Indeks News – Tanjung Priok kembali memanas. Sebuah peristiwa mengejutkan terjadi sore ini ketika rumah anggota DPR Ahmad Sahroni digeruduk massa hingga dijarah. Momen mencekam tersebut bahkan tersiar langsung melalui sebuah akun TikTok dan ditonton lebih dari 1,5 juta orang.
Pintu gerbang kediaman Ahmad Sahroni di kawasan Tanjung Priok, Jakarta Utara, sudah hancur ketika kerumunan memasuki area rumah. Dari rekaman siaran langsung yang beredar, terlihat warga berbondong-bondong mengambil barang-barang berharga, mulai dari televisi hingga perabot rumah tangga. Situasi itu memunculkan keharuan sekaligus ketegangan karena massa bergerak tanpa kendali.
Seorang pemilik akun TikTok dengan nama @cukupsatu_selamanya menjadi saksi sekaligus penyampai suasana. Ia menjawab pertanyaan para warganet dengan nada terburu-buru, “Lagi nyerang rumah Ahmad Sahroni di Tanjung Priok.” Suara riuh massa terdengar jelas, memperkuat gambaran kekacauan di lokasi.
Meski situasi berlangsung tegang, sang perekam memastikan tidak ada upaya pembakaran rumah. “Tidak akan dibakar, banyak warga, rumahnya padat,” ucapnya meyakinkan. Kalimat itu seakan memberi napas lega di tengah ketakutan akan kemungkinan lebih buruk.
Nama Ahmad Sahroni sebelumnya memang menuai sorotan publik. Politikus yang kini duduk di kursi DPR itu menjadi perbincangan setelah menyebut wacana pembubaran DPR sebagai “ide orang tolol sedunia”. Ucapannya memicu gelombang kritik, terutama dari masyarakat yang sudah lama kecewa terhadap kinerja wakil rakyat.
Demonstrasi terhadap anggota DPR dan kepolisian yang sebelumnya banyak berlangsung di sekitar gedung dewan, kini melebar ke ranah pribadi. Rumah Sahroni pun menjadi sasaran amarah. Peristiwa ini memperlihatkan betapa dalamnya jurang ketidakpercayaan publik terhadap wakil rakyat.
Adegan warga mengangkut barang-barang dari rumah seorang pejabat negara adalah potret ironis. Di satu sisi, itu menunjukkan luapan kekecewaan yang tidak terbendung. Namun di sisi lain, menyisakan pertanyaan besar: sampai sejauh mana kemarahan rakyat bisa ditoleransi tanpa menimbulkan kerugian yang lebih luas?
Malam ini, Tanjung Priok tak hanya menyisakan reruntuhan pagar dan rumah yang porak poranda. Ia juga meninggalkan jejak luka sosial yang dalam—tentang relasi rakyat dan wakilnya, tentang kata-kata yang menyinggung hati publik, dan tentang emosi yang meledak menjadi aksi nyata.




