Beranda PERISTIWA Dentuman Keras Kembali Kagetkan Warga Sukabumi

Dentuman Keras Kembali Kagetkan Warga Sukabumi

Dentuman
Dentuman keras kembali terjadi di Sukabumi, bunyi yang begitu kuat itu membuat sebagian warga keluar rumah. Dentuman yang terdengar sekitar pukul 13.00 WIB itu menggelegar selama beberapa detik.

Sumber bunyi dentuman itu dari arah barat dan membuat jendela warga bergetar. Peristiwa ini terjadi di Dusun Ciherang, Desa Cijangkar, Kecamatan Nyalindung, Sukabumi, Jawa Barat pada Senin (8/2/2021).

Tempat tersebut merupakan lokasi bencana tanah bergerak. Bhabinkamtibmas Desa Cijangkar Bripka Muldani membenarkan bahwa terjadi getaran yang begitu kuat di Kampung Ciherang sekitar pukul 13.00 WIB.

Setelah dicek, bunyi itu ternyata berasal dari ledakan di lokasi tambang batu di wilayah Desa Neglasari, Kecamatan Nyalindung.

“Sudah saya klarifikasi kepada petugas peledakan, dan membenarkan ada peledakan pukul 13.00 WIB,” ujar Muldani yang sedang bertugas di lokasi bencana.

Dentuman ini bukanlah yang pertama kali terdengar. Pada Sabtu (30/1/2021) lalu, warga yang tinggal di kaki perbukitan Gunung Beser itu juga mendengar dentuman.

Bunyi yang disertai gemuruh dan getaran itu terjadi selepas hujan mengguyur sejak sore hingga malam. Kejadian tersebut bahkan sempat terdeteksi oleh sensor gempa Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

“Hasil monitoring BMKG terhadap beberapa sensor seismik di wilayah Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat menunjukkan adanya anomali gelombang seismik saat warga melaporkan suara gemuruh yang disertai bunyi dentuman,” terang Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG Daryono, Minggu (31/1/2021).

Dia menjelaskan rekaman seismik tersebut tampak sangat jelas dan berlangsung cukup singkat hanya selama 7 detik, yakni pada 19.00.36 WIB hingga 19.00.43 WIB

Anomali seismik ini terlihat sebagai gelombang frekuensi rendah (low frequency). Sekilas bentuk gelombangnya (waveform) menyerupai rekaman longsoran atau gerakan tanah.

“Fenomena alam gerakan tanah memang lazim menimbulkan suara gemuruh bahkan dentuman yang dapat didengar warga di sekitarnya,” tutur Daryono.

Menurutnya, peristiwa itu diduga terjadi karena adanya proses gerakan tanah yang cukup kuat, hingga terekam di sensor gempa milik BMKG.

Daryono menyampaikan untuk memverifikasi kejadian tersebut tampaknya perlu dilakukan survei lapangan.

Ini bertujuan untuk mencari tahu apakah ada rekahan di permukaan akibat gerakan tanah tersebut.

“Jika tidak ditemukan, maka besar kemungkinan proses gerakan tanah terjadi di bawah permukaan tanah,” pungkasnya.