Program Makan Gratis yang Dikampanyekan Prabowo Dinilai Tidak Realistis

- Advertisement -
Program makan gratis yang dikampanyekan Prabowo Subianto apabila terpilih menjadi Presiden di Pilpres 2024 mendapat kiritikan dari pengamat ekonomi Andhika Nurwin Maulana.

Menurut Andhika, dari pada program makan gratis, sebenarnya kebutuhan infrastruktur pendukung untuk pendidikan lebih dibutuhkan para siswa dibandingkan dengan makan siang yang tidak realistis

Hal itu disampaikan Andhika saat menanggapi pernyataan Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Hashim Djojohadikusumo yang membeberkan sejumlah program yang akan dijalankan Prabowo Subianto jika terpilih menjadi presiden di 2024.

“Kebutuhan infrastruktur pendukung untuk pendidikan lebih dibutuhkan oleh para siswa,” kata Andhika, Senin (11/9/2023).

Sebelumnya, Hasyim menyebutkan salah satu program yang akan dijalankan Prabowo adalah memberi makanan gratis setiap hari kepada pelajar, siswa prasekolah, hingga ibu hamil agar mendapat gizi yang seimbang.

Dia menyampaikan untuk merealisasikan program tersebut dibutuhkan anggaran Rp 400 triliun per tahun. Terkait hal tersebut, Andhika menilai anggaran tersebut terlalu besar.

“Penggunaan dana yang sangat besar akan mengorbankan anggaran untuk program dan sektor lainnya yang lebih prioritas,” jelas Andhika.

Dia mengatakan, anggaran pendidikan masih dibutuhkan untuk sebaran sarana pendidikan, karena masih banyak daerah lain yang kekurangan infrastruktur pendidikan.

“Alokasi anggaran pendidikan masih sangat dibutuhkan untuk sebaran sarana pendidikan. Penggunaan anggaran yang sangat besar (Rp 400 triliun) sebenarnya bisa dialokasikan ke program lain seperti penambahan jumlah fasilitas pendidikan,” jelasnya.

Menurut Andhika kebutuhan penambahan fasilitas pendidikan masih tinggi, terutama masyarakat tidak mampu yang tinggalnya di daerah padat penduduk.

Di daerah padat penduduk tersebut masih sangat terbatas jumlah sarana pendidikannya sehingga banyak anak tersebut akhirnya putus sekolah karena mereka tidak masuk ke dalam kuota maksimal di sekolah.

Andhika menjelaskan jika masih banyak kondisi sarana fasilitas pendidikan sekolah yang memprihatinkan dan perlu untuk dijadikan sebagai prioritas.

“Kebutuhan yang lebih penting, yaitu fasilitas pendidikan sekolah yang masyarakatnya tinggal di daerah terpencil. Wilayah geografis Indonesia terbentang dengan banyak pulau dan pegunungan, sehingga sebaran jumlah fasilitas pendidikan juga harus mencapai daerah-daerah tersebut,” pungkasnya.

Trending Topic

Subscribe
Notify of

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Iklan

Hot News

Game

PENTING UNTUK DIBACA