Sal Priadi: Karakter Rudi di Monster Pabrik Rambut Jadi Refleksi Budaya Mengejar Angka dan Viralitas

Penyanyi sekaligus aktor Sal Priadi mengungkapkan bahwa karakter Rudi yang ia perankan dalam film Monster Pabrik Rambut memberikan refleksi mendalam tentang kehidupan modern yang dipenuhi obsesi terhadap angka, penghargaan, dan pengakuan.

Menurut Sal Priadi, keinginan Rudi sebenarnya sangat sederhana. Ia hanya menginginkan sepasang sepatu. Namun, untuk mewujudkan keinginannya tersebut, Rudi harus masuk ke dalam sistem pabrik yang menerapkan mekanisme penghargaan berupa bintang. Semakin banyak bintang yang dikumpulkan, semakin besar pula imbalan yang diperoleh.

“Keinginannya cuma sederhana, dia cuma ingin sepatu. Tapi kemudian dia harus ikut sistem pabrik, sistem reward bintang-bintang. Semakin banyak dapat bintang, semakin banyak dapat uang,” ujar Sal Priadi saat conference pers film Monster Pabrik Rambut di Epicentrum, Senin (1/6/2026).

Sal Priadi
Foto: Eny

Meski tampak menjanjikan, sistem tersebut pada akhirnya membawa konsekuensi tragis bagi Rudi. Bagi Sal Priadi, kondisi itu menjadi metafora yang relevan dengan berbagai aspek kehidupan saat ini, termasuk dunia musik yang ia geluti.

Sebagai seorang penyanyi, Sal Priadi mengaku melihat kemiripan antara perjuangan Rudi dengan fenomena para musisi yang terus mengejar angka pemutaran lagu (streaming) dan viralitas di media sosial.

“Saya jadi refleksi soal stream. Penyanyi selalu mengejar angka stream, ingin viral. Sementara hal itu sering kali jadi ilusi buat kita,” katanya.

Sal Priadi
Foto: Eny

Ia menilai fokus yang berlebihan pada capaian angka dapat membuat seorang seniman kehilangan esensi berkarya. Alih-alih menyampaikan pesan yang bermakna, karya justru berisiko dibuat semata-mata untuk memenuhi tuntutan algoritma dan popularitas.

“Pada akhirnya proses berkarya mengarah ke sana dan menghilangkan diri kita untuk benar-benar berkarya, untuk mengatakan sesuatu yang punya bobot. Kemudian itu bisa jadi buruk hanya karena mengejar viral dan angka-angka,” lanjutnya.

Melalui karakter Rudi, Sal melihat adanya kritik terhadap sistem yang mendorong manusia terus mengejar penghargaan dan pengakuan tanpa pernah merasa cukup. Baginya, kisah tersebut menjadi pengingat agar seniman maupun masyarakat tidak kehilangan tujuan utama mereka hanya demi mengejar angka dan validasi.

Sal Priadi
Foto: Eny

Selain berakting, Sal juga menciptakan dan menyanyikan lagu tema (original soundtrack) untuk film ini yang berjudul “Kepala, Pundak, Kerja Lagi”. Lagu bernuansa satir ini diciptakannya secara spontan saat berada di lokasi syuting untuk menggambarkan realitas pekerja yang mengalami overwork.

Film yang melibatkann Sal ini di produksi Palari Films bekerja sama dengan Giraffe Pictures, Hasaku Lab, Beacon Films, In Good Company, Apsara Films, Phoenix Films, Imajinari, Jagartha, Trinity Entertainment, dr.M, dan TIX ID.

Film horor karya sutradara Edwin ini di bintangi oleh Rachel Amanda, Lutesha, Iqbaal Ramadhan, Luqman Kev dan Didik Nini Thowok bakal tayang di bioskop Indonesia mulai 4 Juni 2026. (EH).

GoogleNews

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses