Beranda BUDAYA KARYA Mungkinkah Pemahaman Hadis Tanpa Persfektif Sosiologis

Mungkinkah Pemahaman Hadis Tanpa Persfektif Sosiologis

hadis

Oleh : Ninda Syahida (Mahasiswi Ilmu Hadis UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)

Hadis secara bahasa yaitu sesuatu sesuatu yang baru (al-jadid). Kata hadis juga berarti berita (al-Khabar), yaitu sesuatu yang dipercakapkan dan dipindahkan dari seseorang kepada orang lain.

Hadis dalam istilah syara’ ialah segala sesuatu yang datang dari Rasulullah SAW, baik itu berupa ucapan, perbuatan, atau persetujuan nabi SAW, Yang menjadi sumber hukum kedua setelah Al-Qur’an.

Sosiologi merupakan gabungan dari dua kata yaitu socius dan logos. Socius berasal dari bahasa latin yang artinya teman dan logos berasal dari bahasa yunani yang artinya ilmu. Menurut kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sosiologi merupakan ilmu pengetahuan atau ilmu tentang sifat dan perkembangan masyarakat, ilmu tentang struktur sosial, proses sosial dan perubahan.

Dari penjelasan diatas muncullah sebuah pertanyaan,mungkinkah pemahaman hadis tanpa persfektif sosiologis? Apakah kita bisa memahami hadis tanpa adanya pandangan dari segi sosiologis?

Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam adalah seorang Rasul yang menjadi utusan Allah Subhanahu wata’ala sebagai pembawa agama islam pertama dimuka bumi tentunya jika dilihat dari aspek spiritual dan insanniyah Beliau berbeda dengan kita,akan tetapi Beliau juga seorang manusia yang sama dengan manusia lainnya dari beberapa asek,seperti; kebutuhan sandang,pangan dan papan.

Sebagaimana yang dijelaskan didalam QS,Al-Furqon:7

وَقَالُوۡا مَالِ هٰذَا الرَّسُوۡلِ يَاۡكُلُ الطَّعَامَ وَيَمۡشِىۡ فِى الۡاَسۡوَاقِ ؕ لَوۡلَاۤ اُنۡزِلَ اِلَيۡهِ مَلَكٌ فَيَكُوۡنَ مَعَهٗ نَذِيۡرًا

Artinya:  Dan mereka berkata, “Mengapa Rasul (Muhammad) ini memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar? Mengapa malaikat tidak diturunkan kepadanya (agar malaikat) itu memberikan peringatan bersama dia,

Ayat diatas menjelaskan bahwa Nabi Shallallahu’alaihi wasallam juga bersosialisasi dengan masyarakat banyak dan juga bergaul dengan mereka. Adanya hadis juga tidak terlepas dari asbab al wurud mengapa hadis itu sampai keluar dari mulut nabi,tentunya ini juga tidak bisa lepas dari persoalaan dikalangan umat islam pada masa itu. Lalu bagaimana jika hadis dipahami tanpa menggunakan persfektif sosiologis? Berikut dibawah ini akan saya paparkan contoh mengenai hal ini.

BACA JUGA  Oscar Lawalata Pamerkan 100 Koleksi Kain Tenun Lewat "Aku dan Kain"

Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu’anhu,

أنَّ رسولَ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ صلَّى فخَلعَ نَعليهِ فخلعَ النَّاسُ نعالَهُم فلمَّا انصرَف قالَ: لمَ خَلعتُمْ نعالَكُم ؟ قالوا: يا رسولَ اللَّهِ، رأيناكَ خلَعتَ فخَلَعنا قالَ: إنَّ جَبرئيلَ أتاني فأخبرَني أنَّ بِهِما خَبثًا فإذا جاءَ أحدُكُمُ المسجِدَ فليقلِب نعليهِ فلينظُر فيهما خبثٌ؟، فإن وجدَ فيهما خبثًا فليمسَحهما بالأرضِ، ثمَّ ليصلِّ فيهما

Artinya: “Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam ketika sedang shalat beliau melepas sandalnya. Maka para makmum pun melepas sandal mereka. Ketika selesai shalat Nabi bertanya, ‘mengapa kalian melepas sandal-sandal kalian?’ Para sahabat menjawab, ‘wahai Rasulullah, kami melihat engkau melepas sandal, maka kami pun mengikuti engkau.’ ‘(Adapun aku,) sesungguhnya Jibril mendatangiku dan mengabarkanku bahwa pada kedua pasang sandalku terdapat najis. Maka jika salah seorang dari kalian mendatangi masjid, hendaknya ia lihat bagian bawahnya apakah terdapat najis Jika ada maka usapkan sandalnya ke tanah, lalu shalatnya menggunakan keduanya’” (HR. Al-Hakim 1/541, Abu Daud no. 650, Ibnu Hibban no. 2185, Al-Hakim menyatakan shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim, Al-Albani dalam Shahih Abu Daud menyatakan Shahih).

Lalu pada masa sekarang ini apakah ada orang yang shalat menggunakan sandal? Apakah yang tidak menggunakan sandal itu bid’ah? Apakah kita bid’ah? Lalu bagaimana mengetahui kebenarannya? Maka disini kita perlu melihat situasi seperti ini dengan pemahaman kontekstual yaitu melihat situasi dan kondisi sosial masyarakat  pada saat itu.

Nabi dan para sahabat pada masa itu melaksanakan shalat dengan memakai sandal adalah karena masjid-masjid pada masa itu tidak di keramik ataupun karpet seperti pada masjid-masjid dimasa sekarang ini. Pada zaman nabi itu lantainya adalah krikil atau pasir,atau juga karna pasir atau kerikil itu sangat panas pada masa tertentu ataupun sangat dingin pada masa tertentu yang mengharuskan menggunakan alas kaki berupa sandal.

BACA JUGA  Hari Batik Nasional, 12 Tahun Sudah Mendapat Pengakuan Unesco

Apakah masih memungkinkah memahami hadis tanpa persfektif sosiologis? Kita selaku manusia yang hidup pada masa sekarang ini harus melihat bagaimana kondisi sosial masyarakat pada zaman dahulu agar kita tidak salah dalam memahami hadis dan juga tidak menyalah-nyalahkan orang lain karna kita hanya melihat hadis dari segi tekstual saja.

Facebook Comments

Iklan
Artikulli paraprakJaringan Gerai “Hot Dog” Wienerschnitzel Mencari Mitra di Seluruh Dunia
Artikulli tjetërInilah Daftar Nama Bayi Laki-Laki Islami Bernuansa Al-Qur’an