The Papa’s 2026 Perkenalkan Identitas Pop Rock Emosional Lewat Single Debut “Menghilang”

The Papa’s resmi membuka perjalanan mereka di industri musik Indonesia melalui perilisan single perdana berjudul Menghilang. Diperkenalkan dalam acara khusus yang berlangsung di Kalingga Sun Coffe, Bekasi, Jumat (5/6/2026), lagu ini menjadi pernyataan awal mengenai arah musikal yang ingin dibangun The Papa’s, yakni perpaduan pop rock modern dengan sentuhan emosional yang dekat dengan pengalaman generasi muda.

Sebagai langkah debut, The Papa’s tidak memilih pendekatan yang terlalu mengikuti tren pop saat ini maupun kembali sepenuhnya pada pakem rock konvensional. Band ini justru mencoba menghadirkan keseimbangan antara kekuatan melodi pop yang mudah dinikmati dan energi rock yang menjadi identitas para personelnya. Formula tersebut diwujudkan dalam Menghilang, sebuah lagu yang mengusung tema patah hati, kehilangan, dan pertemuan kembali yang tidak selalu berakhir dengan kebahagiaan.

Lagu The Pap’s ini ditulis oleh Windu yang mengaku terinspirasi dari berbagai kisah percintaan di sekitarnya, terutama pengalaman yang banyak dialami generasi muda saat ini. Menurutnya, cerita dalam Menghilang berangkat dari fenomena hubungan yang berakhir bukan karena hilangnya perasaan, melainkan karena keadaan yang memaksa dua orang untuk berpisah.

The Papa's
Foto: Eny

“Lagu Menghilang ini terinspirasi dari beberapa kejadian, kebanyakan dari teman-teman yang saya sebut anak Gen Z. Saya juga pernah mengalami hal yang sama,” ujar Windu saat sesi konferensi pers peluncuran singel perdana di Kalingga Sun Coffe, Bekasi, Jumat (5/6/2026).

Dalam narasinya, Menghilang menceritakan sepasang kekasih yang pernah memiliki hubungan baik, namun harus berpisah karena sebuah kondisi yang tidak dapat mereka hindari. Waktu kemudian mempertemukan mereka kembali, tetapi pertemuan tersebut justru menghadirkan kesadaran bahwa tidak semua kisah lama harus dimulai kembali.

“Saya mencoba menuangkan cerita sepasang kekasih yang sebelumnya punya hubungan baik, lalu karena satu hal mereka putus. Ketika dipertemukan kembali, akhirnya mereka memilih tidak berlanjut lagi,” lanjutnya.

The Papa's
Foto: Eny

Secara musikal, The Papa’s membangun Menghilang di atas fondasi pop rock yang mengedepankan kekuatan lagu, bukan sekadar kompleksitas teknis. Aransemen dibuka dengan nuansa yang relatif tenang, memberikan ruang bagi vokal untuk menyampaikan emosi cerita secara utuh. Seiring berjalannya lagu, lapisan instrumen mulai bertambah melalui permainan gitar yang lebih tegas, ritme yang semakin berkembang, dan dinamika yang perlahan meningkat hingga mencapai puncak emosional pada bagian akhir.

Karakter pop dalam lagu The Papa’s ini hadir melalui struktur penulisan yang mudah dicerna, hook yang kuat, serta melodi vokal yang komunikatif. Sementara itu, unsur rock muncul melalui tone gitar yang lebih berisi, permainan band yang hidup, serta karakter vokal Sky yang memiliki warna khas dan tekstur yang tidak lazim ditemukan dalam lagu-lagu pop mainstream saat ini.

Bradley, yang bertindak sebagai arranger sekaligus keyboardis, menjelaskan bahwa sejak awal band sepakat untuk tidak terjebak pada satu spektrum genre tertentu. Ia melihat ruang yang menarik untuk menghadirkan musik yang mampu menjangkau pendengar pop tanpa kehilangan identitas band.

The Papa's
Foto: Eny

“Kalau rock banget, rasanya sudah terlalu jauh dari pasar sekarang. Kalau pop banget, band pop juga sudah banyak. Jadi kami coba ada di tengah-tengah, pop rock, tapi dengan gameplay era 2005-2006,” kata Bradley.

Pernyataan tersebut tercermin dalam pendekatan aransemen yang mengingatkan pada era kejayaan band Indonesia pertengahan 2000-an, ketika kekuatan lagu, permainan instrumen, dan karakter vokal menjadi elemen utama dalam membangun identitas sebuah grup musik. Namun, The Papa’s tidak sekadar bernostalgia. Mereka tetap membalut referensi tersebut dengan produksi yang lebih modern sehingga terdengar relevan bagi pendengar saat ini.

Bradley juga menilai bahwa kekuatan utama Menghilang terletak pada kombinasi karakter vokal Sky dan permainan gitar Metz. Menurutnya, dua elemen tersebut menjadi faktor penting yang membuat lagu ini tidak terdengar sebagai lagu pop biasa.

“Basenya memang pop, tapi dengan karakter suara Sky dan sound gitar Metz, ada nilai rocknya. Jadi hasil akhirnya bukan pop murni,” ujarnya.

Di balik hasil akhir yang terdengar matang, proses penciptaan Menghilang ternyata memakan waktu yang cukup panjang. Windu mengungkapkan bahwa lagu tersebut mulai digarap sejak Agustus tahun lalu dan mengalami beberapa kali perubahan sebelum mencapai bentuk final.

“Kalau revisi lagunya kurang lebih sekitar lima sampai enam kali sebelum akhirnya diaransemen ulang,” kata Windu.

Serangkaian revisi tersebut dilakukan untuk memastikan emosi yang terkandung dalam lagu dapat tersampaikan secara maksimal. Tidak hanya pada aspek lirik, tetapi juga melalui dinamika musik dan pemilihan warna instrumen yang mendukung cerita.

Dari sejumlah materi yang telah disiapkan untuk proyek awal band, Menghilang akhirnya dipilih sebagai single pembuka. Pilihan tersebut bukan hanya berdasarkan pertimbangan internal, tetapi juga mendapat masukan dari sejumlah pihak yang terlibat dalam proses produksinya.

“Dari beberapa pilihan, arranger saya memilih Menghilang. Ketika proses mixing dan mastering di tempat Mas Wendy, basis Bagindaz, beliau juga memilih lagu ini untuk single perdana,” tutur Windu.

Bagi Sky, tantangan terbesar dalam lagu The Papa’s ini justru datang dari proses interpretasi vokal. Sebagai penyanyi yang memiliki kecenderungan karakter classic rock, ia harus menyesuaikan pendekatan bernyanyinya agar lebih menyatu dengan atmosfer lagu yang melankolis.

“Jawabannya sangat sulit. Di sini saya harus benar-benar menahan suara, tapi justru dari menahan itu lagunya jadi terasa manis,” ujar Sky.

Ia menambahkan bahwa proses rekaman menjadi pengalaman eksploratif karena harus keluar dari zona nyaman yang selama ini membentuk identitas vokalnya. Dalam proses tersebut, Bradley berperan penting mengarahkan setiap personel untuk menemukan pendekatan baru tanpa kehilangan karakter masing-masing.

“Arranger kami berhasil membuat saya terjebak di situ. Dia minta saya keluar dari karakter classic rock, tapi tetap membuat lagu ini manis walaupun dengan karakter suara yang kasar,” tambah vokalis The Papa’s ini.

Melalui Menghilang, The Papa’s memperkenalkan fondasi identitas mereka sebagai band yang menggabungkan cerita personal, lirik yang dekat dengan realitas pendengar muda, serta aransemen pop rock yang menempatkan emosi sebagai kekuatan utama. Single ini bukan hanya menjadi perkenalan resmi mereka kepada publik, tetapi juga gambaran awal mengenai warna musik yang akan terus dikembangkan pada karya-karya berikutnya.

Dengan pendekatan yang memadukan sensibilitas pop, energi rock, dan produksi yang modern, The Papa’s menempatkan Menghilang sebagai titik awal perjalanan mereka untuk membangun tempat di tengah lanskap musik Indonesia yang semakin beragam. Perlu di informasikan band ini akan segera merilis mini album di akhir tahun serta akan membuat video klip single berikutnya di Yogyakarta. Band ini beranggotakan Bradley (keyboard), Metz (gitar), Cahyonoyz (drum), dan Sky (vokal). (EH).

GoogleNews

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses