar nasional—DKV, kementerian, dan lain-lain. Ada SOP yang jelas. Jadi tidak bisa langsung bilang sebuah video itu asal-asalan, karena bisa jadi di sisi lain pesannya justru sampai ke audiens,” jelas Oleg.

Ia juga menyoroti perbedaan pendekatan antara era 90-an dan sekarang. Dulu, referensi visual terbatas, sementara saat ini kreator punya akses luas terhadap berbagai inspirasi global yang seharusnya bisa dimaksimalkan, bukan malah jadi bumerang karena kehilangan fokus.

Lebih dari Sekadar Video

IMVA sendiri bukan hanya ajang penghargaan, tapi juga bentuk dorongan agar para pelaku industri lebih serius dalam menggarap video musik sebagai karya yang utuh.

“Video klip itu cerminan seberapa besar kita menghargai profesi kita. Kalau memang cinta dengan apa yang dikerjakan, pasti hasilnya juga akan digarap dengan serius,” tutup Oleg.

Sejak Januari 2026, IMVA telah mengkurasi puluhan video klip setiap bulannya. Para pemenang bulanan nantinya akan bersaing di babak final. (Kintan)

Untuk update dan informasi lengkap:

  • Website: www.indonesianmusicvideoawards.com
  • Instagram: @planetdesign_indonesia
  • Pendaftaran Piala Swaradrisya: https://docs.google.com/forms/d/e/1FAIpQLSfgOAdk1iKAp1_nihhakA6ljdYh-DZ6DU2XvIspXBuaT4CvQw/viewform)

Assia Keva 2026 Hidupkan Kembali Lagu Lama Lewat Single Stripped-Down “Moonlight”

0
Assia Keva
Assia Keva penyanyi dan penulis lagu asal Bali, kembali memperluas katalog musiknya dengan merilis single terbaru berjudul “Moonlight”, sebuah lagu cinta bernuansa sederhana yang ia tulis empat tahun lalu ketika masih berusia 16 tahun.

Dalam rilis pers, Assia Keva mengungkap bahwa “Moonlight” tercipta secara spontan pada suatu malam di tahun 2022. Berawal dari momen santai di meja makan ketika seorang teman memainkan gitar dengan nada sederhana namun langsung “menempel di telinga,” lagu itu pun mengalir begitu cepat.

Mungkin cuma 10–15 menit. Ini salah satu lagu tercepat yang pernah aku buat,” uja Assia Keva.

Assia Keva

Meski tercipta secara natural, Assia Keva kala itu memilih menyimpannya. Ia merasa lagu tersebut hanya hasil dari spontanitas remaja 16 tahun yang belum memikirkan aturan penulisan lagu ataupun struktur komposisi. “It was just pure feeling,” kenangnya.

Beberapa bulan lalu, ketika berada di studio bersama produser Kevin Suwandhi untuk pengerjaan album mini “forevermore, but it’s just me and piano”, Assia kembali menemukan draft lagu “Moonlight”. Karena memiliki waktu tersisa di studio, keduanya memutuskan untuk menghidupkan kembali karya lama tersebut.

Keputusan itu mengubah “Moonlight” menjadi sebuah single intim dengan format stripped-down. “Kami akhirnya merekamnya hanya dengan vokal dan piano — sesederhana itu,” jelas Assia. Hasilnya adalah interpretasi baru yang menonjolkan kelembutan vokal serta kejujuran lirik, membuatnya menyadari bahwa lagu yang dulu ia lupakan itu memiliki tempat spesial.

Assia Keva

It’s just a very simple love song… but it came completely from the heart.

Versi stripped-down “Moonlight” kini telah tersedia di berbagai platform digital, termasuk Apple Music, YouTube Music, dan Spotify.

Sementara itu, versi lengkap “Moonlight” dijadwalkan masuk ke album terbaru Assia Keva yang masih dalam pengerjaan. Video live performance-nya juga akan dirilis melalui kanal YouTube resmi sang musisi dalam waktu dekat.

Assia Keva

Dengan rilisnya “Moonlight”, Assia Keva kembali menunjukkan kemampuan bercerita yang tulus dan emosional — membawa pendengar masuk ke perjalanan musik yang sederhana namun penuh kehangatan.

Karina Suwandi Gara-Gara “Tumbal Proyek”, Kembali Main Film Horor Meski Sempat Trauma

0
Karina Suwandi
Foto: Eny
Aktris Karina Suwandi hadir dalam konferensi pers film horor terbaru “Tumbal Proyek” dan mengungkap pengalaman pribadi yang cukup mengejutkan. Ia mengaku sempat mengalami trauma bermain film horor akibat satu adegan non fisik yang pernah dialaminya di proyek terdahulu.

Namun, menurut Karina Suwandi, kepercayaan pada tim kreatif termasuk sutradara Jero, produser Dheeraj Kalwani yang dikenal konsisten menghadirkan karya horor populer di Indonesia dan rumah produksi Dee Company membuatnya berani kembali mengambil peran dalam genre ini.

“Bukan satu adegan fisik itu yang membuat saya berhenti, tapi memang sempat menimbulkan trauma. Dan yang membuat saya kembali main film horor dengan adegan seperti tadi adalah kepercayaan saya pada Mas Jero, Pak Dheeraj, dan seluruh tim Dee Company,” ujar Karina Suwandi saat peluncuran Trailer Film “Tumbal Proyek” di Metropole XXI, Kamis (23/4/2026).

Karina Suwandi
Foto: Eny

Karina Suwanadi menambahkan bahwa ia banyak berdiskusi dengan tim sebelum menerima peran tersebut. Ia ingin memastikan proses syuting berjalan aman secara fisik maupun emosional.

Selama proses diskusi karakter, Karina juga memuji sosok Jeropoint yang menurutnya sangat terbuka dalam proses kreatif. Ia menyebut sang kreator banyak memberikan wawasan tentang cara berpikir karakter hingga detail-detail adegan yang membantu dirinya mendalami peran.

Selain itu, Karina menyoroti bagaimana tim produksi memberikan rasa aman bagi seluruh pemain dan kru di lokasi, terutama dalam adegan-adegan intens yang membutuhkan pendalaman emosional.

Karina Suwandi
Foto: Eny

“Tiap pemain dilindungi secara maksimal. Kami merasa sangat aman di lokasi. Itu penting, apalagi untuk adegan-adegan yang berat secara psikologis,” tuturnya

Tantangan Peran: Kehilangan dan Ketakutan yang Intens

Dalam “Tumbal Proyek”, Karina memerankan karakter yang berhadapan dengan dua emosi besar: kehilangan dan ketakutan. Menurutnya, dua unsur itu terasa sangat kuat saat dibangun bersama dua pemeran lainnya.

Karina Suwandi
Foto: Eny

“Kalau soal karakter, kehilangan dan ketakutan itu ada di dalam sini, cukup kuat di antara kami bertiga. Penasaran ya, nanti bisa dilihat sendiri tanggal 13 Mei 2026 mendatang,” tambahnya.

Karina berharap penonton bisa merasakan kedalaman emosi para karakter, bukan hanya sensasi menegangkan khas film horor.

Karina Suwandi
Foto: Eny

Selain Karina Suwandi para pemain yang terlibat seperti Kiesha Alvaro, Callista Arum dan pemeran lainnya ini dijadwalkan tayang di bioskop pada 13 Mei 2026 dan menjadi salah satu judul yang paling dinantikan berkat pendekatan cerita yang lebih emosional dibanding horor pada umumnya. (EH)