Indeks News – Suasana aksi unjuk rasa damai di Lapangan Setda, Garut, Selasa (2/9/2025), mendadak berubah penuh sorotan. Ketika Bupati Garut salah baca teks Pancasila di hadapan para mahasiswa.
Momen yang seharusnya menjadi simbol penghormatan terhadap dasar negara justru diwarnai insiden mengejutkan ketika Bupati Garut, Abdusy Syakur, salah baca teks Pancasila.
Peristiwa yang cukupmemelukan itu terjadi di tengah teriknya siang, ratusan mahasiswa duduk berbaris rapi. Mereka menyampaikan aspirasi dengan tertib, hingga tiba giliran sang bupati naik ke podium.
Kemudian suara lantang Syakur terdengar jelas ketika ia melafalkan sila pertama, kedua, dan ketiga dengan fasih. Namun, saat mencapai sila keempat, ia terdiam sejenak. Kalimat yang seharusnya berbunyi, “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan,” justru terucap keliru.
Sekejap, suasana berubah. Beberapa mahasiswa langsung berdiri dan dengan lantang mengoreksi. “Ulangi, Pak Bupati!” teriak mereka serentak. Wajah-wajah penuh semangat itu bukan sedang mengejek, melainkan menunjukkan rasa hormat mereka pada Pancasila. Tepuk tangan, seruan koreksi, dan sorakan bercampur menjadi satu, menciptakan momen haru sekaligus tegang.
Kesalahan itu direkam dalam video yang kemudian menyebar luas di media sosial. Dalam hitungan jam, potongan rekaman tersebut viral dan menuai beragam komentar. Ada yang menilai bahwa setiap manusia bisa khilaf, namun tidak sedikit pula yang kecewa.
Bagaimana mungkin seorang kepala daerah, simbol pemerintahan di tingkat kabupaten, bisa keliru membaca teks dasar negara yang seharusnya dihafal di luar kepala?
Reaksi publik pun terbelah. Sebagian bersikap maklum, menyebut bahwa kejadian itu hanyalah kesalahan sepele. Namun, banyak juga yang merasa ini adalah tanda lemahnya pemahaman Pancasila di kalangan pejabat publik.
Kritik tajam bermunculan, menyebut insiden ini sebagai alarm bahwa pemimpin harus benar-benar menghayati nilai-nilai kebangsaan, bukan sekadar melafalkan teks.
Meski sempat menimbulkan riuh, aksi mahasiswa di Garut itu tetap berlangsung damai. Justru dari sinilah muncul pesan kuat: Pancasila bukan hanya teks hafalan, tetapi pedoman hidup yang harus dijalani.
Koreksi mahasiswa terhadap bupati adalah bentuk kecintaan mereka pada bangsa, sekaligus pengingat bahwa setiap pemimpin wajib menjadi teladan dalam mengamalkan ideologi negara.
Insiden ini memberi pelajaran berharga. Bagi Bupati Abdusy Syakur, kritik yang datang bisa menjadi ruang untuk introspeksi. Sikap terbuka terhadap kesalahan akan menunjukkan kebijaksanaan seorang pemimpin.
Bagi masyarakat luas, peristiwa ini menjadi momentum untuk kembali menghayati nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
Karena sejatinya, pemimpin yang baik bukan hanya mampu membaca Pancasila dengan benar, tetapi juga menjiwainya dalam kebijakan dan tindakan nyata.




