Juminten Edan Tayang 23 Juli 2026! Siapa Sebenarnya yang Waras? Deretan Bintang Ini Bongkar Rahasia Keluarga yang Berujung Teror Berdarah

JAKARTA –  Juminten Edan Bukan sekadar film horor penuh teror dan adegan menegangkan, justru membawa konflik yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Film yang tayang di seluruh bioskop mulai 23 Juli 2026 ini mengangkat persoalan keluarga, hubungan mertua dan menantu, hingga perjuangan seorang ibu yang rela melakukan apa saja demi anaknya.

Disutradarai Dedy Mercy, ditulis Alim Sudio, dan diproduseri Jonathan Ozoh, Juminten Edan menghadirkan jajaran pemain lintas generasi seperti Meisya Amira, Dimas Aditya, Anne J. Cotto,Kukuh Prasetya, Sharon Jovian, Deden Baskara, Bambang Oeban, Wina Marrino dan lainnya.

Di balik judulnya yang terdengar menyeramkan, Juminten Edan besutan Mercusuar Films menyimpan pertanyaan besar yang menjadi benang merah cerita: siapa sebenarnya yang waras, dan siapa yang sesungguhnya telah kehilangan kewarasannya?

Juminten Edan
Foto: Eny

Pertanyaan itulah yang membuat film garapan Dedy Mercy ini tak hanya menawarkan horor dan adegan aksi, tetapi juga drama psikologis yang sarat emosi.

Miniatur Konflik Keluarga Indonesia

Produser Jonathan Ozoh mengatakan sejak awal Juminten Edan dirancang sebagai gambaran kehidupan keluarga Indonesia yang penuh dinamika.

Menurutnya, konflik yang dihadirkan bukan sekadar fiksi, melainkan persoalan yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari.

Juminten Edan
Foto: Eny

“Kami memilih tema keluarga karena melihat bahwa Juminten Edan didesain sebagai sebuah kisah keluarga, miniatur dari kisah keluarga di seluruh Indonesia. Film ini mencoba mengangkat bagaimana hubungan antara mertua dan menantu, hubungan antara anak dengan ibu mertuanya, serta dinamika yang kerap terjadi di dalam sebuah keluarga,” ujar Jonathan saat konferensi pers di Epicentrum XXI, Kamis (16/7/2026).

Ia berharap penonton dapat melihat refleksi kehidupan mereka sendiri melalui konflik yang dialami para karakter.

Judulnya Saja Sudah Mengundang Rasa Penasaran

 

Juminten Edan
Foti: Eny

Penulis naskah Alim Sudio mengaku langsung tertarik ketika pertama kali mendengar judul Juminten Edan.

Baginya, judul tersebut memiliki daya tarik kuat karena menyimpan pertanyaan filosofis mengenai batas antara kewarasan dan kegilaan.

“Film ini pada dasarnya ingin berbicara mengenai sebuah persoalan yang kemudian menjadi tagline-nya, yaitu mempertanyakan siapa yang sebenarnya waras dan siapa yang tidak waras. Kadang-kadang batas di antara keduanya menjadi begitu kabur.”

Untuk memperkuat atmosfer cerita, Alim bersama Dedy Mercy memilih latar sebuah pulau terpencil yang menghadirkan rasa terisolasi sekaligus memperbesar konflik psikologis para tokohnya.

Juminten, Sosok Ibu yang Dipaksa Menjadi Petarung

Sutradara Dedy Mercy menjelaskan bahwa seluruh adegan aksi dalam film ini lahir dari perjalanan emosional karakter utama.

Menurutnya, Juminten bukanlah perempuan yang sejak awal digambarkan tangguh atau jago bertarung. Ia berubah karena keadaan memaksanya.

“Terjadi perkelahian, terjadi pembunuhan, karena bagi Juminten, anaknya adalah segala-galanya. Ia akan melakukan apa pun demi anaknya.”

Karena itulah, Dedy memilih Meisya Amira untuk memerankan Juminten.

“Karakter Juminten tidak boleh terlihat seperti seorang petarung sejak awal. Biarkan sisi petarung itu muncul karena sebuah kebutuhan.”

Meisya Amira Belajar Bahasa Isyarat hingga Koreografi Laga

Bagi Meisya Amira, memerankan Juminten menjadi tantangan terbesar sepanjang kariernya.

Selain memerankan perempuan tunawicara dan tunarungu, ia juga harus menguasai bahasa isyarat serta adegan laga.

“Saya harus mempelajari bahasa isyarat dan memerankan sosok tunawicara sekaligus tunarungu. Itu sangat sulit karena sebelumnya saya belum pernah mempelajarinya.”

Selama dua minggu, Meisya menjalani workshop bersama pelatih khusus yang juga merupakan penyandang tunarungu.

Tak berhenti di situ, ia juga menjalani latihan koreografi pertarungan setiap hari selama proses produksi.

“Tidak pernah ada hari syuting tanpa latihan.”

Dimas Aditya: Semua Emosi Sudah Dipersiapkan Sejak Reading

Pemeran Manto, Dimas Aditya, mengatakan chemistry para pemain bukan terjadi secara spontan.

Menurutnya, seluruh grafik emosi telah dibangun sejak reading dan workshop.

“Semua merupakan hasil kolaborasi dari latihan dan kematangan yang telah dipersiapkan selama proses reading dan workshop.”

Dimas juga mengaku menikmati proses syuting di lokasi-lokasi terpencil yang belum banyak digunakan sebagai lokasi produksi film Indonesia.

Anne J. Cotto Comeback ke Layar Lebar

Film ini juga menjadi penanda kembalinya Anne J. Cotto ke dunia film setelah lima tahun menetap di Bali.

Ia memerankan Salma, ibu mertua Juminten yang menjadi salah satu sumber konflik terbesar dalam cerita.

“Biasanya karakter yang saya perankan sedikit barbar. Saya sempat berharap di film ini bisa menjadi sosok ibu yang lembut, tetapi ternyata tidak berhasil juga. Pesan saya untuk para ibu di Indonesia, jangan seperti Salma.”

Anne juga mengungkapkan rasa kagumnya terhadap perhatian tim produksi terhadap detail karakter, termasuk saat tim make-up sempat memastikan tampilan fisiknya benar-benar sesuai dengan kebutuhan cerita.

Siap Menghantui Bioskop Mulai 23 Juli 2026

Memadukan horor psikologis, drama keluarga, aksi, dan misteri, Juminten Edan menawarkan pengalaman yang berbeda dari film horor Indonesia kebanyakan.

Alih-alih hanya mengandalkan jump scare, film ini mengajak penonton menyelami luka batin, konflik keluarga, serta naluri seorang ibu yang rela melakukan apa pun demi melindungi anaknya.

Jangan lewatkan Juminten Edan yang mulai tayang di bioskop seluruh Indonesia pada 30 Juli 2026. Saat seluruh rahasia mulai terungkap, satu pertanyaan akan terus menghantui penonton hingga kredit penutup: siapa sebenarnya yang edan, dan siapa yang justru paling waras?. (EH).

GoogleNews

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses