Beranda HUKUM Gunung Antang Kawasan Prostitusi Kelas Bawah yang Selalu Bikin Resah

Gunung Antang Kawasan Prostitusi Kelas Bawah yang Selalu Bikin Resah

Prostitusi
Illustrasi
Kawasan prostitusi kelas bawah, Gunung Antang, baru saja mendapat sorotan publik. Terkait terjadinya kasus pengeroyokan yang mengakibatkan tewasnya Sugito (45). Dua orang pelaku berhasil ditangkap aparat, sedangkan empat pelaku lainnya masih dalam pengejaran polisi.

Kawasan prostitusi Gunung Antang yang berlokasi di area RW 09, Kelurahan Palmeriam dan berada di pinggir rel kereta Bekasi – Manggarai itu menjadi salah satu lokalisasi liar yang hingga kini masih bertahan.

Meski di tengah situasi pandemi, kehidupan malam di lokasi ini masih saja menggeliat, memang tidak seperti biasanya. Hingar-bingar musik yang sebelumnya nyaris memekakkan telinga tak lagi menonjol seperti dulu.

Tapi, para wanita penjaja cinta sesaat itu masih bebas berkeliaran mencari mangsa di tengah para pria hidung belang yang melampiaskan gairahnya di Kawasan itu. Sementara, terlihat deretan bilik tertutup seng serta terbuat dari triplek terpampang di sana.

Bilik yang dibuat seadanya itu menjadi tempat para pekerja seks komersial (PSK) mengais rejeki. Entah berapa pria yang telah dimangsanya dalam semalam, barangkali hanya dia yang tahu.

Pada siang hari, kondisi tempat ini tampak sepi. Namun pada saat malam tiba atau sekitar pukul 20.00 WIB, aktivitas di kawasan tersebut mulai terlihat. Baik dari yang berdagang makanan dan minuman maupun penjaja hubungan seks mulai berkeliaran.

Selama pandemi berlangsung terutama saat kasus sedang melonjak, sempat ada pembatasan di kawasan itu. Hal tersebut ditandai dengan tak adanya suara musik yang biasa disetel guna meramaikan suasana di kawasan itu.

Biasanya musik yang berasal dari warung-warung di sekitar lokasi prostitusi bisa terdengar hingga Pasar Palmeriam, yang berada di Jalan Pal Meriam, RT 13/8, Kelurahan Palmeriam, Jakarta Timur. Suara musik tersebut sangat kencang dan menganggu kenyamanan warga sekitar.

BACA JUGA  Petani di Pesisir Selatan Diduga Cabuli Anak Berkebutuhan Khusus di Ladang Sawit

Hal itu susah dilarang, suara musiknya terdengan sampai Pasar Pal Meriam. Sebelum pandemi banyak yang datang, cuma selama pandemi yang datang dibatasi.

Aktivitas prostitusi di kawasan itu sangat menganggu dan meresahkan warga sekitar, namun lantaran takut adanya gesekan atau konflik di biarkan, prinsipnya “asal jangan ganggu”. Warga sekitar juga takut adanya gesekan, sehingga terpaksa menahan diri seolah merasa tak terganggu.

Facebook Comments

Artikel sebelumyaNanda Adi Surya, Entrepreneur Sukses Yang Buka Beauty Salon Sendiri
Artikel berikutnya“Merakit” Ciptaan Yura Yunita Jadi Official Soundtrack Film Nussa