Beranda INFO SEHAT Jadi Korban KDRT? Ini 8 Faktor yang Sering Menjadi Pemicunya

Jadi Korban KDRT? Ini 8 Faktor yang Sering Menjadi Pemicunya

KDRT
Foto: ibupedia
Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) bisa dipicu oleh berbagai faktor. Mulai dari finansial, budaya, hingga individu itu sendiri.

Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) digambarkan sebagai perbuatan negatif terhadap anggota keluarga sehingga menimbulkan penderitaan fisik, seksual, psikologis dan ekonomi. Meski bisa menimpa anak, orang tua dan anggota keluarga lainnya, persoalan ini sering terjadi pada pasangan, baik istri maupun suami.

Ada banyak faktor yang melatarbelakangi KDRT. Perselingkuhan adalah satu diantara lainnya. Masalah mencuat ketika seseorang percaya bahwa pasangannya berselingkuh dan menganggap kekerasan sebagai solusinya. Beberapa faktor pemicu lainnya, yaitu:

  1. Masalah mental

Kecemasan, depresi, ketergantungan obat, gangguan kepribadian antisosial, dan skizofrenia bisa membuat hubungan keluarga tidak stabil. Jika tidak segera ditangani, kekerasan terhadap anggota keluarga bisa menjadi konsekuensinya.

  1. Kemiskinan dan pengangguran

Masalah finansial tentu amat mempengaruhi kesejahteraan sebuah rumah tangga. Hal ini lah yang bisa menjadi pencetus utama terjadinya KDRT. Memprihatinkannya lagi, korban kekerasan seringkali tidak memiliki sarana untuk melarikan diri dari situasi tersebut.

  1. Pendidikan

Di seluruh dunia, pendidikan bisa membuat perbedaan besar dalam tingkat KDRT. Hal tersebut berkaitan dengan pengambilan keputusan dalam aspek-aspek berumah tangga. Mereka yang berpendidikan rendah cenderung membuat keputusan-keputusan yang kurang matang dan kurang mampu mengendalikan emosi.

  1. Menikah di usia muda

Individu yang menikah di usia muda cenderung belum punya keterampilan yang mumpuni dalam mengasuh anak. Akibatnya, mereka rentan mengalami agresi, amarah, frustrasi hingga depresi.

  1. Perilaku retensi dalam suatu hubungan

Salah satu penyebab terjadinya KDRT adalah proses pemikiran bahwa kekerasan dapat membantu menyelamatkan perkawinan. Banyak pasangan melakukan KDRT karena mereka pikir ini adalah satu-satunya cara untuk mempertahankan pasangannya.

  1. Faktor budaya
BACA JUGA  Sering Makan Gorengan Bisa Menyebabkan Panas Dalam, Apakah Benar?

Ketika dua orang dari budaya yang berbeda memutuskan untuk menikah, mereka seringkali abai untuk mengenal budaya satu sama lain. Awalnya mungkin tampak menarik, tetapi seiring waktu, perbedaan ini bisa memicu KDRT. Budaya suami mungkin tampak tepat dan dihargai di tempatnya. Namun, di tempat lain, budaya tersebut bisa terasa menyimpang.

  1. Pembelaan diri

Tak sedikit seseorang yang menggunakan kekerasan sebagai tanggapan atas pelecehan dari pasangannya. Artinya, jika satu pasangan menggunakan segala bentuk kekerasan, yang lain dapat mencerminkan hal yang sama. Menggunakan kekerasan hanya dapat dibenarkan ketika pasangan tidak memiliki cara lain untuk membela diri.

  1. Alkoholisme

Penggunaan alkohol dan obat-obatan juga dapat menyebabkan terjadinya dan KDRT. Bahkaan, sebagian besar KDRT disebabkan oleh masalah alkoholisme. Pasalnya, pengaruh alkohol bisa mengubah perilaku, membuat suasana hati tidak stabil, sulit berkonsentrasi hingga sukar menilai suatu keadaan.

Jenis-Jenis Tindakan KDRT

Kekerasan dalam rumah tangga dapat terjadi dalam berbagai bentuk, seperti:

  • Kekerasan seksual seperti pemerkosaan, perilaku yang merendahkan, perselingkuhan, atau eksploitasi.
  • Isolasi anggota keluarga, seperti melarang bertemu keluarga, teman, atau menghadiri acara sosial.
  • Kekerasan fisik seperti menendang, memukul, menyundut, melakukan percobaan pembunuhan atau pembunuhan
  • Menghilangkan kebebasan dengan mengendalikan pilihan anggota keluarga
  • Kekerasan psikis yang mengakibatkan ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak, rasa tidak berdaya hingga penderitaan psikologis.
  • Pasangan mengendalikan penuh atas pengeluaran dan pendapatan atau menghambur-hamburkan uang untuk hal-hal yang tidak penting.
  • Kekerasan verbal seperti menggunakan kata-kata untuk mengancam, menyalahkan atau merendahkan anggota keluarga.

Facebook Comments

Artikulli paraprakHarga Pertamax Turun, Pertalite Tetap Rp 10.000
Artikulli tjetërSistem Error, Saldo Bank Warga Tuban Ini Mendadak Jadi Rp 14 Triliun