Beranda HUKUM KORUPTOR Sosok Hasnaeni Wanita Emas: Gagal Jadi Caleg-Cagub DKI hingga Tersangka Korupsi

Sosok Hasnaeni Wanita Emas: Gagal Jadi Caleg-Cagub DKI hingga Tersangka Korupsi

Hasnaeni
Foto: Liputan6
Hasnaeni yang dikenal sebagai ‘Wanita Emas‘ ditetapkan oleh Kejaksaan Agung sebagai tersangka kasus dugaan korupsi. Proses hukum terhadap Hasnaeni sempat diwarnai drama.

Hasnaeni langsung ditahan usai diumumkan sebagai tersangka oleh Kejaksaan Agung pada Kamis (22/9) kemarin. Ia ditangkap secara paksa saat sedang berada di Rumah Sakit MMC, Kuningan, Jakarta Selatan.

Hasnaeni yang duduk di kursi roda sambil diborgol, histeris saat akan dimasukkan ke dalam mobil tahanan. Ia tampak berontak dan terus berteriak.

Hasnaeni

Lantas siapa sebenarnya Hasnaeni?

Nama lengkapnya adalah Mischa Hasnaeni Moein. Perempuan kelahiran Makassar 17 Juli 1976 ini adalah anak dari eks politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Max Moein.

Max pernah menjadi Anggota DPR RI selama dua periode, 1999-2004, dan 2004-2009. Ia dicalonkan PDIP dari Daerah Pemilihan Kalimantan Barat. Pada 2008, foto syur Max sambil memeluk seorang perempuan tersebar, ia mengakui itu dirinya.

Hasnaeni menjuluki diri sebagai Wanita Emas dimulai sejak ia berniat maju sebagai Calon Wali Kota Tangerang Selatan bersama Saipul Jamil pada 2010.

Dikutip dari kumparan, Hasnaeni menyebut Emas sebagai singkatan dari Era Masyarakat Sejahtera. Menurutnya Emas adalah simbol kesejahteraan.

Ia menyebut julukan Wanita Emas sebagai harapan dirinya agar menjadi perempuan yang bisa membawa kesejahteraan bagi masyarakat luas.

Pada 2012, ia mengajukan diri sebagai Calon Gubernur DKI Jakarta tapi gagal. Saat itu, iklannya banyak bertebaran di Kopaja dan Metro Mini dengan jargon “Wanita Emas Mengubah Sampah Menjadi Emas.”

Pada Pemilihan Legislatif 2014, ia mengajukan diri sebagai Calon Anggota DPR RI dari Partai Demokrat dengan Daerah Pemilihan DKI 2. Ia kembali gagal melenggang ke Senayan.

BACA JUGA  Keterlibatan Mahyeldi dalam Kasus Dugaan Korupsi KONI Kota Padang Dibongkar

Pada Pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2017, Hasnaeni berambisi ingin menjadi calon gubernur dan meminta dukungan dari sejumlah partai, seperti Demokrat, Golkar, PKB, dan PDIP.

Saat itu, Hasnaeni merupakan salah satu kader Partai Demokrat. Ia sempat diseleksi oleh sejumlah partai tersebut, namun pada akhirnya gagal menjadi cagub. Demokrat mengusung Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Sylviana Murni sebagai pasangan cagub dan cawagub.

Menurut Hasnaeni, Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) lebih memilih anggota keluarganya ketimbang melihat perjuangan kadernya.

Ia akhirnya keluar dari partai berlambang mercy itu dan membentuk partai dengan nama Partai Era Masyarakat Sejahtera (Emas). Di Partai Emas, Hasnaeni menjabat sebagai ketua umum.

Dalam kisruh Partai Demokrat pada Februari 2020, Ketua Dewan Pembina Partai Emas yang juga mantan politisi senior Demokrat Max Sopacua, hengkang dari Partai Emas. Max hanya bertahan sebentar di Partai Emas. Saat itu ia mengaku kembali ke Demokrat untuk menyelenggarakan Kongres Luar Biasa (KLB) melengserkan AHY dari kursi Ketum Demokrat.

Ia menegaskan kesiapannya menjadi Ketua Umum Demokrat menggantikan AHY. Ia mengatakan apabila diberikan amanah, dirinya yang pernah 10 tahun sebagai Demokrat siap memajukan partai dan juga para kadernya.

Pada 14 Agustus 2022, ia datang ke Komisi Pemilihan Umum (KPU). Tak lagi sebagai Ketum Partai Emas, ia datang sebagai Ketua Umum Partai Republik Satu untuk melakukan pendaftaran partai politik calon peserta Pemilu 2024.

Kini ia harus berurusan dengan hukum. Ia dijerat sebagai tersangka dugaan tindak pidana korupsi dalam penyimpangan dan atau penyelewengan dalam penggunaan dana PT. Waskita Beton Precast, Tbk. tahun 2016-2020.

Ia termasuk satu dari 7 tersangka dalam kasus itu. Hasnaeni dijerat selaku Direktur Utama PT Misi Mulia Metrical.

BACA JUGA  Kantor Azis Syamsuddin Digeledah, Terkait Kasus Suap penyidik KPK

Kasus ini disebut menimbulkan kerugian negara sebesar Rp 2.583.278.721.001. Atas perbuatannya, para tersangka disangkakan Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 3 jo. Pasal 18 UU Tipikor juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Facebook Comments

Artikulli paraprak5 Manfaat Bawang Putih Untuk Kesehatan Anda
Artikulli tjetërAirlangga: Konversi LPG 3 Kg ke Kompor Listrik Tak Diterapkan Tahun Ini