Indeks News | Kelurahan Gurun Laweh, Kecamatan Nanggalo, Kota Padang, menjadi salah satu wilayah yang terdampak parah banjir bandang pada November–Desember 2025. Sekitar 100 rumah warga terdampak, terutama di RT 02 RW 02.
Banjir tidak hanya merusak lingkungan dan tempat tinggal. Kondisi tersebut juga dapat mengganggu akses masyarakat terhadap pangan serta meningkatkan risiko masalah kesehatan dan gizi, terutama bagi kelompok rentan.
Melihat kondisi itu, Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Andalas mendorong peningkatan kesiapsiagaan masyarakat melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat.
Edukasi Gizi Menjadi Bagian dari Mitigasi Bencana
Kegiatan tersebut mengangkat tema “Edukasi Gizi Seimbang pada Situasi Tanggap Darurat sebagai Upaya Mitigasi Bencana di Kelurahan Gurun Laweh.”
Kegiatan diketuai oleh Risti Kurnia Dewi, S.Gz., M.Si. Program berlangsung mulai 2 Juli hingga 9 Agustus 2026.
Program ini menempatkan pengetahuan gizi sebagai salah satu bagian dari kesiapsiagaan menghadapi bencana. Dalam situasi darurat, masyarakat tidak hanya membutuhkan tempat yang aman. Ketersediaan pangan dan kemampuan memenuhi kebutuhan gizi keluarga juga menjadi bagian penting yang perlu dipersiapkan.
Apa yang terjadi ketika akses pangan terganggu setelah bencana? Masyarakat tetap harus memenuhi kebutuhan makanan keluarga meski kondisi lingkungan berubah dan berbagai fasilitas dapat terdampak.
Karena itu, edukasi mengenai gizi dalam situasi bencana menjadi salah satu materi yang diberikan kepada warga Gurun Laweh.

Warga Mendapat Edukasi Kebencanaan dan Gizi
Dalam kegiatan tersebut, warga mendapatkan edukasi mengenai dasar-dasar kebencanaan secara umum. Materi kemudian dilanjutkan dengan pembahasan mengenai kebutuhan gizi dalam situasi bencana.
Edukasi ini bertujuan membantu masyarakat memahami langkah yang perlu dilakukan ketika menghadapi kondisi darurat. Pengetahuan tersebut diharapkan dapat mendukung kemampuan keluarga dalam mempertahankan pemenuhan kebutuhan pangan dan gizi saat bencana terjadi.
Kesiapsiagaan menjadi penting karena kebutuhan pangan tetap berjalan meskipun aktivitas masyarakat terganggu. Dengan memahami prinsip gizi dan penanganan pangan dalam keadaan darurat, warga memiliki bekal untuk menghadapi situasi tersebut.
Kondisi Gurun Laweh Mendorong Penguatan Kesiapsiagaan
Gurun Laweh memiliki kondisi geografis yang membuat wilayah tersebut rentan terhadap luapan air. Wilayahnya memiliki elevasi rendah dan topografi cekung.
Keterbatasan infrastruktur pengendalian banjir juga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kerentanan wilayah.
Banjir bandang yang terjadi pada November–Desember 2025 menunjukkan dampak yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. Sekitar 100 rumah terdampak, dengan dampak terutama terjadi di RT 02 RW 02.
Situasi tersebut menjadi dasar penting untuk memperkuat kesiapsiagaan masyarakat. Bencana tidak hanya perlu dihadapi ketika sudah terjadi. Pengetahuan, keterampilan, dan persiapan dapat dibangun sebelum kondisi darurat kembali muncul.
Kesiapan Pangan dalam Situasi Darurat
Salah satu bagian dari kegiatan ini adalah pelatihan pembuatan pangan darurat.
Pelatihan tersebut memberikan keterampilan praktis kepada warga untuk mempersiapkan pangan yang dapat digunakan dalam kondisi bencana. Keterampilan ini melengkapi edukasi mengenai gizi yang telah diberikan.
Pangan menjadi kebutuhan dasar yang harus tetap diperhatikan dalam situasi tanggap darurat. Ketika akses terhadap makanan berubah akibat bencana, kemampuan masyarakat untuk mengelola kebutuhan pangan dapat membantu keluarga tetap memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Pelatihan Dasar Kesiapsiagaan Bencana
Selain edukasi gizi dan pelatihan pembuatan pangan darurat, warga juga mendapatkan pelatihan dasar kesiapsiagaan bencana.
Materi ini menjadi bagian dari upaya membangun kapasitas masyarakat Gurun Laweh dalam menghadapi kondisi darurat.
Kesiapsiagaan tidak hanya berkaitan dengan tindakan saat bencana berlangsung. Masyarakat juga perlu memiliki pemahaman mengenai kondisi yang dapat muncul setelah bencana, termasuk persoalan pemenuhan pangan dan gizi keluarga.
Dengan pendekatan tersebut, kesiapsiagaan masyarakat tidak berhenti pada aspek keselamatan. Kebutuhan dasar keluarga juga menjadi bagian dari persiapan menghadapi bencana.
FKM Universitas Andalas Dorong Kapasitas Masyarakat
Melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini, FKM Universitas Andalas mendorong masyarakat Gurun Laweh untuk memiliki pengetahuan dan keterampilan yang dapat digunakan dalam situasi darurat.
Program yang berlangsung dari 2 Juli hingga 9 Agustus 2026 tersebut menggabungkan tiga unsur utama, yaitu edukasi kebencanaan, edukasi gizi dalam situasi bencana, serta pelatihan kesiapsiagaan dan pembuatan pangan darurat.
Pendekatan tersebut diarahkan untuk memperkuat kapasitas masyarakat agar lebih siap ketika bencana terjadi.
Pada akhirnya, kesiapsiagaan bukan hanya tentang seberapa cepat masyarakat merespons bencana. Ada kebutuhan lain yang harus tetap berjalan, termasuk pemenuhan pangan dan gizi keluarga.
Melalui penguatan pengetahuan dan keterampilan tersebut, masyarakat Gurun Laweh diharapkan mampu mempertahankan kebutuhan pangan dan gizi keluarga ketika menghadapi kondisi darurat.





