Jakarta — Situasi di sejumlah wilayah terdampak banjir bandang dan longsor di Aceh serta beberapa daerah di Sumatra semakin kritis. Anggota Komisi V DPR RI Fraksi PKB, Irmawan, mendesak pemerintah pusat segera mengirim bantuan darurat berskala besar karena warga mulai mengalami kelaparan dan laporan penjarahan mulai muncul.
Irmawan mengatakan stok makanan di berbagai titik pengungsian telah habis. Akses bantuan yang terhambat membuat banyak wilayah terisolasi belum tersentuh bantuan apa pun.
“Stok pangan sudah habis, bantuan belum masuk, dan warga kelaparan. Situasi ini membuat sebagian tempat mulai terjadi penjarahan,” ujar Irmawan, Rabu (3/12).
Kerusakan infrastruktur disebut sangat parah. Sejumlah jalan nasional dan jembatan hanyut terbawa arus, sementara beberapa desa dilaporkan hilang sepenuhnya. Akses darat hampir mustahil ditembus, sehingga pengiriman bantuan hanya bisa dilakukan dengan helikopter. Namun, armada yang tersedia belum mampu menjangkau sekitar satu juta pengungsi.
Rumah sakit di wilayah terdampak juga tidak berfungsi optimal akibat listrik padam dan minimnya pasokan BBM. Pemerintah daerah disebut tidak memiliki sumber daya yang cukup untuk menangani bencana berskala besar ini.
“Jika kondisi ini dibiarkan, korban jiwa berikutnya bukan lagi karena banjir, tetapi karena kelaparan dan penyakit,” tegas Irmawan.
Menurutnya, skala kerusakan dan banyaknya korban sudah memenuhi syarat penetapan Bencana Nasional, sehingga pemerintah pusat dapat mengambil alih penanganan penuh. Ia juga memperingatkan potensi gejolak sosial yang meningkat, terutama di wilayah terisolasi yang belum menerima bantuan sama sekali.
Irmawan menyebut bantuan dari Malaysia bahkan sudah tiba lebih dulu di beberapa titik. “Pemerintah pusat harus bergerak cepat agar korban tidak bertambah,” ujarnya.
Wilayah seperti Bireuen dan Aceh Tamiang masih belum dapat dihubungi akibat terputusnya jaringan komunikasi. Sementara itu, daerah yang lebih mudah dijangkau sudah mulai menerima bantuan, tetapi lokasi terpencil masih menjadi prioritas utama mengingat situasi yang semakin darurat.




